Peran BSKDN Kemendagri dalam Mengatasi Inflasi Melalui Pertanian Mandiri

Senin, 24 Juni 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JABAROKENEWS.COM – Jakarta, Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) mengajak masyarakat untuk turut berkontribusi mencegah lonjakan inflasi dengan menanam bahan pangan secara mandiri. Pertanian dengan konsep mandiri tersebut merupakan kunci utama dalam menjaga ketahanan pangan dan mengurangi ketergantungan pada impor, yang kerap menjadi pemicu kenaikan harga hingga berujung inflasi.

Dalam sambutannya, Kepala Pusat Strategi Kebijakan Pembangunan, Keuangan Daerah dan Desa Andi Muhammad Yusuf melihat pertanian mandiri menjadi langkah sederhana yang ke depannya dapat dikembangkan secara lebih luas. Dengan begitu, setidaknya suplai bahan pangan akan terpenuhi dan inflasi akan lebih melandai.

“Memberikan edukasi kepada masyarakat, menyikapi apa-apa yang harus kita persiapkan terutama yang disampaikan menanam cabai, menanam sayuran minimal untuk konsumsi rumah tangga itu harus kita lakukan. Nanti kita bisa survive dan bisa kita kembangkan,” ungkap Andi pada Seminar Analisis Strategi Pembangunan Ekonomi Daerah terhadap Laporan Dewan Gubernur Bank Indonesia tentang Kondisi Perekonomian Terkini di Sunlake Waterfront Resort and Convention pada Senin, (24/6/2024).

Dia melanjutkan, permasalahan inflasi harus disikapi secara tegas mengingat dampaknya cukup luas dan mencakup banyak hal. Maka dari itu, upaya untuk menekan angka inflasi juga tidak bisa dilakukan sendiri, melainkan butuh kolaborasi dengan berbagai pihak. Kolaborasi ini bertujuan agar penyelesaian inflasi dapat dilakukan secara cepat, tepat, dan menyeluruh.

“Persoalan inflasi ini memang tidak bisa kita abaikan karena siklusnya sangat luar biasa, minggu ini mungkin kita bisa ada pada posisi yang aman, tapi minggu depannya belum tentu. Untuk itu, masalah inflasi harus kita gencar kontrol di lapangan,” jelas Andi.

Sejalan dengan itu, Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI) Tri Yanuarti mengatakan, selain pertanian mandiri, penyelesaian inflasi juga dapat dilakukan dengan jalan hilirisasi. Selama ini, hilirisasi lebih banyak terkait mineral dan nikel. Kendati berdampak positif terhadap neraca ekspor, hilirisasi tersebut masih bersifat high tech. Tri berharap ke depan hilirisasi juga dapat menyasar pada sektor-sektor inklusif yang banyak menyerap tenaga kerja, seperti sektor pertanian atau sektor lainnya yang berkaitan dengan pangan.

“Beberapa produk yang kita dorong hilirisasinya jangka pendek ada tiga yakni beras, cabai, bawang supaya ke depan suplainya juga cukup bagus sehingga inflasinya cukup terkendali,” ungkap Tri, Selasa, (25/6/202) di Sunlake Waterfront Resort and Convention.

Sementara itu, Kepala Kajian Keuangan Publik dan Perencanaan Pembangunan LPEM FEB UI Khoirunurrofik mengatakan inflasi memerlukan penanganan yang berbeda tergantung pada penyebabnya. Untuk itu, pemerintah daerah perlu memahami determinan atau faktor penentu inflasi baik dari sisi supply maupun demand.

“Dengan memahami determinan faktor ini saya kira [penanganan inflasi] bisa lebih spesifik sehingga kita lebih mudah bagaimana channeling dari strategi-strategi yang disampaikan tadi, dan lebih bisa mengklaster mana saja yang termasuk [faktor] supply dan demand,” jelasnya.

Di lain pihak, peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Maxensius Tri Sambodo mengatakan, daerah perlu melakukan transformasi ekonomi dengan mengembangkan sumber daya alam pertanian yang regeneratif atau berkelanjutan. Dia menyebut, sama dengan sumber daya tidak terbarukan yang perlu dikelola dengan baik, pertanian juga perlu dikembangkan secara optimal dengan pengetahuan dan teknologi terbaik.

“Menghilirasi atau upaya meningkatkan nilai tambah dan nilai tambah ini tentu tidak semata-mata pada sumber daya tidak terbarukan seperti mineral, tambang,” pungkasnya.(Wan)

Sumber: Puspen Kemendagri

Berita Terkait

Menaker Kunjungi Peserta TIH, Dorong Produk Unggulan Naik Kelas
Program Gentengisasi, Mendagri dan Menteri PKP Lepas 125 Truk dari Purwakarta
Tinjau BSPS di Purwakarta, Mendagri Tito Pastikan Program Berjalan Tepat Sasaran
Di Purwakarta, Mendagri Ngariung dan Santap Nasi Liwet Bersama Sopir Truk Genteng
Hari Pertama Tayang, “Warga Rusun 609” Tuai Respons Positif Penonton
Wamendagri Bima Arya Soroti Kebutuhan Alat Berat dan Personel untuk Penanganan Banjir Solok
Gloria Jessica dan Ade Govinda Rilis Album Perdana “Blue.” Setelah Delapan Tahun
Afriansyah Noor: Sukses Pemagangan Luar Negeri Tak Cukup Diukur dari Jumlah Peserta

Berita Terkait

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 09:14 WIB

Menaker Kunjungi Peserta TIH, Dorong Produk Unggulan Naik Kelas

Jumat, 2 Oktober 2026 - 21:30 WIB

Program Gentengisasi, Mendagri dan Menteri PKP Lepas 125 Truk dari Purwakarta

Jumat, 2 Oktober 2026 - 20:56 WIB

Tinjau BSPS di Purwakarta, Mendagri Tito Pastikan Program Berjalan Tepat Sasaran

Jumat, 2 Oktober 2026 - 19:21 WIB

Di Purwakarta, Mendagri Ngariung dan Santap Nasi Liwet Bersama Sopir Truk Genteng

Jumat, 2 Oktober 2026 - 18:16 WIB

Hari Pertama Tayang, “Warga Rusun 609” Tuai Respons Positif Penonton

Berita Terbaru