Kotabaru Heritage Film Festival 2026, Tiga Kategori Film Warisan Budaya Rebut Gelar Juara

Minggu, 20 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JABAROKENEWS.COM, YOGYAKARTA — Kotabaru Heritage Film Festival (KHFF) 2026 memasuki rangkaian penting melalui agenda awarding yang mengumumkan para pemenang dari tiga kategori kompetisi, yakni Purwaseswa, Karyanagri, dan Mahaditya.

Pengumuman penghargaan tersebut disampaikan dalam rangkaian KHFF 2026 di Artotel Suites Bianti Yogyakarta, Sabtu (19/9/2026). Ketiga kategori tersebut menghadirkan film-film yang mengeksplorasi warisan budaya dari berbagai daerah di Indonesia melalui perspektif pelajar, komunitas, maupun sineas independen.

Dalam kategori Purwaseswa, yang berfokus pada film bermuatan warisan budaya karya pelajar Indonesia, Dewan Juri menilai film tidak hanya berdasarkan banyaknya tradisi yang ditampilkan, tetapi juga bagaimana karya tersebut menyusun gagasan, merekam pengetahuan, serta membuka kemungkinan menjadi arsip bagi generasi mendatang.

Juri KHFF 2026, Nisa Fitriani, mengatakan karya-karya yang masuk memperlihatkan beragam cara dalam memandang dan menghadirkan warisan budaya.

“Yang lebih penting adalah bagaimana film menyusun gagasan, mengamati kehidupan, merekam pengetahuan, serta membuka kemungkinan bagi suatu karya untuk berfungsi sebagai arsip yang dapat dibaca kembali oleh generasi mendatang,” ujar Nisa saat membacakan penghargaan.

Untuk kategori Purwaseswa, Juri Special Mention Purwasewa Award diberikan kepada film TUWUHÈ RARÈ (Anak yang Bertumbun) dari Gede Dika Dheva Arladi dari Denpasar, Bali.

Penghargaan tersebut diberikan atas kekuatan visual dalam merekam proses transmisi nilai antargenerasi melalui sinematografi, penataan blocking, dan pengamatan terhadap relasi karakter.

Sementara itu, Silver Purwaseswa Award diberikan kepada film Serada karya Septiani Putri dari Kebumen, Jawa Tengah. Film tersebut dinilai mampu menghadirkan relasi antara tradisi Jawa Tengah dan Islam dengan tetap mempertahankan pengetahuan serta praktik budaya yang menjadi bagian dari masyarakat.

Adapun Golden Purwasewa Award diraih film Mupusti: Melestarikan dan Merawat Bukan Menyembah karya Ilya Fathimah Taqiyya dari Bandung, Jawa Barat

Film tersebut dinilai mampu menyusun persoalan pelestarian tradisi secara utuh dan konkret, termasuk memperlihatkan bagaimana tradisi berhadapan dengan stigma sekaligus menemukan cara baru untuk terus hidup melalui keterlibatan generasi muda.

Beralih ke kategori Karyanagri, kompetisi ini menghadirkan karya film yang mengeksplorasi warisan budaya melalui komunitas serta relasi sosial yang berkembang di tengah masyarakat.

Juri Karyanagri, M. Zamzam Fauzanafi, menilai warisan budaya tidak selalu hadir dalam hubungan langsung dengan negara atau pemerintah. Sebagian warisan justru bertahan melalui komunitas, relasi antargenerasi, negosiasi sosial, serta kemampuan masyarakat merawat perbedaan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam kategori ini, Juri Special Mention Karyanagri Award diberikan kepada film Khatib Gantarang Lalang Bata karya Zhaddam A.Nurdin dari Makassar, Sulawesi Selatan.

Penghargaan tersebut diberikan atas kekuatan audio dan suara yang menjadi bagian penting dalam membawa penonton mengalami tradisi Islam serta praktik berkomunitas di Sulawesi Selatan.

Kemudian, Silver Karyanagri Award diberikan kepada film Mateos Anin karya Gilang Akbar dari Banyumas, Jawa Tengah.

Film tersebut mendapat apresiasi atas kekuatan visual dan kedalaman dalam menghadirkan pengetahuan warisan budaya komunitas. Karya ini juga memperlihatkan relasi manusia dengan alam serta proses akulturasi antara tradisi lokal dan Katolik.

Sementara Golden Karyanagri Award diberikan kepada film Bong karya sineas dari kategori masyarakat umum.

Film tersebut dinilai mampu menghadirkan kompleksitas kehidupan masyarakat melalui pertemuan ruang tinggal dan makam. Pemanfaatan lokasi nyata di kawasan pemakaman Tionghoa membuat film mampu membangun karakter dan kehidupan secara organik tanpa bergantung pada penjelasan verbal.

Selanjutnya, kategori Mahaditya menjadi ruang bagi suara-suara independen dalam menyajikan narasi warisan budaya melalui bahasa sinema.

Juri Mahaditya, Imam Karyadi, mengatakan kategori tersebut membawa semangat demokratisasi sudut pandang dengan menggarisbawahi keunikan, kesegaran, dan kedaulatan pencipta dalam membaca heritage.

Juri Special Mention Mahaditya Award diberikan kepada film Hope karya Angel Ching dari Yogyakarta.

Film tersebut mendapat penghargaan atas keberaniannya menghadirkan keragaman identitas dan keyakinan melalui drama keluarga. Hope dinilai mampu menunjukkan bagaimana tradisi tidak hanya menjadi latar cerita, tetapi turut membentuk konflik dan resolusi.

Untuk Silver Mahaditya Award, penghargaan diberikan kepada film Naijan On
Hai Aina karya Wisnu Febri Wardana dari Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur.

Film ini mengangkat upaya masyarakat Molo dalam mempertahankan pengetahuan lokal dan warisan budaya di tengah ancaman pariwisata, pertambangan, serta perubahan ekologis.

Sedangkan Golden Mahaditya Award diraih film Niat Ingsun Ngaji karya Sri Rahmawati dari Cilacap, Jawa Tengah.

Film tersebut dinilai berhasil menghadirkan pesantren sebagai ruang pendidikan, kebudayaan, dan kehidupan sosial yang terus berkembang. Karya ini memperlihatkan dialog antara Islam, seni, sastra, tradisi lokal, dan praktik pendidikan.

Rangkaian penghargaan KHFF 2026 tersebut sekaligus memperlihatkan keberagaman perspektif sineas dalam menerjemahkan konsep living heritage ke dalam karya audiovisual.

Melalui tiga kategori kompetisi, warisan budaya tidak hanya ditampilkan sebagai sesuatu yang berasal dari masa lalu, tetapi juga sebagai praktik yang terus dirawat, diwariskan, dipertanyakan, dan dimaknai kembali oleh generasi masa kini. (Aga)

Berita Terkait

Kasus Keracunan MBG di Dlingo: BGN DIY Beri Teguran Keras Usai Oknum Petugas Cemooh Korban
Video Pegawai SPPG Muntuk Diduga Olok Korban Keracunan MBG Viral, JPW Bereaksi
Usai Video Dugaan Pungutan Viral, Ulasan Bintang Satu Bermunculan di Google Maps Bolosego
Kodim Wonosobo Sapa Warga Lewat Bakti Sosial, Donor Darah, dan Pembagian Sembako
Lewat PETUNRA 2026, Diskominfo Sleman Dorong KIM Kemasan Informasi Publik Lebih Kreatif
Tutup FKY 2026, Paku Alam X Dorong Generasi Muda Jaga Keberlanjutan Kebudayaan Yogyakarta
Kotabaru Heritage Film Festival 2026, Ruang Apresiasi Film dan Warisan Budaya Nusantara
Policy Brief PDPM Yogyakarta Dorong Toleransi Lewat Gagasan Kebijakan Publik

Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 09:27 WIB

Kasus Keracunan MBG di Dlingo: BGN DIY Beri Teguran Keras Usai Oknum Petugas Cemooh Korban

Minggu, 20 September 2026 - 20:00 WIB

Video Pegawai SPPG Muntuk Diduga Olok Korban Keracunan MBG Viral, JPW Bereaksi

Minggu, 20 September 2026 - 20:00 WIB

Kodim Wonosobo Sapa Warga Lewat Bakti Sosial, Donor Darah, dan Pembagian Sembako

Minggu, 20 September 2026 - 20:00 WIB

Lewat PETUNRA 2026, Diskominfo Sleman Dorong KIM Kemasan Informasi Publik Lebih Kreatif

Minggu, 20 September 2026 - 20:00 WIB

Tutup FKY 2026, Paku Alam X Dorong Generasi Muda Jaga Keberlanjutan Kebudayaan Yogyakarta

Berita Terbaru