JABAROKENEWS.COM, Yogyakarta – Pernah merasakan denyut jantung semakin cepat ketika berlari dalam waktu lama, padahal kecepatan relatif tetap sama? Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan cardiac drift, yakni peningkatan denyut jantung secara bertahap selama olahraga berkepanjangan meskipun intensitas atau pace relatif tidak berubah.
Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (FKIK UMY) sekaligus spesialis jantung, dr. Gagah Buana Putra, M.Sc., Sp.JP., menjelaskan bahwa cardiac drift dalam batas tertentu merupakan respons fisiologis normal tubuh terhadap aktivitas fisik yang berlangsung cukup lama.
“Semakin lama kita berolahraga, ada perubahan fisiologi tubuh yang mulai menghadapi beberapa tantangan. Suhu tubuh meningkat, kita mulai berkeringat dan kehilangan cairan,” jelas dr. Gagah dalam wawancara daring pada Sabtu (26/9/2026).
Menurutnya, peningkatan suhu tubuh dan kehilangan cairan dapat menurunkan volume darah yang beredar. Di sisi lain, otot tetap membutuhkan pasokan darah dan oksigen. Untuk mempertahankan kebutuhan tersebut, jantung kemudian meningkatkan frekuensi denyutnya.
Sebagai contoh, seseorang yang berlari dengan pace yang sama dapat memiliki denyut jantung 130 kali per menit pada awal latihan, kemudian meningkat menjadi 140–150 kali per menit setelah 30–40 menit. Kondisi tersebut tidak selalu berarti jantung mengalami gangguan.
“Yang tadinya cukup dengan memompa 130 kali per menit, sekarang harus 140–150 kali per menit untuk memenuhi kebutuhan tubuh tadi. Nah, itu yang kita sebut cardiac drift,” ungkapnya.
Dipengaruhi Suhu, Dehidrasi, Durasi, dan Kelelahan
dr. Gagah mengatakan cardiac drift lebih mudah terlihat pada olahraga berdurasi panjang, seperti lari jarak jauh, maraton, dan bersepeda. Selain peningkatan suhu dan kehilangan cairan, durasi, intensitas latihan, serta kelelahan turut memengaruhi fenomena tersebut.
Ketika tubuh semakin panas, lebih banyak darah dialirkan ke kulit untuk membantu pelepasan panas. Pada saat yang sama, otot tetap membutuhkan suplai darah untuk mempertahankan aktivitas. Kelelahan juga membuat upaya mempertahankan pace yang sama terasa lebih berat.
“Walaupun dari luar kecepatannya tampak sama, beban yang dirasakan tubuh sebenarnya sudah lebih tinggi,” kata dr. Gagah.
Meski demikian, masyarakat perlu membedakan cardiac drift yang normal dengan tanda yang memerlukan perhatian. Denyut jantung yang meningkat disertai tubuh sangat lemas, pusing, rasa haus berlebihan, atau kesulitan mempertahankan aktivitas dapat menunjukkan tubuh mulai kewalahan.
Sementara itu, nyeri dada, pingsan, sesak napas berat, atau jantung berdebar sangat cepat dan mengganggu tidak sebaiknya dianggap sebagai cardiac drift biasa.
“Kalau muncul nyeri dada, pingsan, sesak napas berat, atau jantung berdebar tidak karuan yang sangat cepat dan mengganggu, maka itu tidak boleh dianggap sekadar cardiac drift biasa,” tegasnya.
Jika gejala tersebut muncul saat berolahraga, latihan perlu dihentikan. Evaluasi lebih lanjut juga diperlukan untuk mengetahui kemungkinan kondisi lain, termasuk gangguan irama jantung atau masalah jantung yang dipicu aktivitas.
Latihan Membuat Tubuh Lebih Efisien
dr. Gagah menegaskan bahwa latihan rutin tidak bertujuan menghilangkan cardiac drift sepenuhnya. Latihan yang terukur justru membantu tubuh beradaptasi sehingga lebih efisien menghadapi beban aktivitas.
Pada individu yang terlatih, jantung dapat memompa lebih banyak darah dalam setiap denyut. Dengan demikian, pada beban latihan yang sama, peningkatan frekuensi denyut jantung dapat lebih terkendali. Adaptasi juga terjadi pada otot, paru-paru, pengaturan suhu, dan kemampuan tubuh mempertahankan cairan.
“Yang kita latih bukan supaya cardiac drift hilang sama sekali. Itu tidak mungkin. Yang kita harapkan adalah tubuh menjadi lebih efisien,” jelasnya.
Perubahan cardiac drift juga dapat menjadi salah satu indikator tambahan perkembangan kebugaran. Jika pada pace, durasi, dan kondisi latihan yang relatif sama denyut jantung menjadi lebih stabil setelah beberapa minggu latihan, hal tersebut dapat menunjukkan adanya adaptasi tubuh.
Namun, perbandingan perlu dilakukan dalam kondisi yang serupa karena denyut jantung juga dipengaruhi cuaca, hidrasi, kualitas tidur, kelelahan, dan kondisi tubuh pada hari tersebut.
“Cardiac drift sebenarnya cukup berguna sebagai indikator tambahan, tetapi tetap harus dilihat bersama faktor-faktor yang lain, seperti pace, durasi latihan, kondisi tubuh, dan bagaimana seseorang merasakan beban latihan,” ujarnya.
Konsistensi Lebih Penting daripada Latihan Maksimal
Bagi masyarakat yang ingin meningkatkan kebugaran, dr. Gagah menyarankan latihan dilakukan secara bertahap. Durasi, jarak, dan intensitas sebaiknya tidak dinaikkan secara bersamaan.
“Konsisten itu lebih penting,” katanya.
Untuk mengukur intensitas latihan, masyarakat juga tidak harus selalu bergantung pada angka denyut jantung atau smartwatch. Talk test dapat menjadi cara sederhana. Pada intensitas sedang, napas memang lebih cepat, tetapi seseorang masih dapat berbicara. Jika sudah terengah-engah hingga sulit berbicara dengan nyaman, intensitas latihan dapat dikurangi.
Hidrasi juga perlu diperhatikan, terutama ketika olahraga berlangsung lama atau dilakukan dalam kondisi panas. Kebutuhan cairan sebaiknya disesuaikan dengan durasi latihan dan banyaknya keringat yang keluar, tanpa memaksakan konsumsi cairan secara berlebihan.
Selain latihan dan hidrasi, tidur, nutrisi, serta pemulihan merupakan bagian penting dari proses adaptasi tubuh.
“Pemulihan atau recovery itu juga bagian dari latihan, tidak terpisahkan,” tuturnya.
Menurut dr. Gagah, olahraga yang baik tidak selalu berarti latihan hingga batas maksimal. Konsistensi, peningkatan beban secara bertahap, hidrasi, nutrisi, dan pemulihan perlu berjalan seimbang.
“Prinsipnya, latihan yang baik bukan latihan yang selalu sampai batas maksimal, tetapi yang konsisten, dilakukan bertahap, dan memberi kesempatan tubuh untuk recovery,” pungkasnya. (lsi)
Sumber : Humas Umy















