Sambut Hari Batik, 1.001 Pembatik Padati Malioboro

Rabu, 30 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JABAROKENEWS.COM, Jogja – Sebanyak 1.001 pembatik bersiap memenuhi Jalan Malioboro hingga Titik Nol Kilometer Jogja dalam Simfoni 1001 Pembatik, Sabtu (3/10/2026) mendatang sejak pagi nanti bersama.
‎
Kegiatan tersebut digelar untuk memperingati Hari Batik Nasional 2026 sekaligus memeriahkan HUT ke-270 Kota Jogja dengan semangat pelestarian budaya bersama bersama pelaku usaha lokal.
‎
Wakil Ketua Umum Kadin DIY Bidang Kominfodigi Y. Sri Susilo mengatakan kegiatan ini mengenalkan batik sekaligus menumbuhkan minat generasi muda terhadap pembatikan di Malioboro.
‎
Menurut Sri Susilo, Simfoni 1001 Pembatik tidak sekadar menghadirkan ribuan pembatik, tetapi membuka ruang edukasi mengenai proses dan nilai batik sepanjang agenda berlangsung nanti.
‎
Kegiatan tersebut diharapkan membuat masyarakat melihat langsung bahwa batik bukan sekadar kain bermotif, melainkan karya budaya melalui proses penuh ketelitian di ruang publik tersebut.
‎
“Kadin juga punya komitmen mendukung pengembangan UMKM di bidang batik dan mensosialisasikan batik di kalangan anak muda atau masyarakat yang lebih luas,” ujarnya tegas.
‎
Pernyataan itu disampaikan Sri Susilo saat konferensi pers, Selasa (29/9/2026), di D’Senopati Malioboro Grand Hotel, Yogyakarta, menjelang pelaksanaan acara menjelang agenda budaya tersebut ini.
‎
Menurutnya, pengenalan proses membatik menjadi penting karena generasi muda perlu memahami keterampilan, kesabaran, kreativitas, serta nilai budaya yang terkandung secara langsung kepada masyarakat luas.
‎
Regenerasi menjadi salah satu tantangan serius industri batik, terutama karena semakin sedikit anak muda yang bersedia meneruskan keterampilan membatik tradisional untuk menjaga keberlanjutan tradisi.
‎
“Ini memang tantangan saat ini, semakin langka anak muda yang bersedia untuk meneruskan atau menjadi pembatik,” kata Sri Susilo dalam menghadapi perubahan zaman terus.
‎
Tantangan tersebut terasa semakin kuat pada batik tulis yang membutuhkan ketelitian tinggi, waktu panjang, keterampilan khusus, serta kesabaran dalam pengerjaannya untuk menjaga keberlanjutan batik.
‎
Selain regenerasi, industri batik juga menghadapi persoalan harga karena batik tulis memerlukan proses panjang, keterampilan, dan bahan berkualitas dalam pembuatannya tetap bernilai di pasar.
‎
“Batik tulis harganya mahal karena bukan sekadar produk massal, tetapi ada unsur seni dan prosesnya. Bahan dasarnya juga berkualitas,” tuturnya menjadi bagian penting budaya.
‎
Menurut Sri Susilo, batik berbeda dengan kain bermotif batik hasil printing karena menggunakan malam melalui teknik tulis, cap, atau perpaduan sebagai warisan budaya Indonesia.
‎
Permintaan batik tulis sebenarnya masih tersedia, meski pasarnya relatif terbatas dibandingkan produk yang proses produksinya lebih cepat dan luas di tengah perkembangan industri kreatif.
‎
Sementara itu, perpaduan teknik tulis dan cap dinilai memiliki peluang pasar lebih luas karena motifnya dapat menyesuaikan selera konsumen sesuai kebutuhan pasar masa kini.
‎
Ketua Organizing Committee Indah Rahayu Murniati mengatakan Simfoni 1001 Pembatik dirancang agar masyarakat, terutama generasi muda, menyaksikan langsung proses pembuatan batik di Malioboro Sabtu.
‎
Kegiatan membatik serentak berlangsung sepanjang sekitar 500 meter, mulai dari Simpang Empat Batik Terang Bulan hingga kawasan Titik Nol Kilometer sejak pagi hingga siang.
‎
“Kalau jumlahnya 1.000 pembatik, daya promosinya untuk meneruskan batik lebih tinggi dibandingkan 100 pembatik,” jelas Indah dalam konferensi pers tersebut pada Sabtu mendatang ini.
‎
Indah berharap keterlibatan ribuan pembatik membuat batik semakin dikenal dan mampu menarik perhatian anak muda yang selama ini kurang tertarik memperluas promosi batik nasional.
‎
“Harapannya, batik semakin dikenal terutama di kalangan anak muda,” kata Indah, menegaskan tujuan utama kegiatan tersebut bagi regenerasi pembatik untuk mendorong minat generasi muda.
‎
Tak hanya pembatik, wisatawan dan masyarakat juga dapat berinteraksi langsung dengan proses membatik melalui perlengkapan yang disediakan panitia selama acara berlangsung bagi pengunjung langsung.
‎
Kesempatan mencoba membatik diharapkan membuat pengunjung memahami bahwa setiap motif membutuhkan proses, ketelitian, keterampilan, dan kreativitas sebelum menjadi karya bernilai sekaligus menghargai kerja pembatik.
‎
Indah mengatakan Simfoni 1001 Pembatik juga menjadi bagian dari agenda pariwisata Kota Jogja melalui konsep event tourism yang melibatkan masyarakat yang hadir selama kegiatan.
‎
Kehadiran ribuan pembatik di Malioboro diharapkan menarik wisatawan sekaligus menggerakkan aktivitas ekonomi melalui booth UMKM dan rangkaian kegiatan pendukung dan pelaku UMKM setempat juga.
‎
“Dampak langsungnya lebih ke event tourism. Ada beberapa booth UMKM yang bisa dibeli masyarakat. Event seperti apa pun akan mampu menggerakkan ekonomi,” katanya kini.(ady)

Berita Terkait

KAI Daop 6 Yogyakarta Siapkan Garda Keamanan Hadapi Potensi Gangguan
Habis Karhutla Terbitlah Sawit, Pakar UMY Ingatkan Risiko Alih Fungsi Kawasan Lindung
Dugaan Korupsi BUKP Tegalrejo, Kejati DIY Tetapkan Tersangka dan Temukan Kerugian Rp2,7 Miliar
Warga Terdampak Erupsi Merapi Terima Sertifikat Huntap dari Gubernur DIY
Talud Bronjong Rampung, Tebing Kali Kuning Kini Lebih Kokoh
Kasus Keracunan MBG, KPH AKSI Desak Penanganan dan Pengusutan Secara Tuntas
Haornas ke-43, Sleman Dorong Masyarakat Aktif Berolahraga Setiap Hari
Simfoni 1001 Pembatik Hadir di Malioboro, Teguhkan Kebanggaan atas Warisan Budaya

Berita Terkait

Rabu, 30 September 2026 - 09:51 WIB

KAI Daop 6 Yogyakarta Siapkan Garda Keamanan Hadapi Potensi Gangguan

Rabu, 30 September 2026 - 09:12 WIB

Habis Karhutla Terbitlah Sawit, Pakar UMY Ingatkan Risiko Alih Fungsi Kawasan Lindung

Rabu, 30 September 2026 - 08:53 WIB

Dugaan Korupsi BUKP Tegalrejo, Kejati DIY Tetapkan Tersangka dan Temukan Kerugian Rp2,7 Miliar

Rabu, 30 September 2026 - 08:37 WIB

Warga Terdampak Erupsi Merapi Terima Sertifikat Huntap dari Gubernur DIY

Rabu, 30 September 2026 - 08:30 WIB

Talud Bronjong Rampung, Tebing Kali Kuning Kini Lebih Kokoh

Berita Terbaru