JABAROKENEWS.COM, Yogyakarta – Obesitas pada anak menjadi salah satu tantangan kesehatan yang perlu mendapat perhatian serius. Perubahan pola makan, kurangnya aktivitas fisik, serta kebiasaan menghabiskan waktu di depan layar menjadi sejumlah faktor yang berkontribusi terhadap meningkatnya risiko kelebihan berat badan pada anak dan remaja.
Sebuah metaanalisis yang diterbitkan dalam Majalah Kesehatan Indonesia pada 22 Mei 2026 menganalisis 152 penelitian mengenai anak usia sekolah dan remaja di Indonesia. Hasilnya menunjukkan prevalensi gabungan kelebihan berat badan (overweight) dan obesitas mencapai 18,13 persen, sedangkan prevalensi obesitas sebesar 7,49 persen.
Penelitian tersebut juga memproyeksikan prevalensi gabungan kelebihan berat badan dan obesitas dapat meningkat menjadi 23,02 persen pada 2050. Kendati demikian, proyeksi tersebut perlu ditafsirkan secara hati-hati karena terdapat variasi yang tinggi antarp penelitian.
Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) sekaligus dokter spesialis anak, dr. H. M. Bambang Edi Susyanto, Sp.A., M.Kes., mengatakan peningkatan kasus kelebihan berat badan dan obesitas pada anak merupakan fenomena yang terjadi di berbagai negara dalam tiga dekade terakhir, termasuk Indonesia.
Menurutnya, kondisi tersebut tidak hanya terlihat dalam berbagai penelitian, tetapi juga dijumpai dalam praktik klinis sehari-hari.
“Overweight dan obesitas juga kami temukan dalam praktik klinis di Yogyakarta. Sering kali kondisi tersebut menyertai penyakit atau masalah kesehatan lain yang menjadi alasan anak datang ke rumah sakit,” jelasnya dalam wawancara daring, Kamis (22/10/2026).
Ketidakseimbangan Energi dan Perubahan Gaya Hidup
Bambang menjelaskan bahwa kelebihan berat badan dan obesitas pada dasarnya terjadi ketika energi yang masuk ke dalam tubuh tidak seimbang dengan energi yang dikeluarkan. Ketika asupan energi terus-menerus melebihi kebutuhan tubuh, kelebihannya akan disimpan sebagai lemak dan meningkatkan risiko obesitas.
Kondisi tersebut dapat dipengaruhi oleh berbagai kebiasaan sehari-hari. Kurangnya aktivitas fisik, tingginya durasi penggunaan gawai atau waktu layar (screen time), konsumsi pangan ultra-proses yang cenderung tinggi energi, gula, lemak, dan garam, serta pola tidur yang kurang baik merupakan sejumlah faktor yang perlu diperhatikan.
Kebiasaan menghabiskan banyak waktu di depan layar, misalnya, dapat mengurangi kesempatan anak untuk bergerak aktif. Apabila kondisi tersebut disertai kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi kalori dan waktu tidur yang tidak teratur, risiko kelebihan berat badan dapat semakin meningkat.
Karena itu, penanganan obesitas pada anak tidak cukup hanya berfokus pada angka berat badan. Perubahan gaya hidup secara menyeluruh, mulai dari pola makan, aktivitas fisik, hingga kebiasaan tidur, menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan anak.
Bukan Sekadar Masalah Berat Badan
Obesitas pada masa kanak-kanak perlu mendapat perhatian karena dampaknya dapat berlanjut hingga dewasa. Bambang menjelaskan bahwa anak yang mengalami obesitas memiliki kecenderungan lebih besar untuk tetap mengalami kondisi serupa pada tahap kehidupan berikutnya.
Risiko yang menyertai obesitas juga tidak terbatas pada penampilan fisik. Dalam praktik klinis, ia menjumpai pasien anak dan remaja dengan obesitas yang disertai masalah kesehatan lain, seperti hipertensi, dislipidemia atau gangguan kadar lemak dalam darah, serta diabetes melitus tipe 2.
Apabila tidak ditangani dengan baik, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan jangka panjang. Obesitas juga berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit jantung dan sejumlah jenis kanker pada kemudian hari.
Pada remaja perempuan, gangguan metabolik yang menyertai obesitas juga perlu diwaspadai karena dapat berpengaruh terhadap kesehatan reproduksi. Oleh sebab itu, obesitas perlu dipahami sebagai persoalan kesehatan yang membutuhkan perhatian sejak dini, bukan sekadar kondisi yang dianggap biasa selama masa pertumbuhan.
Selain dampak fisik, aspek psikologis anak juga tidak boleh diabaikan. Stigma dan ejekan terhadap anak bertubuh besar dapat memengaruhi kepercayaan diri, kesehatan mental, dan hubungan sosialnya. Alih-alih membantu, perlakuan yang merendahkan justru berpotensi menambah beban psikologis anak.
Orang Tua dan Sekolah Berperan Penting
Dalam upaya menekan angka obesitas pada anak, Bambang menekankan pentingnya menghindari stigma terhadap anak yang memiliki berat badan berlebih. Orang tua dan tenaga kesehatan perlu membantu anak memahami bahwa tujuan utama perubahan kebiasaan adalah menjaga kesehatan, bukan semata-mata menurunkan berat badan atau memenuhi standar penampilan tertentu.
“Stigma ‘gendut’ cukup berbahaya. Orang tua dan dokter perlu membantu meyakinkan anak bahwa fokusnya adalah kesehatan. Bukan sekadar soal diet, melainkan bagaimana membangun pola makan yang semakin sehat,” ungkapnya.
Pendekatan tersebut perlu dilakukan melalui pendampingan yang positif. Orang tua dapat membantu anak memperbaiki pola makan, meningkatkan aktivitas fisik, dan membangun kebiasaan tidur yang lebih teratur. Upaya tersebut akan lebih efektif apabila orang tua turut menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari sehingga dapat menjadi teladan bagi anak.
Selain memberikan contoh, orang tua perlu memfasilitasi anak agar memiliki kesempatan untuk bergerak aktif. Aktivitas fisik dapat dibangun melalui kegiatan sederhana yang menyenangkan dan sesuai dengan usia anak tanpa harus selalu berupa olahraga terstruktur.
Sekolah juga memiliki peran strategis dalam menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan. Bambang menilai dukungan tersebut dapat diwujudkan melalui pengembangan hubungan sosial dan komunikasi yang baik, penyediaan fasilitas olahraga yang memadai, serta pengelolaan kantin sehat.
Lingkungan sekolah yang mendukung dapat membantu anak membangun kebiasaan sehat secara konsisten. Dengan demikian, upaya pencegahan obesitas tidak hanya dibebankan kepada anak atau keluarganya, tetapi menjadi tanggung jawab bersama antara keluarga, sekolah, tenaga kesehatan, dan pemerintah.
Membangun Kebiasaan Sehat Sejak Dini
Peningkatan prevalensi obesitas pada anak menjadi pengingat bahwa kesehatan perlu dibangun melalui kebiasaan sehari-hari. Perbaikan pola makan, peningkatan aktivitas fisik, pembatasan waktu di depan layar, dan pengaturan waktu tidur merupakan langkah yang dapat dimulai dari lingkungan terdekat anak.
Bagi Bambang, pendekatan yang berorientasi pada kesehatan dan dilakukan secara konsisten menjadi bagian penting dalam menghadapi obesitas pada anak. Pendampingan yang positif juga diperlukan agar anak tidak merasa disalahkan atas kondisi tubuhnya, tetapi memperoleh dukungan untuk menjalani kebiasaan yang lebih sehat.
Pada akhirnya, mencegah obesitas pada anak bukan hanya tentang mengendalikan angka pada timbangan. Lebih dari itu, upaya tersebut merupakan investasi jangka panjang untuk mendukung tumbuh kembang, menjaga kualitas hidup, dan membangun generasi yang lebih sehat. (lsi)
Sumber : Humas Umy















