JABAROKENEWS.COM, Jogja – Ratusan ASN Pemda DIY bersama Pemkot Yogyakarta turun membersihkan Jalan Malioboro, Kamis (29/10), setelah aksi anarkis merusak sejumlah aset kawasan tersebut.
Aksi bersih-bersih itu dilakukan untuk memulihkan Malioboro agar kembali bersih, aman, nyaman bagi masyarakat, pedagang, serta wisatawan yang berkunjung.
Sekretaris Daerah DIY Ni Made Dwi Panti Indrayanti mengatakan, Malioboro merupakan kawasan wisata sekaligus ruang publik yang harus dijaga bersama.
“Kawasan Malioboro ini adalah kawasan milik kita semua,” ujar Ni Made saat mengikuti kegiatan bersih-bersih Malioboro, Kamis (29/10/2026).
Menurut Ni Made, kawasan tersebut bukan sekadar destinasi wisata, melainkan ruang aktivitas masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari kegiatan ekonomi.
“Jadi, kita harus jaga dari sisi kenyamanan, keamanan wisatanya,” katanya ketika menjelaskan pentingnya menjaga Malioboro.
Ia menegaskan, keberadaan Malioboro memiliki arti penting bagi masyarakat yang mencari nafkah, termasuk pedagang dan pelaku usaha di kawasan tersebut.
“Apa pun itu, banyak orang yang mencari rezeki di kawasan ini,” ungkap Ni Made di sela-sela kegiatan pembersihan.
Karena itu, ia menyayangkan tindakan anarkis yang menyebabkan kerusakan sejumlah aset sekaligus mengganggu kebersihan lingkungan kawasan wisata unggulan Yogyakarta tersebut.
Menurutnya, kerusakan fasilitas publik berpotensi merugikan masyarakat luas, terutama warga yang setiap hari beraktivitas dan mengandalkan penghasilan di Malioboro.
Ni Made mengingatkan, penyampaian aspirasi merupakan hak masyarakat yang tetap dapat dilakukan untuk menyampaikan berbagai persoalan, kritik, maupun masukan kepada pemerintah.
Namun, ia berharap kebebasan menyampaikan pendapat tidak berujung pada tindakan yang merusak fasilitas umum dan mengganggu kepentingan masyarakat lainnya.
“Boleh menyampaikan aspirasi, boleh menyampaikan apa yang menjadi saran dan kritik,” tegas Ni Made dalam keterangannya kepada awak media.
Ia menilai, kritik dan saran tetap diperlukan sebagai bagian dari kehidupan bermasyarakat, tetapi penyampaiannya harus memperhatikan ketertiban serta kepentingan bersama.
Menurut Ni Made, penyampaian pendapat secara damai dapat membantu menjaga situasi tetap kondusif tanpa menimbulkan kerugian bagi masyarakat.
“Kami berharap kejadian ini tidak terulang lagi,” katanya, menyampaikan harapan agar insiden serupa tidak kembali terjadi di kawasan Malioboro.
Pernyataan tersebut disampaikan menyusul aksi anarkis malam sebelumnya yang menyebabkan sejumlah aset mengalami kerusakan dan kondisi lingkungan membutuhkan penanganan.
Ratusan aparatur sipil negara kemudian bergotong royong membersihkan kawasan untuk mempercepat pemulihan kebersihan serta kenyamanan ruang publik tersebut.
Kegiatan itu juga menjadi bentuk kepedulian pemerintah daerah terhadap keberlangsungan aktivitas masyarakat dan sektor pariwisata di pusat Kota Yogyakarta.
Ni Made menekankan bahwa menjaga Malioboro bukan semata-mata tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab seluruh pihak yang menggunakan kawasan tersebut.
Ia mengajak masyarakat menjaga fasilitas umum, menghormati kepentingan sesama, serta menyampaikan aspirasi melalui cara yang tidak merugikan orang lain.
“Karena apa pun itu akan menyebabkan kerugian bagi kita semua kalau kemudian diakhiri dengan tindakan anarkis,” tandasnya.
Melalui aksi bersih-bersih tersebut, pemerintah berharap Malioboro segera kembali menjadi ruang publik yang nyaman, aman, dan mendukung kegiatan ekonomi masyarakat.
Pemerintah juga berharap masyarakat dapat menjaga suasana damai agar Malioboro tetap menjadi kebanggaan Yogyakarta sekaligus destinasi wisata yang diminati pengunjung.(waw)















