Menurut Daradjat, program-program kepemudaan yang diselenggarakan pemerintah belum sepenuhnya sesuai dengan minat dan keinginan para pemuda, sehingga mereka lebih cenderung mengaktualisasikan minat dan bakat mereka di luar program formal tersebut. Beliau juga menekankan kurangnya minat para pemuda terhadap organisasi kepemudaan yang seharusnya dapat menjadi wadah untuk menyalurkan kreativitas dan aktivitas mereka.
“Program-program kepemudaan yang ada dari pemerintah dirasa tidak cocok dan tidak sesuai dengan minat dan keinginan mereka, sehingga mereka lebih senang mengaktualisasikan minat dan bakat di area non formal,” kata Daradjat kepada media, Rabu (20/3/2024).
Di sisi lain, Daradjat juga memberikan beberapa usulan solusi untuk mengatasi masalah tawuran, termasuk merevitalisasi program kepemudaan, meningkatkan patroli di daerah rawan tawuran, serta membina pelaku tawuran agar menimbulkan efek jera. Lebih lanjut, pentingnya peran orang tua dalam memberikan perhatian yang lebih baik kepada anak-anak yang sudah memasuki usia remaja juga disoroti oleh Daradjat.
Sosiolog Politik dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Ubedilah Badrun, memberikan pandangan tambahan terkait tawuran ini. Menurutnya, tawuran merupakan ekspresi dari keresahan yang terpendam dalam masyarakat. Ubed juga mengamati bahwa maraknya tawuran menjelang Pemilu bisa menjadi tanda bahwa para pelaku tawuran mencari perhatian dari elit politik atau sebagai bentuk protes terhadap praktik pemilu yang dianggap bermasalah.
Dengan menganalisis sudut pandang dari Daradjat Kardono dan Ubedilah Badrun, diharapkan langkah-langkah yang lebih efektif dapat diambil untuk mengatasi masalah tawuran di Bekasi, dan masyarakat dapat hidup dalam lingkungan yang lebih aman dan damai.(*)