Di Balik Gerak Lembut Bedhaya Bontit, Filosofi Jawa tentang Harmoni Hidup

Kamis, 29 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

‎JABAROKENEWS.COM, Jogja – Di balik gerak lembut sembilan penari dan alunan gamelan yang agung, Bedhaya Bontit menyimpan kisah pertarungan besar yang justru berakhir pada kesatuan.
‎
Tarian klasik Keraton Yogyakarta ini bukan sekadar tontonan estetik, melainkan sarat makna tentang keseimbangan, pengendalian diri, dan harmoni hidup.
‎
“Bedhaya Bontit adalah refleksi filosofi Jawa tentang dua kekuatan yang bertentangan namun akhirnya menyatu,” demikian tertulis dalam keterangan resmi Keraton Yogyakarta.
‎
Bedhaya Bontit merupakan Yasan Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono VIII yang diciptakan pada 1925, saat beliau bertakhta di Ngayogyakarta Hadiningrat.
‎
Dikutip dari laman resmi Keraton Yogyakarta, tarian ini mengusung filosofi loro-loroning atunggal, dua hal yang berbeda tetapi menyatu.
‎
“Di sinilah letak keistimewaannya, konflik tidak dimenangkan dengan kekerasan, melainkan dilebur dalam keselarasan,” tulis Keraton dalam arsip kebudayaannya.
‎
Berbeda dengan bedhaya sakral yang terikat ritual tertentu, Bedhaya Bontit tidak memiliki kedudukan khusus dalam upacara adat.
‎
Para penarinya tidak diwajibkan menjalani laku ritual, bahkan penari yang sedang menggarap sari tetap diperkenankan menari.
‎
“Bedhaya Bontit memberi ruang artistik yang lebih luas tanpa meninggalkan nilai filosofisnya,” tulis catatan Kagungan Dalem.
‎
Kisah yang diangkat berasal dari Wayang Purwa, epos Mahabharata, yakni pertarungan Raden Permadi (Harjuna) dan Raden Suryatmaja (Adipati Karna) di Pura Mandaraka untuk memperebutkan Dewi Surtikanthi.
‎
Dalam beberapa versi, tidak ada pemenang mutlak.
‎
“Keduanya memiliki kekuatan setara hingga akhirnya menyatu, menjadi simbol loro-loroning atunggal,” demikian narasi yang hidup dalam tradisi Keraton.
‎
Keunikan Bedhaya Bontit juga tampak pada struktur tari dan iringannya.
‎
Adegan peperangan justru diiringi Gendhing Ketawang, sesuatu yang nyaris tidak ditemukan pada bedhaya lain.
‎
Hingga kini, Bedhaya Bontit menjadi satu-satunya bedhaya yang menggunakan Ketawang untuk adegan perang, menegaskan pesan bahwa konflik pun bisa dibingkai dalam harmoni.

(waw)

Berita Terkait

250 Ribu Pemuda Sleman Disiapkan Jadi Penggerak Ekonomi dan Inovasi
GPM Soroti Sumbangan Komite MTsN 9 Sleman, Tekankan Prinsip Sukarela
Jelang WJNC 2026, Pawai Ekosistem Malioboro Semarakkan Kota Jogja
Sipotik Ungkap 700 Kasus Pengambilan Ganda Psikotropika di Sleman
UMY Corner Hadir di SMAN 1 Sedayu, Buka Peluang Kolaborasi Pendidikan Lebih Luas
Tarkeeb, Aplikasi AI Belajar Nahwu Karya Mahasiswa UMY, Raih Juara 1 di KMI Expo XVII 2026
UMY dan MCUT Taiwan Teken MoA, Buka Peluang Kolaborasi Internasional
Hampir 60 Ribu Penerima Beasiswa, The Future Fest 2026 Dorong Perluasan Akses Pendidikan Tinggi

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 08:50 WIB

250 Ribu Pemuda Sleman Disiapkan Jadi Penggerak Ekonomi dan Inovasi

Rabu, 7 Oktober 2026 - 08:42 WIB

GPM Soroti Sumbangan Komite MTsN 9 Sleman, Tekankan Prinsip Sukarela

Rabu, 7 Oktober 2026 - 08:35 WIB

Jelang WJNC 2026, Pawai Ekosistem Malioboro Semarakkan Kota Jogja

Selasa, 6 Oktober 2026 - 16:17 WIB

Sipotik Ungkap 700 Kasus Pengambilan Ganda Psikotropika di Sleman

Selasa, 6 Oktober 2026 - 15:55 WIB

Tarkeeb, Aplikasi AI Belajar Nahwu Karya Mahasiswa UMY, Raih Juara 1 di KMI Expo XVII 2026

Berita Terbaru