Iran Buka Terbatas Selat Hormuz, 20 Kapal Pakistan Kembali Melintas
Langkah tersebut dinilai sebagai sinyal awal normalisasi terbatas di tengah ketegangan kawasan yang belum sepenuhnya mereda. “Ini merupakan perkembangan positif yang dapat memperkuat upaya bersama menuju stabilitas regional,” ujar Dar.
Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur vital distribusi energi dunia. Gangguan di kawasan ini sejak akhir Februari 2026 telah memicu lonjakan harga bahan bakar global serta menghambat arus logistik internasional.
Konflik Memicu Gangguan Global
Ketegangan bermula dari serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026, yang kemudian dibalas oleh Teheran dengan serangan ke sejumlah target militer di kawasan Timur Tengah.
Dalam eskalasi tersebut, Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan tewas. Serangan itu juga merusak berbagai fasilitas umum dan memicu krisis kemanusiaan.
Sebagai respons, Iran memberlakukan pembatasan ketat di Selat Hormuz, yang secara de facto menghentikan lalu lintas kapal, khususnya yang terafiliasi dengan pihak-pihak yang dianggap musuh. Sekitar 1.900 kapal komersial dilaporkan tertahan di kawasan Teluk Persia akibat situasi tersebut.
Jalur Selektif untuk Negara “Sahabat”
Di tengah pembatasan, Iran tetap membuka akses selektif bagi negara-negara yang dinilai tidak terlibat dalam konflik. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyebut negara seperti China, Rusia, India, Pakistan, dan Irak termasuk dalam kategori yang diizinkan melintas.
Selain itu, sejumlah negara lain juga memperoleh akses melalui jalur diplomasi, antara lain:
- Malaysia: Perdana Menteri Anwar Ibrahim menyatakan kapal tanker negaranya diizinkan melintas setelah komunikasi intensif dengan Teheran.
- Thailand: Salah satu kapal tanker minyaknya telah berhasil melewati Selat Hormuz dan kembali dengan selamat.
- Bangladesh: Kapal menuju negara ini dilaporkan tidak dikenai pembatasan langsung.
- Indonesia: Pemerintah Indonesia memperoleh respons positif atas permintaan agar kapal tanker Pertamina dapat melintas aman.
- Jepang: Iran menyatakan kesiapan memfasilitasi pelayaran kapal Jepang melalui koordinasi bilateral.
Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak sepenuhnya ditutup, namun akses diberikan secara selektif dengan mempertimbangkan aspek keamanan dan posisi politik masing-masing negara.
Dampak dan Prospek
Pelonggaran terbatas ini memberi harapan bagi pemulihan distribusi energi global, meski risiko geopolitik masih tinggi. Stabilitas di Selat Hormuz tetap menjadi perhatian utama mengingat perannya sebagai jalur utama ekspor minyak dan gas dari kawasan Teluk ke pasar dunia.
Pengamat menilai, langkah Iran membuka akses terbatas merupakan strategi diplomasi sekaligus tekanan politik dalam menghadapi dinamika konflik yang belum menemukan titik akhir. (Sputnik/ihd)

