Dari Layanan Kesehatan hingga Panggung Kreativitas, HDSD 2026 Penuh Makna

JABAROKENEWS.COM, BANTUL – Perayaan Hari Down Syndrome Dunia (HDSD) 2026 di Yogyakarta berlangsung semarak dan penuh makna.

‎Kegiatan bertajuk “Together Against Loneliness: Bersama Melawan Keterbatasan” ini digelar oleh PIK POTADS Yogyakarta bersama BPKP DIY dan FK-KMK UGM.

‎“Ini bukan sekadar acara seremonial, tapi gerakan nyata membangun inklusi, Ketua PIK POTADS Yogyakarta, Siti Nurjanah, S.Pd. SD,  Sabtu (11/4/2026).

‎Acara yang berlangsung di Aula Kantor Perwakilan BPKP DIY itu menghadirkan berbagai pihak, mulai dari tenaga kesehatan, akademisi, hingga keluarga anak Down Syndrome.

‎“Kami ingin menciptakan ruang aman bagi semua untuk saling terhubung,” ujar salah satu penyelenggara.

‎Kehadiran Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X atau Gusti Putri disebut sebagai bentuk dukungan kuat pemerintah terhadap inklusi sosial.

‎Tak hanya seremoni, kegiatan ini juga menghadirkan layanan kesehatan langsung. Pemeriksaan telinga oleh dokter spesialis THT menjadi salah satu sorotan.

‎“Gangguan pendengaran pada anak Down Syndrome sering terabaikan, padahal berdampak besar,” jelas tenaga medis di lokasi.

‎Ia menambahkan, deteksi dini sangat penting untuk mendukung perkembangan komunikasi anak.

‎“Semakin cepat ditangani, semakin besar peluang anak berkembang optimal,” ujarnya. Layanan ini sekaligus menjadi bentuk edukasi praktis bagi orang tua yang hadir.

‎Sesi talkshow juga menyedot perhatian peserta. dr. Lulus Hardiyanti menekankan pentingnya rehabilitasi berbasis fungsi.

‎“Intervensi dini dan pendekatan multidisiplin adalah kunci kemandirian anak,” ujarnya.

‎Moderator dr. Camelia Herdini menambahkan, “Peran orang tua tidak tergantikan dalam proses tumbuh kembang anak.”

‎Tak kalah menarik, panggung kreativitas anak Down Syndrome memukau hadirin. Mulai dari tari tradisional, musik angklung, hingga fashion show ditampilkan penuh percaya diri.

‎“Mereka bukan hanya mampu, tapi juga bisa berprestasi,” kata salah satu orang tua.

‎Melalui kegiatan ini, semua pihak sepakat bahwa inklusi bukan sekadar wacana, melainkan aksi nyata yang harus terus diperjuangkan. (andriyani)