Ekonomi Nasional Dinilai Rentan, Prof. Edy Tekankan Pentingnya Transformasi Struktur

Rabu, 18 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JABAROKENEWS.COM, Sleman – Rektor Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta, Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec., menegaskan bahwa kondisi ekonomi Indonesia saat ini masih tergolong rapuh dan membutuhkan perubahan mendasar.
‎
Hal tersebut disampaikannya dalam ceramah tarawih di Masjid Syuhada, Selasa (17/3) malam.
‎
Ia menekankan bahwa momentum Ramadhan harus dimanfaatkan sebagai sarana refleksi sekaligus penguatan karakter bangsa.
‎
Dalam ceramah bertema “Spiritualitas Ramadhan dan Tantangan Ekonomi Bangsa”, Prof. Edy menyebut Ramadhan sebagai Syahrul Tarbiyah atau bulan pendidikan.
‎
“Ramadhan bukan hanya soal ibadah ritual, tetapi juga pembentukan kualitas diri, baik spiritual maupun sosial,” ujarnya.
‎
Ia menambahkan, “Nilai disiplin, kejujuran, dan empati sosial yang dilatih selama Ramadhan harus menjadi fondasi kehidupan sehari-hari.”
‎
Lebih lanjut, ia mengaitkan nilai-nilai spiritual tersebut dengan realitas ekonomi nasional.
‎
Menurutnya, struktur ekonomi Indonesia masih bertumpu pada sektor primer seperti pertanian dan pertambangan.
‎
“Struktur ekonomi kita belum bertransformasi secara optimal ke sektor industri dan jasa. Ini yang membuat kita berisiko tetap berada di kategori negara berpendapatan rendah,” tegasnya.
‎
Prof. Edy juga menyoroti berbagai indikator sosial-ekonomi yang masih memprihatinkan.
‎
“Angka kemiskinan masih mencapai puluhan juta, ketimpangan tinggi, dan pengangguran belum terselesaikan secara tuntas,” ungkapnya.
‎
Ia bahkan menyebut, “Kalau memakai standar internasional, sebagian besar masyarakat kita masih berada dalam kategori rentan secara ekonomi.”
‎
Kondisi global seperti ketegangan geopolitik juga dinilai memperparah tekanan terhadap ekonomi nasional.
‎
Menutup ceramahnya, ia mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan Ramadhan sebagai titik awal perubahan nyata.
‎
“Perubahan tidak akan datang tanpa ikhtiar. Spirit Ramadhan harus menjadi kekuatan untuk memperbaiki kualitas hidup dan kondisi ekonomi kita ke depan,” pungkasnya. (waw)

Berita Terkait

Wali Kota Yogyakarta Beli Helm Kustomfest Hasil Lelang Rp20 Juta
Malam Berbagi Jogja Kumpulkan Donasi Rp909 Juta, Bantu Warga Lewat Bedah Rumah dan Pendidikan
Pemkab Sleman Perkuat Komitmen Cegah Kenakalan Remaja, Kekerasan, dan Radikalisme
Penumpang WNA KAI Daop 6 Capai 264.335 Orang, Tumbuh 7,8 Persen
250 Ribu Pemuda Sleman Disiapkan Jadi Penggerak Ekonomi dan Inovasi
GPM Soroti Sumbangan Komite MTsN 9 Sleman, Tekankan Prinsip Sukarela
Jelang WJNC 2026, Pawai Ekosistem Malioboro Semarakkan Kota Jogja
Sipotik Ungkap 700 Kasus Pengambilan Ganda Psikotropika di Sleman

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 16:16 WIB

Wali Kota Yogyakarta Beli Helm Kustomfest Hasil Lelang Rp20 Juta

Rabu, 7 Oktober 2026 - 16:07 WIB

Malam Berbagi Jogja Kumpulkan Donasi Rp909 Juta, Bantu Warga Lewat Bedah Rumah dan Pendidikan

Rabu, 7 Oktober 2026 - 15:57 WIB

Pemkab Sleman Perkuat Komitmen Cegah Kenakalan Remaja, Kekerasan, dan Radikalisme

Rabu, 7 Oktober 2026 - 15:47 WIB

Penumpang WNA KAI Daop 6 Capai 264.335 Orang, Tumbuh 7,8 Persen

Rabu, 7 Oktober 2026 - 08:50 WIB

250 Ribu Pemuda Sleman Disiapkan Jadi Penggerak Ekonomi dan Inovasi

Berita Terbaru