Jawab Tantangan Global, Menko AHY Ajak Tim Ekspedisi Patriot jadi Agen Perubahan Menuju Indonesia Emas 2045
JABAROKENEWS.COM, Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (Menko AHY) menegaskan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026 bukan sekadar program pengabdian, melainkan wadah untuk menyiapkan talenta terbaik bangsa yang mampu menjawab tantangan pembangunan menuju Indonesia Emas 2045.
Melalui penugasan di kawasan transmigrasi, para peserta TEP diharapkan mampu menghubungkan dunia akademik dengan kebutuhan nyata di lapangan. Mereka tidak hanya memetakan potensi lokal, tetapi juga menyusun rekomendasi yang dapat menjadi dasar perumusan kebijakan pembangunan kawasan.
“Program ini menghadirkan talenta-talenta terbaik Indonesia untuk mengabdi kepada masyarakat. Pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat harus berjalan beriringan agar menghasilkan solusi nyata bagi pembangunan,” ujar Menko AHY saat sesi Town Hall di acara Pelepasan Tim Ekspedisi Patriot 2026, Jakarta, Rabu (29/7).
Menko AHY menjelaskan, peran tersebut menjadi semakin penting karena Indonesia tengah menghadapi berbagai tantangan global, mulai dari dinamika geopolitik, disrupsi teknologi, krisis iklim, hingga persaingan antarnegara dalam memperebutkan talenta dan teknologi.
Dalam situasi tersebut, kualitas sumber daya manusia (SDM) menjadi faktor penentu daya saing bangsa. Karena itu, Menko AHY mendorong seluruh peserta TEP 2026 memanfaatkan masa penugasan sebagai ruang belajar sekaligus ruang pengabdian.
Menurutnya, peserta TEP tidak cukup hanya menjadi peneliti yang menghasilkan laporan, tetapi harus tampil sebagai pemimpin transformatif yang mampu menghadirkan solusi bagi pembangunan kawasan transmigrasi.
“Indonesia Emas 2045 harus tetap menjadi visi kita bersama. Kuncinya adalah kualitas sumber daya manusia, inovasi, produktivitas, dan kepemimpinan. Saya berharap Tim Ekspedisi Patriot dapat menjadi bagian dari generasi yang membawa Indonesia menuju negara maju, adil, dan sejahtera,” tuturnya.
Lebih lanjut, Menko AHY mengatakan generasi muda Indonesia hanya memiliki waktu kurang dari dua dekade untuk memanfaatkan bonus demografi sebagai modal menuju Indonesia Emas 2045. Karena itu, ia meminta TEP 2026 menjadi penggerak transformasi pembangunan melalui ilmu pengetahuan, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat.
Ia menilai bonus demografi merupakan peluang yang tidak akan terulang sehingga harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan mempercepat transformasi ekonomi nasional.
“Saat ini kita berada di sebuah masa yang sangat menentukan. Kita di persimpangan. Apakah generasi milenial dan Gen Z benar-benar bisa menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi sehingga Indonesia menjadi negara maju dan sejahtera? Begitu window of opportunity itu tertutup, kita akan menyesal karena kesempatan itu tidak datang dua kali,” papar AHY.
Ia mengingatkan, waktu menuju tahun 2045 semakin singkat. Dengan sisa waktu kurang dari 20 tahun, Indonesia harus fokus membangun kualitas sumber daya manusia agar mampu keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle-income trap) dan naik menjadi negara berpendapatan tinggi.
Tak hanya itu, kekayaan sumber daya alam tidak akan berarti apabila tidak didukung oleh sumber daya manusia yang berkualitas. Karena itu, pendidikan tinggi, riset, inovasi, dan kepemimpinan menjadi faktor utama yang menentukan keberhasilan transformasi ekonomi Indonesia.
“Percuma kita memiliki sumber daya alam yang melimpah jika tidak dikelola oleh manusia-manusia yang berkualitas. Kita tidak memiliki persoalan pada kuantitas, tetapi tantangan terbesar kita adalah kualitas sumber daya manusia,” tegasnya.
Menko AHY menjelaskan bahwa berbagai hasil riset menunjukkan pendidikan tinggi dan inovasi merupakan dua faktor kunci yang mampu mendorong transformasi ekonomi suatu negara. Karena itu, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menyiapkan talenta unggul yang mampu menjawab kebutuhan pembangunan nasional. (LSI)
Sumber: Tim Kementerian Transmigrasi

