Kementan Andalkan AWD, Efisiensi Irigasi Hingga 20 Persen Hadapi El Nino Ekstrem
JABAROKENEWS.COM, Jakarta — Kementerian Pertanian mengandalkan metode Alternate Wetting and Drying (AWD) sebagai strategi menghadapi ancaman fenomena El Nino ekstrem yang berpotensi memicu kekeringan panjang. Teknik ini diklaim mampu menghemat penggunaan air irigasi hingga 20 persen tanpa menurunkan produktivitas padi.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan efisiensi air menjadi kunci menjaga ketahanan pangan di tengah musim kemarau yang semakin tidak menentu. “Metode AWD mampu mengurangi penggunaan air irigasi hingga 20 persen tanpa menurunkan produktivitas padi,” ujarnya, Minggu (29/3/2026).
Menurut dia, penerapan teknologi tersebut merupakan bagian dari strategi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, dengan fokus pada pengelolaan sumber daya air yang semakin terbatas. Melalui AWD, petani dapat mengatur pemberian air secara lebih terukur sehingga tanaman tetap tumbuh optimal meski dalam kondisi kekurangan air.
Amran menegaskan, pengelolaan air menjadi faktor krusial dalam menjaga keberlanjutan produksi pertanian. Ketersediaan air yang efisien dan terencana dinilai mampu menekan risiko kekeringan sekaligus menjaga produktivitas.
Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kementan Fadjry Djufry menambahkan, AWD merupakan inovasi yang dirancang untuk menjawab tantangan di lapangan, khususnya saat musim kemarau. Teknologi ini memungkinkan petani mengurangi ketergantungan pada penggenangan air secara terus-menerus.
Ia menjelaskan, metode AWD dikembangkan oleh International Rice Research Institute sejak 2009 dan mulai diadaptasi di Indonesia pada 2013. Berdasarkan pengujian selama enam musim tanam, teknik ini mampu menekan kelangkaan air di lahan sawah dengan tingkat efisiensi mencapai 17–20 persen.
“Efisiensi ini bahkan membuka peluang perluasan layanan irigasi ke lahan lain,” kata Fadjry. Selain itu, AWD juga dinilai berdampak positif terhadap lingkungan, antara lain melalui perbaikan struktur tanah dan penurunan emisi gas rumah kaca dari lahan sawah.
Sementara itu, analis BRMP Lingkungan Pertanian Kementan Ali Pramono menjelaskan, penerapan AWD dilakukan dengan mengatur siklus pengairan berdasarkan kondisi kelembapan tanah. Sawah tidak lagi dibiarkan tergenang terus-menerus, melainkan melalui fase penggenangan awal yang diikuti periode pengeringan terkontrol.
Pengamatan kondisi air dilakukan menggunakan alat sederhana berupa pipa paralon berlubang yang berfungsi seperti piezometer. Pipa tersebut dipasang di area mudah diakses untuk memantau kedalaman air sebagai representasi kondisi lahan.
“Pengairan kembali dilakukan saat muka air turun hingga sekitar 10–15 sentimeter di bawah permukaan tanah, lalu diairi kembali hingga ketinggian 3–5 sentimeter,” ujar Ali.
Siklus tersebut dilakukan berulang dengan penyesuaian kondisi cuaca dan fase pertumbuhan tanaman, terutama pada tahap kritis seperti pemupukan hingga pembungaan.
Ali menilai, penerapan AWD tidak hanya meningkatkan efisiensi air, tetapi juga memperkuat perakaran tanaman dan struktur tanah. Hal ini membuat tanaman lebih tahan terhadap cekaman kekeringan sekaligus berpotensi meningkatkan hasil panen.
“AWD bukan sekadar teknik pengairan, tetapi bagian dari strategi climate smart agriculture untuk memperkuat ketahanan produksi padi di tengah ancaman perubahan iklim,” ujarnya. (ihd)

