JABAROKENEWS.COM, Jogja – Mengangkat masa kecil tokoh besar ternyata bukan perkara mudah. Langit Pictures Indonesia menghadapi tantangan menghidupkan sosok Muhammad Darwisy, nama kecil KH Ahmad Dahlan, karena catatan sejarah tentang kehidupannya saat anak-anak sangat terbatas.
Melalui film DARWISY, tim produksi berusaha merangkai fragmen kehidupan pendiri Muhammadiyah tersebut menjadi cerita yang menghibur, inspiratif, dan dapat dinikmati seluruh keluarga.
Proyek film ini diperkenalkan dalam rangkaian Silatnas di Prime UMY Hotel Convention, Yogyakarta, Sabtu (24/10/2026). Pengembangannya melibatkan Yayasan KHA Dahlan dan LPEK PP Muhammadiyah.
Berbeda dari film Sang Pencerah yang dirilis pada 2010, DARWISY memilih menelusuri fase kehidupan yang lebih awal, ketika Ahmad Dahlan masih menjalani keseharian sebagai seorang anak.
Pendekatan tersebut menghadirkan tantangan tersendiri bagi tim kreatif. Mereka tidak hanya dituntut menyusun cerita menarik, tetapi juga mengembangkan kisah berdasarkan penelusuran sejarah yang tersedia.
Catatan Sejarah Menjadi Tantangan
Penulis naskah DARWISY, Ali Ghifari, mengungkapkan bahwa keterbatasan dokumentasi masa kecil Muhammad Darwisy menjadi salah satu kendala utama dalam mengembangkan alur cerita.
Menurut Ali, orang-orang pada masa itu belum mengetahui bahwa Darwisy kelak menjadi KH Ahmad Dahlan dan mendirikan Muhammadiyah. Karena itu, kehidupan masa kecilnya tidak tercatat secara lengkap.
“Orang-orang di zaman itu tidak tahu bahwa Muhammad Darwisy kelak akan mendirikan organisasi Islam terbesar, Muhammadiyah,” kata Ali.
Ia menjelaskan, masyarakat pada masa tersebut tidak memiliki alasan untuk mendokumentasikan setiap perjalanan seorang anak yang belum dikenal sebagai tokoh besar.
“Jadi enggak ada yang nyatet bahwa, ‘Wah, anak kecil ini nanti akan jadi hero,’” ujarnya, menggambarkan keterbatasan sumber yang dihadapi tim penulis.
Ali mengatakan banyak fragmen masa kecil Darwisy tidak dapat ditemukan secara utuh. Kondisi itu membuat tim harus mengembangkan cerita dengan mempertimbangkan informasi yang berhasil dikumpulkan.
“Pada akhirnya, fragmen-fragmen masa kecil Muhammad Darwisy itu tidak bisa diceritakan utuh karena banyak sekali yang kami enggak bisa temukan,” ungkapnya.
Kendati demikian, keterbatasan tersebut tidak menghentikan proses kreatif. Tim justru berupaya membangun cerita yang tetap memiliki nilai hiburan sekaligus menyampaikan pelajaran kehidupan kepada penonton.
“Di situlah akhirnya kita punya kebebasan kreatif untuk menciptakan satu cerita yang bisa disajikan tetap jadi hiburan, tapi juga bisa diambil pelajaran di dalamnya,” kata Ali.
Riset Tujuh Bulan di Yogyakarta
Produser DARWISY, Ferly Halim, mengatakan tim melakukan riset sekitar enam hingga tujuh bulan di Yogyakarta untuk mengembangkan fondasi cerita.
Penelitian tersebut melibatkan keluarga KH Ahmad Dahlan, budayawan, sejarawan, organisasi, hingga museum. Berbagai sumber itu ditelusuri untuk membantu tim memahami konteks kehidupan Darwisy.
“Kami bikin beberapa klaster yang berbeda dengan pertanyaan-pertanyaan yang berbeda juga,” kata Ferly, menjelaskan metode pengumpulan informasi selama proses riset.
Ia mengakui pengembangan cerita belum sepenuhnya berhenti. Tim masih membongkar dan menyusun kembali premis untuk menemukan bentuk cerita yang sesuai dengan tujuan film.
“Mungkin kita habis enam sampai tujuh bulan untuk melakukan riset selama di Jogja, sampai akhirnya menuju sebuah premis yang sampai hari ini juga kita masih bongkar pasang,” ujarnya.
Ferly menegaskan DARWISY tidak dibuat sebagai sekuel Sang Pencerah. Film tersebut memiliki fokus berbeda, yakni perjalanan seorang anak yang tumbuh bersama keluarga, teman, dan lingkungan sekitarnya.
“Film Darwisy itu adalah film yang bergenre anak-anak, inspirasi, dan bertualang,” kata Ferly.
Menurutnya, cerita tidak diarahkan untuk membahas politik ataupun langsung menggambarkan Ahmad Dahlan sebagai tokoh yang sudah mencapai puncak perjuangannya.
“Kita enggak ada bicara tentang seseorang yang sudah menjadi seseorang, tapi kita benar-benar membicarakan seseorang yang masih berproses,” ungkapnya.
Menggali Karakter Sejak Masa Kanak-Kanak
Ferly mengatakan film ini akan menampilkan hubungan Darwisy dengan orang tuanya, kehidupan pertemanan, serta karakter dan spiritualitas yang mulai menonjol sejak kecil.
“Bagaimana dia berbakti dengan orang tua, bagaimana spiritualnya yang tajam, bagaimana dia menjadi seorang anak yang memang sudah menonjol,” ujarnya.
Pendekatan tersebut diharapkan membuat penonton memahami bahwa perjalanan seseorang tidak terbentuk secara instan. Ada proses pertumbuhan, pengalaman, dan hubungan dengan lingkungan yang turut membentuk karakter.
“Darwisy adalah kita semua. Seseorang pasti melewati fase untuk bertumbuh,” kata Ferly.
Pernyataan itu sekaligus menjadi pesan universal yang ingin disampaikan film tersebut. Kisah Darwisy tidak hanya berkaitan dengan sejarah seorang tokoh, tetapi juga pengalaman bertumbuh yang dapat dipahami berbagai generasi.
Bukan Sekadar Film Sejarah
Tim produksi juga menargetkan DARWISY sebagai film keluarga ramah anak. Ceritanya dirancang agar dapat dinikmati anak-anak sekaligus memberikan bahan refleksi bagi orang tua.
“Film Darwisy yang akan kita hadirkan nanti adalah film yang bukan hanya ditonton anak-anak, tapi ini film keluarga ramah anak,” kata Ali.
Ia berharap pengalaman menonton dapat memberikan manfaat bagi setiap anggota keluarga, baik melalui inspirasi maupun percakapan yang muncul setelah film selesai diputar.
“Jadi ketika nanti datang ke bioskop, orang tuanya punya sesuatu untuk dibawa pulang, anaknya punya sesuatu untuk ngajak teman-temannya nonton,” ujarnya.
Ferly menambahkan DARWISY tidak akan sekadar menyajikan rangkaian fakta sejarah seperti biopik konvensional. Tim ingin menghadirkan cara bertutur berbeda untuk memperkenalkan tokoh besar kepada masyarakat.
“Jangan berharap menonton film biopik yang sifatnya memapar hanya fakta sejarah saja,” kata Ferly.
“Kami akan kasih sesuatu yang beda yang biasanya enggak dilakukan sama film-film sejarah di Indonesia untuk merangkum sebuah tokoh,” lanjutnya.
Film DARWISY ditargetkan tayang pada November 2027. Setelah versi live action, tim produksi juga berencana mengembangkan kisah tersebut dalam format animasi.
Melalui riset, pengembangan cerita, dan pendekatan keluarga, DARWISY diharapkan memperkenalkan Muhammad Darwisy dari sisi yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, sekaligus mengajak penonton memahami proses di balik lahirnya seorang tokoh besar.(waw)















