Lestarikan Adat Jawa, Padmasangita dan HARPI Melati Hidupkan Kembali Tradisi Tarapan di Jogja

Minggu, 18 Oktober 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JABAROKENEWS.COM, Sleman – Paguyuban Karawitan Padmasangita bersama HARPI Melati DIY menggelar pagelaran Upacara Adat Tarapan Gaya Ngayogyakarta untuk mengenalkan tradisi perempuan Jawa kepada masyarakat luas.
‎
‎Acara tersebut berlangsung Sabtu (17/10/2026), pukul 19.00 hingga 20.00 WIB, di Atrium Jogja City Mall, Jalan Magelang Km 6, Sleman, Yogyakarta.
‎
‎Pagelaran ini terbuka untuk umum tanpa dipungut biaya. Penyelenggara menghadirkan upacara secara simbolik dengan tetap mempertahankan urutan prosesi lengkap sesuai pakem adat Ngayogyakarta.
‎
‎Kolaborasi tersebut berawal dari kesamaan kepedulian Padmasangita dan HARPI Melati DIY terhadap pelestarian tradisi perempuan Jawa di tengah perubahan zaman.
‎
‎Ketua Paguyuban Karawitan Padmasangita sekaligus Tim Pengarah Acara, Dian S. Prijomustiko, mengatakan Tarapan merupakan tradisi penting dalam perjalanan kehidupan perempuan Jawa.
‎
‎”Tarapan menandai peralihan anak perempuan dari masa kanak-kanak menuju remaja dan kedewasaan,” kata Dian dalam keterangan tertulis, Jumat (16/10/2026).
‎
‎Menurut Dian, pagelaran tersebut tidak sekadar menyuguhkan pertunjukan budaya, tetapi juga menjadi sarana edukasi agar generasi muda memahami nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi Tarapan.
‎
‎”Urut-urutannya lengkap mulai dari siraman, ngratus rikma, hingga pantesan busana,” ujarnya menjelaskan rangkaian prosesi yang akan diperagakan dalam pagelaran tersebut.
‎
‎Dian berharap masyarakat memahami makna perawatan dan pendampingan anak perempuan sebagai bagian penting mempersiapkan generasi penerus bangsa yang berkualitas.
‎
‎”Anak perempuan harus diruwat dengan sungguh-sungguh karena dari rahimnyalah akan lahir generasi mendatang yang cerdas, tangguh, mandiri, dan berprestasi,” katanya.
‎
‎Ketua HARPI Melati DIY, Rita, menegaskan pihaknya tetap menjaga keaslian tata rias, busana, serta perlengkapan adat meskipun prosesi ditampilkan secara simbolik di ruang publik.
‎
‎”Paes, sanggul, kebaya, jarik, dan seluruh ubo rampe kami sajikan sesuai pakem Ngayogyakarta,” kata Rita mengenai persiapan penampilan tersebut.
‎
‎Ia menjelaskan, penyajian simbolik tidak menghilangkan kelengkapan urutan adat. Pendekatan itu justru memudahkan masyarakat mempelajari tradisi melalui pertunjukan yang terbuka.
‎
‎”Simbolik itu artinya untuk tujuan edukasi di ruang publik, tetapi secara adat urutannya lengkap dan sah,” ujarnya menegaskan.
‎
‎Rita juga menyoroti makna filosofis tata rias dan busana dalam Tarapan, yang tidak hanya berkaitan dengan penampilan fisik perempuan.
‎
‎”Setiap goresan paes adalah simbol kedewasaan, setiap lekuk sanggul adalah lambang kebijaksanaan. Inilah yang harus dilestarikan,” katanya.
‎
‎Ketua DPP HARPI, Listiani Sintawati, turut mengapresiasi kolaborasi Padmasangita dan HARPI Melati DIY sebagai contoh kerja bersama untuk menjaga warisan budaya.
‎
‎”Apa yang dilakukan Padmasangita dan HARPI Melati DIY adalah contoh cantik bagaimana inisiatif baik jika bertemu akan saling menguatkan,” ujar Listiani.
‎
‎Menurut Listiani, pertemuan seni karawitan dengan keterampilan tata rias tradisional mampu menghadirkan pertunjukan yang memberikan hiburan sekaligus pengetahuan mengenai nilai-nilai budaya.
‎
‎”Yang lahir bukan hanya tontonan, tetapi tuntunan. Ketika seorang anak perempuan dirias dalam Tarapan, sejatinya kita sedang merias masa depan bangsa,” tuturnya.
‎
‎Ia berharap inisiatif serupa terus mendapatkan dukungan agar tradisi perempuan Jawa tetap dikenal dan dipahami generasi muda di tengah perkembangan masyarakat.
‎
‎Pagelaran tersebut menghadirkan iringan karawitan langsung oleh Padmasangita, sementara HARPI Melati DIY menangani tata rias, busana, serta tata cara adat Ngayogyakarta.
‎
‎Jaringan Masyarakat Budaya Nusantara (JMBN) menjadi salah satu pihak yang turut mendukung penyelenggaraan acara tersebut bersama sejumlah pihak lainnya.
‎
‎Padmasangita berdiri pada 23 Januari 2023 sebagai wadah alumni SMA Negeri 3 Padmanaba Yogyakarta lintas angkatan untuk melestarikan seni karawitan.
‎
‎Paguyuban tersebut mengusung falsafah Sanggit, Ngrawit, Srawung Sesami sebagai landasan berkesenian, mempererat persaudaraan, dan menjaga tradisi budaya melalui kegiatan bersama.
‎
‎Melalui pagelaran Tarapan, Padmasangita dan HARPI Melati DIY berharap masyarakat semakin mengenal kekayaan adat Ngayogyakarta sekaligus meneruskan warisan budaya kepada generasi berikutnya.(waw)

Berita Terkait

Insiden Saat Car Free Day: KA Batara Kresna Tertemper, KAI Ingatkan Rel Bukan Area Aktivitas
Modus Selipkan Emas 4,2 Kg di Pakaian Dalam, Dua Penumpang Scoot Rute YIA-Singapura Ditangkap
Pemkab Sleman Gandeng DJP DIY Percepat Layanan Pertanahan dan Penerimaan Pajak
Dilantik Jadi Anggota DPRD, Hari Prastowo Prioritaskan Aspirasi Masyarakat Kecil
Ketua DPRD Kota Yogyakarta Lantik Hari Prastowo sebagai Anggota Dewan
Gelar Festival Kampung Santri, Masyarakat Jogja Serukan Pentingnya Merawat Berkah
Soroti Isu Lingkungan, Danang Maharsa Tekankan Pentingnya Kepedulian Pemimpin Terhadap Sampah
Kawal Aspirasi Sampai Jadi Kebijakan, Cintya Minta Generasi Muda Aktif Berpartisipasi

Berita Terkait

Selasa, 20 Oktober 2026 - 08:07 WIB

Insiden Saat Car Free Day: KA Batara Kresna Tertemper, KAI Ingatkan Rel Bukan Area Aktivitas

Selasa, 20 Oktober 2026 - 07:56 WIB

Modus Selipkan Emas 4,2 Kg di Pakaian Dalam, Dua Penumpang Scoot Rute YIA-Singapura Ditangkap

Senin, 19 Oktober 2026 - 16:53 WIB

Pemkab Sleman Gandeng DJP DIY Percepat Layanan Pertanahan dan Penerimaan Pajak

Senin, 19 Oktober 2026 - 14:50 WIB

Dilantik Jadi Anggota DPRD, Hari Prastowo Prioritaskan Aspirasi Masyarakat Kecil

Senin, 19 Oktober 2026 - 14:40 WIB

Ketua DPRD Kota Yogyakarta Lantik Hari Prastowo sebagai Anggota Dewan

Berita Terbaru