Pemulihan Pascabencana Sumatera, Mendagri Tekankan Pentingnya Dashboard Data Tunggal

Senin, 9 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JABAROKENEWS.COM, Jakarta – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian selaku Ketua Satuan Tugas (Kasatgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera membahas percepatan pemulihan pascabencana berbasis dashboard data tunggal. Pembahasan tersebut berlangsung saat Mendagri menerima Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) beserta jajaran di Posko Satgas yang berlokasi di Kantor Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Jakarta, Senin (9/2/2026).

Dalam pertemuan itu, Mendagri mengungkapkan bahwa BPS telah memiliki data yang cukup komprehensif mengenai kondisi di wilayah terdampak. Hal itu didukung oleh survei dan penugasan tim BPS yang telah turun langsung ke lokasi bencana.

“Ibu Kepala BPS menyampaikan, karena beliau sudah melakukan survei dan mengirimkan banyak tim ke daerah bencana ini, tiga [provinsi] ini, beliau … sudah memiliki dashboard tentang data-data bencana,” katanya.

Mendagri menilai, keberadaan dashboard data tunggal tersebut menjadi instrumen penting untuk menyatukan persepsi lintas kementerian/lembaga (K/L). Selain itu, dashboard tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk membagi peran dan memantau perkembangan pemulihan di lapangan secara lebih terukur.

“Kita harapkan adanya dashboard, sangat diperlukan sekali untuk menyatukan pandangan kita. Update tentang situasi daerah bencana, dan itu bisa menjadi modal kita untuk membagi tugas,” ujarnya.

Mendagri juga menyampaikan bahwa dari total 52 kabupaten/kota di tiga provinsi terdampak, pemerintah memfokuskan penanganan pada sepuluh daerah utama dengan dampak paling berat. Daerah-daerah tersebut antara lain Kabupaten Agam, Padang Pariaman, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Utara, Bireuen, Pidie Jaya, dan Aceh Tengah.

“Di bagian gunung, itu adalah Aceh Tengah, dengan berbagai indikator yang sudah kita buat. [Daerah-daerah] yang lainnya sudah saya sampaikan, itu sudah normal, banyak yang sudah normal sepenuhnya, ada yang mendekati normal,” tambahnya.

Lebih lanjut, Mendagri menjelaskan bahwa untuk mencapai kondisi normal fungsional, dibutuhkan waktu sekitar dua bulan apabila seluruh pihak dapat bekerja keras secara terpadu. Normal fungsional yang dimaksud yakni berfungsinya kembali pasar, sekolah, rumah sakit, listrik, serta fasilitas dasar lainnya.

“Saya sampaikan, bedakan dengan normal permanen. Kalau normal permanen, butuh waktu yang lebih lama lagi, mungkin bisa sampai dua tahun,” ungkapnya.

Mendagri kemudian membandingkan dengan pengalaman penanganan pascatsunami Aceh, di mana Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh membutuhkan waktu hingga lima tahun. Hal itu disebabkan pembangunan infrastruktur permanen seperti jembatan dan jalan memerlukan proses panjang, termasuk pembangunan gedung-gedung publik yang rusak berat.

“Di samping itu juga masalah gedung, misalnya, sekolah yang betul-betul hancur. Itu juga butuh waktu. Yang cukup lama juga adalah sungai. Karena sungainya banyak sungai besar, dan itu contoh [sungai di Aceh] Tamiang,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti melaporkan perkembangan dashboard data tunggal yang disiapkan sebagai dasar penyaluran bantuan agar lebih tepat sasaran. Ia menekankan, pembangunan dashboard tersebut membutuhkan dukungan kuat dan kolaborasi lintas kementerian/lembaga.

“Jadi ini luar biasa yang sudah support dan dukungan dari para Kementerian dan Lembaga untuk kita bisa membangun dashboard data tunggal,” tandasnya.

Turut hadir dalam pertemuan tersebut Direktur Jenderal (Dirjen) Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kemendagri Teguh Setyabudi, Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS Pudji Ismartini dan Deputi Bidang Statistik Sosial BPS Nashrul Wajdi. (nr)

Sumber : Puspen Kemendagri

Berita Terkait

Mendagri Tito Teken SEB, Dorong Digitalisasi Layanan Haji Berbasis Data Kependudukan
Pascagempa NTT, TP PKK dan TP Posyandu Hadir Perkuat Pemulihan Warga
Tak Sekadar Layanan Kesehatan, Posyandu Manggarai Timur Dorong Pemenuhan 6 SPM
Cegah Regulasi Tumpang Tindih, Kemendagri Jamin Kepastian Hukum bagi Pelaku Usaha
Mendagri Dorong Pemerintah Daerah Perkuat Dukungan bagi Penyelenggaraan Haji dan Umrah
TP PKK dan Posyandu Pusat Peduli Korban Gempa di NTT, Bantuan Disalurkan ke Manggarai
Dari Pusat ke Ruteng: TP PKK Hadir Menyapa dan Menyalurkan Bantuan bagi Korban Bencana
TP Posyandu Pusat dan TP PKK Perkuat Peran Posyandu Beawaek NTT dalam Pelaksanaan 6 SPM

Berita Terkait

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 08:28 WIB

Mendagri Tito Teken SEB, Dorong Digitalisasi Layanan Haji Berbasis Data Kependudukan

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 08:22 WIB

Pascagempa NTT, TP PKK dan TP Posyandu Hadir Perkuat Pemulihan Warga

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 08:14 WIB

Tak Sekadar Layanan Kesehatan, Posyandu Manggarai Timur Dorong Pemenuhan 6 SPM

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 08:06 WIB

Cegah Regulasi Tumpang Tindih, Kemendagri Jamin Kepastian Hukum bagi Pelaku Usaha

Jumat, 9 Oktober 2026 - 18:52 WIB

Mendagri Dorong Pemerintah Daerah Perkuat Dukungan bagi Penyelenggaraan Haji dan Umrah

Berita Terbaru

Yogyakarta

FKPPAI DIY Angkat Warisan Leluhur dan Budaya Nusantara

Sabtu, 10 Okt 2026 - 13:19 WIB