Keraton Yogyakarta Gelar Dialog Moral, Perkuat Nilai Integritas untuk Masa Depan Bangsa

JABAROKENEWS.COM, ‎JOGJA – Keraton Yogyakarta kembali menjadi ruang dialog kebangsaan saat Sri Sultan Hamengku Buwono X menerima tokoh lintas agama, akademisi, dan mantan pejabat nasional. Pertemuan tertutup selama lebih tiga jam, Kamis (23/7/2026), membahas berbagai persoalan nasional yang dinilai mendesak membutuhkan perhatian seluruh elemen bangsa bersama.

Hadir dalam pertemuan itu Gerakan Nurani Bangsa atau GNB bersama Sinta Nuriyah Wahid, Alissa Wahid, Lukman Hakim Saifuddin, dan Laode M. Syarif. Alissa Wahid menegaskan, “GNB merupakan gerakan moral, bukan gerakan politik praktis yang mengejar kepentingan kekuasaan sesaat,” kepada seluruh peserta pertemuan.

Menurut Alissa, “Keraton Yogyakarta dipilih karena memiliki sejarah panjang menjaga persatuan bangsa ketika Indonesia menghadapi berbagai situasi penting dan menentukan.” Salah satu pembahasan utama ialah dorongan mempercepat pengesahan Rancangan Undang-Undang Perampasan Aset untuk memperkuat pemberantasan korupsi secara menyeluruh di Indonesia.

Peserta menilai, “Pemberantasan korupsi membutuhkan instrumen hukum yang lebih kuat, transparan, serta berpihak kepada kepentingan rakyat,” dalam diskusi tersebut. Selain itu, pertemuan menyoroti pentingnya mengembalikan kepercayaan publik terhadap lembaga negara melalui integritas aparatur dan penegakan hukum yang adil.

“Kepercayaan masyarakat merupakan fondasi utama demokrasi sehingga harus terus dijaga melalui kebijakan yang transparan,” ungkap salah seorang peserta diskusi nasional.

Isu Papua juga menjadi perhatian penting dengan mendorong dialog damai sebagai jalan menyelesaikan persoalan melalui komunikasi terbuka dan saling menghormati bersama. “Pendekatan dialog jauh lebih penting untuk membangun perdamaian berkelanjutan serta memperkuat persatuan bangsa,” menjadi salah satu pandangan yang mengemuka.

Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, peserta menyusun berbagai gagasan menjadi dokumen “Pesan Kebangsaan” yang akan disampaikan kepada pemerintah pusat. Dokumen tersebut diharapkan memuat rekomendasi strategis mengenai penguatan demokrasi, supremasi hukum, persatuan nasional, serta pembangunan kepercayaan masyarakat terhadap negara Indonesia.

Sri Sultan Hamengku Buwono X menerima seluruh aspirasi dengan suasana hangat yang mencerminkan komitmen menjaga ruang dialog kebangsaan secara terbuka dan bermartabat. Pertemuan itu memperlihatkan kolaborasi lintas agama, lintas profesi, dan lintas generasi dalam mencari solusi atas berbagai tantangan kebangsaan yang berkembang saat ini. GNB berharap, “Pesan Kebangsaan menjadi pengingat bahwa persatuan, integritas, dan dialog merupakan kekuatan utama menjaga Indonesia tetap kokoh menghadapi tantangan masa depan.”(waw)