Wakil Rektor UMY Tekankan Kesuksesan Mahasiswa Harus Memberi Manfaat bagi Masyarakat

JABAROKENEWS.COM, YOGYAKARTA – Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mendorong mahasiswa baru tidak hanya mengejar kesuksesan pribadi selama menempuh pendidikan tinggi. Mahasiswa juga diharapkan mampu mengembangkan ilmu, kompetensi, dan karakter untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Wakil Rektor UMY, Prof. Faris Al-Faddad, dalam kegiatan Orientasi Studi Dasar Islam (OSDI) mahasiswa baru UMY Tahun Akademik 2026/2027 pada, Selasa (8/9) di Sportorium UMY.

Dalam sambutannya, Prof. Faris mengajak mahasiswa baru merefleksikan kembali alasan memilih UMY sebagai tempat menempuh pendidikan tinggi.

“Ke UMY Anda mencari apa?” tanyanya kepada mahasiswa baru.

Menurutnya, sebagian besar mahasiswa datang ke perguruan tinggi dengan harapan memperoleh pekerjaan yang baik. Mereka juga ingin meraih cita-cita dan mencapai kesuksesan.

Namun, Prof. Faris mengajak mahasiswa melihat makna kesuksesan dari sudut pandang yang lebih luas.

“Sukses untuk siapa?” ujarnya.

Ia menilai kesuksesan tidak cukup diukur dari jabatan, penghasilan, maupun pencapaian pribadi. Kesuksesan juga perlu dilihat dari seberapa besar keberadaan seseorang mampu memberikan manfaat bagi orang lain.

Kesuksesan Tidak Berhenti pada Pencapaian

Prof. Faris mengatakan pendidikan tinggi tidak semestinya hanya menjadi jalan untuk memperoleh gelar dan pekerjaan. Perguruan tinggi juga menjadi ruang untuk membentuk karakter dan kepedulian sosial.

Menurutnya, seseorang dapat memiliki berbagai pencapaian duniawi. Namun, pencapaian tersebut akan kehilangan makna jika tidak disertai akhlak dan kepedulian terhadap sesama.

Ia kemudian membagikan pengalaman ketika Yogyakarta dilanda gempa bumi pada Mei 2006. Saat itu, UMY turut terlibat membantu masyarakat yang terdampak bencana di sejumlah wilayah.

Mahasiswa UMY diterjunkan untuk membantu masyarakat melalui berbagai kegiatan kemanusiaan. Bahkan, mahasiswa yang masih berada pada semester awal juga mendapat kesempatan untuk terlibat.

“Saya saat itu di semester akhir ikut terjun, mengajak anak-anak SD dan membangun tenda di pelosok-pelosok tanpa listrik,” tuturnya.

Pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting bagi Prof. Faris. Menurutnya, kehidupan tidak hanya tentang mendapatkan sesuatu yang diinginkan.

Setiap orang juga memiliki tanggung jawab untuk memberikan tenaga, pikiran, dan kemampuan bagi kepentingan masyarakat.

Ilmu Harus Menjadi Amal

Pesan tersebut, lanjut Prof. Faris, juga berkaitan dengan pengalamannya ketika aktif di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).

Ia belajar bahwa kebermaknaan hidup tidak hanya ditentukan oleh apa yang berhasil diraih. Makna kehidupan juga ditentukan oleh apa yang dapat diberikan kepada orang lain.

“Yang sangat berarti dari hidup kita bukan apa yang kita raih, tapi apa yang kita beri,” tegasnya.

Nilai tersebut kemudian dikaitkan dengan identitas UMY sebagai perguruan tinggi Muhammadiyah. Menurut Prof. Faris, nama Muhammadiyah yang melekat pada UMY membawa nilai sekaligus tanggung jawab.

Ia menekankan pentingnya menghubungkan ilmu pengetahuan dengan tindakan nyata. Pengetahuan tidak cukup berhenti pada pemahaman dan prestasi akademik.

Ilmu juga perlu diterjemahkan menjadi amal dan kontribusi bagi masyarakat.

“Muhammadiyah mendirikan pendidikan karena masyarakat membutuhkan pendidikan. Muhammadiyah mendirikan rumah sakit karena masyarakat membutuhkan layanan kesehatan,” ujarnya.

Ia melanjutkan, keberadaan UMY juga tidak terlepas dari kebutuhan tersebut.

“Muhammadiyah mendirikan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini karena Indonesia membutuhkan generasi emas seperti mahasiswa baru hari ini,” katanya.

Menjadi Profesional yang Bermanfaat

Prof. Faris kemudian mengajak mahasiswa membayangkan profesi yang akan mereka jalani setelah lulus dari UMY.

Menurutnya, mahasiswa dapat menjadi guru, dokter, psikolog, pebisnis, aparatur pemerintahan, politisi, maupun profesional di berbagai bidang.

Namun, apa pun profesinya, ia berpesan agar mahasiswa tetap menjadikan pekerjaan sebagai sarana memberikan manfaat.

“Jadilah dokter dan dokter gigi yang manfaatnya seluas samudera. Jadilah pebisnis yang berbagi begitu luas kepada sesama,” pesannya.

Ia juga mendorong mahasiswa menjadi psikolog, guru, dan profesional lain yang bekerja dengan orientasi membantu masyarakat.

“Jadilah psikolog yang niatnya membantu orang lain. Jadilah guru, jadilah apapun Anda,” lanjutnya.

Karena itu, Prof. Faris berharap masa perkuliahan di UMY tidak hanya digunakan untuk mengejar prestasi akademik. Mahasiswa juga perlu membangun karakter, memperkuat nilai keagamaan, dan mengembangkan kepedulian sosial.

Menurutnya, kompetensi yang diperoleh selama kuliah harus menjadi bekal untuk menjawab persoalan di tengah masyarakat.

Membawa Nilai Muhammadiyah

Menutup sambutannya, Prof. Faris mengingatkan mahasiswa baru bahwa identitas sebagai bagian dari keluarga besar Muhammadiyah akan tetap melekat di mana pun mereka berkarya.

Ia berharap nilai yang diperoleh selama menempuh pendidikan di UMY dapat dibawa ke lingkungan profesional dan sosial.

Mahasiswa juga diminta menjalani proses perkuliahan dengan penuh semangat. Setiap pengalaman selama berada di kampus diharapkan menjadi bagian dari proses pembentukan diri.

“Dan ingat bahwa dimanapun Anda, Anda adalah kader persyarikatan Muhammadiyah,” ujarnya.

Ia berharap mahasiswa dapat tumbuh menjadi pribadi yang memiliki ilmu dan kompetensi. Pada saat yang sama, mereka juga diharapkan memiliki akhlak dan kepedulian terhadap sesama.

“Selamat bergabung di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan melewati tiga tahun setengah menjadi mahasiswa dan manusia terbaik,” pungkasnya. (gla)

 

Sumber : humas umy