Ratusan Foto Membuka Kembali Wajah Lama Yogyakarta

JABAROKENEWS.COM, ‎JOGJA – Ratusan foto lama membongkar wajah Yogyakarta, mengajak publik menyaksikan perubahan kota dari masa lalu hingga perkembangan mutakhir hari ini bagi warga dan wisatawan.

Festival Literasi dan Arsip Kota Yogyakarta 2026 resmi dibuka Senin, menghadirkan sekitar 200 foto arsip perjalanan kota lintas zaman lintas generasi dan masa.

Festival bertema Otentik Arsipnya, Konkret Literasinya, Maju Kotanya berlangsung 14 hingga 16 September di Perpustakaan Kota Yogyakarta sebagai ruang belajar masyarakat kota luas.

Afia Rosdiana mengatakan festival memperkuat gerakan literasi sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya arsip sebagai sumber pengetahuan bersama bagi masyarakat Yogyakarta secara luas.

Menurut Afia, literasi membantu masyarakat memahami informasi, sedangkan arsip menyimpan rekam jejak pembangunan sekaligus memori kolektif Kota Yogyakarta yang dapat digunakan lintas generasi.
‎“Untuk generasi muda, itu bisa menunjukkan bahwa pembangunan itu berjalan,” kata Afia saat menjelaskan pameran arsip tersebut saat membuka festival literasi tersebut.

Afia mencontohkan perubahan Malioboro yang terekam sejak 1950-an hingga kini, memperlihatkan pembangunan kota berlangsung terus menerus dan dinamis di berbagai sudut Kota Yogyakarta.

Pameran Jogja Masa Lalu menampilkan dokumentasi kawasan Yogyakarta sejak sekitar 1954 hingga dekade 1990-an, menghidupkan kembali memori kota yang sarat cerita sejarah kota.

Foto-foto tersebut menjadi jendela sejarah, memperlihatkan perubahan kawasan sekaligus mengajak generasi muda memahami proses panjang pembangunan Yogyakarta secara kritis dan kontekstual generasi muda.

Festival tidak hanya memamerkan arsip, tetapi menghadirkan Parade Dongeng, talkshow, Puskot Cinema, workshop kreatif, diskusi buku, dan public speaking sepanjang tiga hari resmi.

Memasuki hari kedua, festival menghadirkan diskusi Literasi di Era Kecerdasan Buatan serta workshop public speaking untuk pelajar Yogyakarta bagi pelajar SMA dan sederajat.

Hari terakhir diisi Podcast Duta Baca Pelajar, Jagongan Gantari, Puskot Cinema, Kalista, Parade Dongeng, podcast arsip, dan penutupan secara terbuka bagi masyarakat umum.

Bunda Literasi Yogyakarta Siti Hapsah mengaku terkesan melihat foto Kotabaru yang menunjukkan ruas jalan masih tampak serupa hingga sekarang di tengah perubahan kota.

“Itu ternyata dari tahun ’76, saya lihat fotonya, sampai sekarang sama sekali tidak ada perubahan,” ujar Siti tegas kepada pengunjung festival hari ini.

Siti menegaskan arsip harus disimpan baik karena foto, data, dan karya lama dapat menjadi sumber pembelajaran berharga untuk generasi berikutnya dan pembelajaran publik.

“Dengan mengarsipkannya dengan baik, itu akan menjadi satu kenangan yang sangat indah dan dari masa lalu kita belajar,” katanya yang tak boleh hilang.

Ia juga mendorong orang tua menjadi teladan membaca, karena teknologi digital membuat tantangan menumbuhkan kegemaran membaca semakin besar bersama keluarga setiap hari pula.

“Perlu satu tantangan yang besar, perlu satu inovasi yang besar bagaimana agar anak-anak terus dapat mengunjungi perpustakaan,” tuturnya agar minat membaca tumbuh kuat.

Staf Ahli Wali Kota Patricia Heny Dian Anitasari mengapresiasi festival karena mampu menjadikan perpustakaan sebagai ruang publik lebih hidup dekat dengan masyarakat luas.

“Dokumen-dokumen ini penting, tolong disimpan karena di kemudian hari pasti nanti itu bermanfaat untuk kita semuanya,” katanya demi kepentingan masyarakat di masa depan. (waw)
‎.