JABAROKENEWS.COM, YOGYAKARTA — Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Bantul terus mendorong peran generasi muda dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan inklusif. Salah satu langkah yang dilakukan adalah menyiapkan anggota Palang Merah Remaja (PMR) tingkat Wira sebagai agen perubahan yang mampu membantu menciptakan ruang aman bagi teman sebaya.
Upaya tersebut diwujudkan melalui Pendidikan dan Pelatihan PMR Wira Utama PMI Kabupaten Bantul Tahun 2026 yang mengusung tema “Empowering Youth, Building Safe Spaces”. Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung selama tiga hari dua malam pada (18/9/26 – 20/9/26) di Mangunan, Dlingo, Kabupaten Bantul.
Program tersebut tidak hanya berfokus pada peningkatan keterampilan kepalangmerahan. PMI Bantul juga membekali para peserta dengan kemampuan peer support dan peer educator, sehingga mereka dapat menjadi teman sebaya yang mampu mendengarkan, memberikan dukungan awal, serta membantu mengarahkan teman yang membutuhkan bantuan kepada pihak yang tepat.
Perhatian terhadap isu perundungan menjadi salah satu alasan program ini digelar. Bullying dapat terjadi dalam berbagai bentuk, mulai dari fisik, verbal, sosial, hingga melalui media digital. Kondisi tersebut dapat memengaruhi rasa aman, kepercayaan diri, serta kesejahteraan psikososial remaja.
Ketua Panitia Pendidikan dan Pelatihan PMR Wira Utama PMI Kabupaten Bantul Tahun 2026, Miladdiena Maharani Mahfudhoh, mengatakan kegiatan tersebut dirancang untuk memperkuat kapasitas anggota PMR Wira.
“Peserta terpilih akan dibekali dengan materi utama peer educator, peacebuilding, safeguarding, dan team building. Setelah mendapatkan pendampingan, para peserta diharapkan dapat menjadi agen perubahan dalam menciptakan lingkungan sekolah yang lebih aman, inklusif, dan bebas perundungan,” ujar Miladdiena.
Sebelum mengikuti pelatihan, peserta terlebih dahulu melewati proses rekrutmen dan seleksi yang melibatkan unit PMR tingkat Wira di Kabupaten Bantul.
Tercatat ada 42 unit PMR Wira yang menjadi sasaran rekrutmen. Masing-masing unit dapat mengirimkan satu tim yang terdiri dari dua anggota PMR kelas XI.
Seleksi tidak hanya melihat kemampuan peserta dalam menyampaikan gagasan. Aspek kerja sama, pemecahan masalah, pengambilan keputusan, hingga kepemimpinan juga menjadi bagian dari penilaian.
Dari proses tersebut, sebanyak 10 tim akan dinyatakan lolos untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan. Total terdapat 20 anggota PMR Wira se-Kabupaten Bantul yang menjadi peserta program.
Selama pelatihan, peserta akan mendapatkan materi secara bertahap. Hari pertama diisi dengan pembekalan mengenai program PMR Wiratama dan penguatan metode peer educator.
Memasuki hari kedua, peserta akan mempelajari peacebuilding dan safeguarding. Sementara pada hari ketiga, kegiatan dilanjutkan dengan team building serta penyusunan rencana kerja tindak lanjut yang nantinya diterapkan di unit PMR masing-masing.
PMI Kabupaten Bantul berharap pelatihan tersebut tidak berhenti pada kegiatan selama tiga hari. Para peserta diharapkan mampu membawa pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh kembali ke sekolah masing-masing.
Mereka juga didorong untuk menyusun dan menjalankan rencana kerja di unit PMR, sekaligus mengajak anggota PMR lainnya membangun komitmen bersama dalam menciptakan ruang aman di lingkungan sekolah.
Melalui program PMR Wira Utama, PMI Bantul ingin membentuk kader muda yang mampu menggerakkan budaya saling menghargai, memberikan dukungan awal kepada teman sebaya, dan membantu menciptakan lingkungan sekolah yang lebih inklusif.
Program ini juga diharapkan dapat menjadi model pemberdayaan PMR Wira sebagai agen perdamaian yang nantinya bisa dikembangkan dan diterapkan di lebih banyak sekolah di Kabupaten Bantul. (Aga)















