Milad ke-109 ‘Aisyiyah Jadi Momentum Penguatan Ketahanan Pangan dan Perlindungan Hukum
JABAROKENEWS.COM, Jogja – Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah menegaskan komitmennya memperkuat dakwah kemanusiaan dan perlindungan perempuan dalam momentum Milad ke-109 ‘Aisyiyah.
Tema “Memperkokoh Ketahanan Pangan Berbasis Qaryah Thayyibah Menuju Ketahanan Nasional” disebut bukan sekadar slogan, tetapi gerakan nyata yang menyentuh persoalan sosial di masyarakat.
“Ketahanan pangan adalah bagian dari dakwah kemanusiaan untuk mewujudkan perdamaian,” ujar Ketua Umum PP ‘Aisyiyah, Salmah Orbayinah.
Salmah menegaskan, perempuan memiliki peran strategis dalam membangun perdamaian dunia.
Menurutnya, perempuan dan anak sering menjadi kelompok paling rentan dalam konflik maupun kekerasan sosial.
“Kondisi ini mempertegas pentingnya keterlibatan perempuan dalam menghadirkan solusi kemanusiaan dan keadilan sosial,” katanya.
Ia juga menyebut penguatan dakwah perempuan menjadi langkah penting memperkuat persatuan bangsa di tengah tantangan sosial yang semakin kompleks.
Tak hanya itu, PP ‘Aisyiyah juga meresmikan 116 Pos Bantuan Hukum (Posbakum) yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Program ini disebut sebagai bentuk nyata perlindungan hukum bagi kelompok rentan.
“Penguatan Posbakum menjadi bagian dakwah kemanusiaan melalui perlindungan hukum yang berkeadilan, aksesibel, dan melindungi perempuan serta anak,” tegas Salmah.
Menurutnya, layanan bantuan hukum di tingkat desa dan kelurahan harus diperkuat agar masyarakat kecil mendapat akses keadilan yang layak.
Dalam rangkaian Milad ke-109, PP ‘Aisyiyah turut menggelar Konferensi dan Silaturahmi Nasional Ulama ‘Aisyiyah dengan tema “Konstruksi Pemikiran Ulama ‘Aisyiyah, Respons terhadap Isu Keumatan dan Kebangsaan”.
Ketua Steering Committee, Siti ‘Aisyah, menyebut kegiatan itu menjadi forum strategis perempuan ulama untuk memperkuat kapasitas keilmuan.
“Di sinilah perempuan benar-benar menentukan arah pemikiran dan kebijakan keislaman yang dikemas dalam tafsir dan fikih,” ujarnya.
Siti ‘Aisyah mengungkapkan sejumlah isu penting yang dibahas dalam forum tersebut, mulai dari perkawinan anak, nikah siri, perjanjian pranikah, kesehatan reproduksi, hingga perlindungan perempuan dalam keluarga.
“Silatnas ini memperkuat peran ulama perempuan sebagai motor penggerak Islam berkemajuan yang moderat, inklusif, dan mencerdaskan,” katanya.
Ia menilai perempuan harus hadir aktif menjawab tantangan kemasyarakatan, kebangsaan, dan kemanusiaan universal.
Menurut Siti, pemikiran Islam Berkemajuan yang dikembangkan Muhammadiyah-‘Aisyiyah menjadi jawaban atas cara pandang tekstual yang kerap menempatkan perempuan hanya di ranah domestik.
“Islam harus menghadirkan keadilan, perlindungan, dan keberpihakan terhadap perempuan dan anak,” tandasnya.
Ia berharap Milad ke-109 ‘Aisyiyah menjadi tonggak penguatan gerakan perempuan yang berkemajuan, berintegritas, dan berorientasi pada kemanfaatan bangsa. (adr)

