Pameran Foto Palestina di UMY Hadirkan Kesaksian Langsung Jurnalis dari Gaza
JABAROKENEWS.COM, Deretan foto yang memenuhi ruang pamer lantai dasar Gedung Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) bukan sekadar karya fotografi. Setiap bingkai menjadi saksi bisu atas penderitaan warga Gaza yang selama bertahun-tahun hidup di tengah perang dan krisis kemanusiaan.
Melalui Photo Exhibition bertajuk “Palestine Through the Lens”, UMY menghadirkan karya dua jurnalis internasional, yakni fotografer Palestina Mohammed Asad dan jurnalis asal Australia Zoe Reynold, Senin (29/06/2026). Pameran tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kepedulian publik terhadap kondisi nyata di Palestina.
Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi UMY, Dr. Filosa Gita Sukmono, S.I.Kom., M.A., mengatakan bahwa foto memiliki kekuatan untuk menghadirkan realitas yang sering kali tidak mampu dijelaskan melalui kata-kata.
“Melalui foto-foto ini kita diajak melihat langsung berbagai peristiwa yang terjadi di Palestina. Harapannya, sensitivitas kemanusiaan masyarakat terus terbangun sehingga isu Palestina tidak pernah hilang dari perhatian dunia,” ujarnya.
Menurut Filosa, karya yang dipamerkan berasal dari dua perspektif berbeda. Zoe Reynold mendokumentasikan situasi di kawasan perbatasan Mesir-Palestina, sedangkan Mohammed Asad merupakan fotografer yang bekerja langsung di wilayah konflik Gaza.
“Foto-foto Mohammed Asad benar-benar menggambarkan kondisi nyata di lapangan karena beliau berada langsung di tengah konflik,” katanya.
Bagi Mohammed Asad, setiap foto yang dipajang merupakan bagian kecil dari tragedi yang jauh lebih besar. Ia mengungkapkan bahwa selama lebih dari dua tahun terakhir, para jurnalis di Gaza bekerja dalam situasi yang sangat berbahaya. Kantor media dihancurkan, kendaraan dibom, bahan bakar diblokade, jaringan internet diputus, bahkan lebih dari 263 jurnalis dilaporkan meninggal dunia. Meski demikian, para jurnalis tetap berusaha mengabadikan setiap peristiwa agar dunia mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
“Kami berjalan jauh hanya dengan membawa telepon genggam untuk mendokumentasikan kenyataan di sekitar kami. Tolong terus dukung kami agar Palestina tidak dilupakan,” ujarnya.
Sementara itu, Zoe Reynold mengungkapkan tantangan lain yang ia hadapi ketika mencoba mengolah dokumentasi konflik menggunakan teknologi kecerdasan buatan. Menurutnya, beberapa sistem AI justru menolak menghasilkan visual yang menggambarkan kekerasan terhadap warga Palestina.
“Ini menjadi ironi ketika teknologi yang seharusnya netral justru tidak mampu merepresentasikan kenyataan yang terjadi di lapangan secara objektif,” ungkapnya.
Filosa menilai bahwa pameran foto tersebut bukan sekadar menghadirkan karya jurnalistik, tetapi juga menjadi bentuk advokasi kemanusiaan.
“Foto-foto ini diharapkan mampu menggugah hati setiap pengunjung. Kita mungkin tidak bisa hadir langsung di Palestina, tetapi kita bisa terus menyuarakan kemerdekaan mereka melalui karya, pemikiran, dan solidaritas kemanusiaan,” tuturnya.
Melalui lensa kamera, penderitaan yang selama ini hanya hadir sebagai angka statistik berubah menjadi wajah-wajah manusia, keluarga yang kehilangan tempat tinggal, anak-anak yang hidup di tengah reruntuhan, hingga jurnalis yang mempertaruhkan nyawa demi memastikan dunia tidak kehilangan fakta.
Bagi UMY, pameran ini menjadi pengingat bahwa fotografi bukan hanya tentang estetika, melainkan juga medium untuk menjaga ingatan kolektif dan menyuarakan keadilan bagi mereka yang suaranya berusaha dibungkam.
Sumber : Humas Umy

