Dosen UMY Raih Fellowship di Kyoto University, Teliti Dampak AI pada Industri Film

Rabu, 14 Oktober 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kaprodi Ilmu Komunikasi UMY, Dr. Filosa Gita Sukmono (belakang kiri foto) bersama para penerima Visiting Fellowship JFSEAP di Kyoto University, Jepang

Kaprodi Ilmu Komunikasi UMY, Dr. Filosa Gita Sukmono (belakang kiri foto) bersama para penerima Visiting Fellowship JFSEAP di Kyoto University, Jepang

JABAROKENEWS.COM, Yogyakarta – Perkembangan kecerdasan artifisial ( artificial intelligence /AI) mulai mengubah industri film secara mendasar. Teknologi ini dimanfaatkan dalam berbagai tahapan produksi. Mulai dari pengembangan naskah hingga penyuntingan dan pembuatan efek visual.

Perubahan tersebut menarik perhatian Dr. Filosa Gita Sukmono, S.I.Kom., M.A. Kaprodi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) ini terpilih mengikuti program Visiting Fellowship . Program tersebut diselenggarakan Japan Foundation Southeast Asia Partnership (JFSEAP) di Kyoto University, Jepang.

Melalui riset ini, Filosa akan meneliti pengaruh AI terhadap produksi film di Indonesia, Asia Tenggara, dan Jepang.

Riset yang dikembangkan Filosa berhasil menarik perhatian akademisi Kyoto University. Ia mengikuti seleksi JFSEAP dengan membawa proposal penelitian yang matang. Setelah melalui proses seleksi, ia akhirnya dinyatakan lolos.

Fellowship ini berlangsung selama empat bulan, mulai Oktober 2026 hingga akhir Januari 2027. Keikutsertaan Filosa menjadi kesempatan untuk memperluas kolaborasi akademik. Program ini juga mendukung pengembangan kajian komunikasi dan perfilman di tengah perkembangan teknologi.

Filosa menjadi salah satu akademisi Indonesia yang terpilih mengikuti program tersebut. Ia juga menjadi satu-satunya peneliti dari Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) yang memperoleh kesempatan melakukan riset di institusi mitra Jepang.

Menurut Filosa, penelitian ini berangkat dari perubahan nyata dalam proses produksi film. AI kini dapat membantu pengembangan cerita, pravisualisasi, penyuntingan, hingga produksi efek visual.

Namun, pemanfaatan teknologi tersebut juga memunculkan sejumlah pertanyaan. Isu yang muncul mencakup kreativitas, kepengarangan, etika, dan nasib tenaga kerja kreatif. Selain itu, terdapat tantangan dalam menjaga keberlanjutan identitas artistik sebuah karya.

“Penelitian saya berfokus pada bagaimana AI memengaruhi produksi film, baik di Indonesia maupun di kawasan Asia Tenggara dan Jepang. Saya ingin melihat bagaimana teknologi ini digunakan, apa tantangannya, serta bagaimana pengaruhnya terhadap proses kreatif dan praktik produksi film,” jelasnya secara daring kepada Humas UMY, Rabu (14/10/2026).

Membandingkan Praktik Produksi Film di Tiga Kawasan

Penelitian ini menggunakan pendekatan komparatif. Filosa akan mengkaji bagaimana pembuat film dan praktisi kreatif di Indonesia, Asia Tenggara, dan Jepang mengadopsi AI dalam pekerjaan mereka.

Perbedaan budaya, kondisi industri film, dan lingkungan teknologi menjadi aspek penting dalam kajian tersebut. Bagi Filosa, transformasi perfilman tidak hanya berkaitan dengan kecanggihan perangkat.

“Transformasi tersebut juga menyangkut peran manusia dalam mempertahankan kreativitas. Selain itu, penggunaan teknologi juga perlu memperhatikan prinsip tanggung jawab,” jelas Filosa lagi.

Penelitian ini turut memberi perhatian pada implikasi budaya dan etika. Penggunaan AI dalam produksi film bukan sekadar persoalan efisiensi teknologi. Pemanfaatannya juga berkaitan dengan pengambilan keputusan kreatif dan peran manusia dalam proses produksi.

Aspek lainnya adalah upaya mempertahankan identitas dan ekspresi budaya di tengah perubahan teknologi.

JFSEAP merupakan program kemitraan Japan Foundation. Program ini bertujuan memperkuat kolaborasi intelektual, membangun jejaring, dan mendukung penelitian bersama. Kemitraan tersebut melibatkan Jepang dan negara-negara Asia Tenggara.

Program ini juga mendorong pertukaran akademik dan pembahasan berbagai persoalan global. Isu yang menjadi perhatian meliputi kecerdasan artifisial, perubahan iklim, ketahanan energi, keamanan ekonomi, dan kesehatan publik.

Perkuat Kiprah UMY dalam Pengembangan Perfilman

Capaian Filosa turut memperkuat kiprah UMY dalam mengembangkan kajian komunikasi dan industri kreatif. Di Program Studi Ilmu Komunikasi UMY, pengembangan kompetensi perfilman juga terlihat melalui karya mahasiswa.

Sejumlah karya tersebut telah memperoleh pengakuan di berbagai festival. Salah satunya adalah film pendek 2Yoel. Film ini meraih penghargaan Best Fiction Short Film Award kategori komedi pada 7th PRISM UBD Short Film Festival 2024 di Brunei Darussalam.

Sementara itu, film Liang memperoleh Special Mention . Film tersebut masuk tiga besar dalam dua kategori di Festival Film Moderasi Beragama. Ajang ini diselenggarakan Kementerian Agama RI pada 2024.

Rekam jejak tersebut berlanjut melalui karya mahasiswa dan alumni lainnya. Film pendek Lies karya mahasiswa Ilmu Komunikasi UMY lolos kurasi The Student World Impact Film Festival (SWIFF) pada 2023.

Adapun film Subuh merupakan karya alumni Ilmu Komunikasi UMY, Achmad Rezi Fahlevie. Film tersebut terus memperoleh apresiasi dan meraih juara kedua dalam Short Movie Creation FISCREATION pada 2025.

Sejak dirilis pada 2021, film Subuh telah mengumpulkan lebih dari 70 bentuk apresiasi. Capaian tersebut mencakup penghargaan, nominasi, dan seleksi resmi festival film nasional maupun internasional.

Berbagai capaian tersebut memperlihatkan peran lingkungan akademik sebagai ruang pengembangan calon sineas. Mahasiswa dapat mengembangkan gagasan, mengasah keterampilan produksi, dan memperkenalkan karya kepada publik yang lebih luas.

Bagi Ilmu Komunikasi UMY, perfilman bukan hanya medium penyampaian pesan. Perfilman juga menjadi ruang pengembangan kreativitas, keterampilan teknis, kerja kolaboratif, dan pemahaman terhadap perubahan industri.

Kiprah mahasiswa dan alumni di berbagai festival film menjadi salah satu gambaran hasil pengembangan kompetensi tersebut.

Melalui penelitian di Kyoto University, Filosa berharap dapat memperkaya pemahaman tentang masa depan produksi film di tengah perkembangan AI. Kajian ini juga membuka peluang untuk menghubungkan perspektif akademik dengan kebutuhan industri kreatif yang terus berubah.

Di tengah kemajuan teknologi, tantangannya bukan sekadar menghasilkan film dengan proses lebih efisien. Kreativitas, nilai budaya, dan peran manusia juga perlu tetap menjadi bagian penting dalam proses berkarya. (lsi)

Sumber : Humas Umy

Berita Terkait

Bakar Semangat Generasi Muda, Danrem Ajak Mahasiswa UNJAYA Jadi Garda Depan Lawan Radikalisme
Rayakan HUT Ketiga, Loman Park Hotel Perkuat Komitmen Kepedulian Sosial Lewat Kegiatan Kesehatan
Lindungi Generasi Muda dari Radikalisme, Bakesbangpol DIY Gencarkan Edukasi Toleransi
Perkuat Ketahanan Pangan Antarwilayah, Pemkab Sleman dan Magelang Berkolaborasi Meredam Inflasi
Atasi Kejenuhan Perantau, Ronnie Gagang Komunitas “Jogja Berteman” hingga Gaet Puluhan Anggota
Perkuat Daya Tarik Wisata Edukasi Yogyakarta, Laras Triloka Hadirkan Kolaborasi Sains dan Budaya
Wajah Desa Makin Cantik! Program TMMD Sleman Gaspol Benahi Akses Jalan dan Rumah Warga
UMY Resmikan Sunshine Daycare, Hadirkan Ruang Ramah Keluarga bagi Civitas Academica

Berita Terkait

Rabu, 14 Oktober 2026 - 14:43 WIB

Bakar Semangat Generasi Muda, Danrem Ajak Mahasiswa UNJAYA Jadi Garda Depan Lawan Radikalisme

Rabu, 14 Oktober 2026 - 14:37 WIB

Rayakan HUT Ketiga, Loman Park Hotel Perkuat Komitmen Kepedulian Sosial Lewat Kegiatan Kesehatan

Rabu, 14 Oktober 2026 - 14:32 WIB

Dosen UMY Raih Fellowship di Kyoto University, Teliti Dampak AI pada Industri Film

Rabu, 14 Oktober 2026 - 13:01 WIB

Lindungi Generasi Muda dari Radikalisme, Bakesbangpol DIY Gencarkan Edukasi Toleransi

Rabu, 14 Oktober 2026 - 09:27 WIB

Perkuat Ketahanan Pangan Antarwilayah, Pemkab Sleman dan Magelang Berkolaborasi Meredam Inflasi

Berita Terbaru