Festival Sastra Yogyakarta 2026 Angkat LAKU sebagai Ruang Gerakan Bersama

JABAROKENEWS.COM, YOGYAKARTA – Festival Sastra Yogyakarta 2026 membawa pesan berbeda melalui tema LAKU, menempatkan sastra sebagai perjalanan kebudayaan yang terus bergerak bersama seluruh masyarakat. Digelar 23 hingga 30 Agustus di Taman Budaya Embung Giwangan, festival tersebut mengajak publik melihat sastra bukan sekadar karya, melainkan proses kehidupan sehari-hari.

Seluruh rangkaian festival dapat diakses gratis, dengan program publik berlangsung setiap hari sekitar pukul 10.00 hingga 21.00 WIB selama delapan hari penuh festival. Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta Yetti Martanti mengatakan, LAKU menggambarkan proses panjang yang setiap langkahnya memiliki makna bagi kebudayaan dan masyarakat secara luas. “Ketika berbicara tentang laku, ini merepresentasikan sebuah proses di mana setiap langkah memiliki makna,” ujar Yetti saat menjelaskan tema festival tersebut kepada publik.

Menurut Yetti, keberhasilan festival tidak cukup dihitung berdasarkan jumlah pengunjung, tetapi manfaatnya dalam menjaga keberlanjutan ekosistem sastra secara luas dan berkelanjutan bagi semua. “Proses itu sendiri menjadi sebuah laku yang bermakna untuk melahirkan kebaikan bagi kebudayaan,” katanya, menegaskan pentingnya perjalanan dalam berkarya dan berproses bersama pihak.

Tiga kurator, Paksi Raras Alit, Ramayda Akmal, dan Fairuzul Mumtaz, menerjemahkan tema LAKU menjadi beragam program yang mempertemukan pelaku sastra lintas generasi publik.

Paksi mengatakan, FSY sejak awal memang dirancang sebagai ruang perjumpaan, sehingga festival berkembang mengikuti kebutuhan dan dinamika komunitas sastra Yogyakarta secara organik publik. “Sejak awal, kami sepakat bahwa ini adalah festival bersama, kami ingin memposisikannya sebagai ruang perjumpaan bersama,” kata Paksi kepada wartawan hadir di lokasi.

Fairuzul menegaskan, FSY memiliki fokus khusus pada sastra dan humaniora, berbeda dari kegiatan literasi yang membahas isu luas masyarakat dalam kehidupan. “Fokus spesifik kami murni pada bidang sastra,” ujar Fairuzul, menegaskan orientasi festival terhadap karya, gagasan, dan perkembangan kesusastraan Indonesia masa kini secara kritis.

Selama delapan hari, FSY menghadirkan sekitar 100 pembicara, 36 sesi acara, dan 12 komunitas, termasuk pengenalan sastra koding bersama Suku Sastra kepada publik. Festival juga mempertemukan sastra Indonesia dan sastra Jawa, bukan sebagai wilayah terpisah, melainkan dua kekuatan yang saling memperkaya dalam ekosistem kebudayaan Yogyakarta lokal.

Pasar Buku Sastra, diskusi, workshop, pameran, Poetry Jam, orasi budaya, seminar nasional, hingga pertunjukan menjadi bagian rangkaian festival yang terbuka bagi publik luas. Sayembara Puisi Nasional turut membuka partisipasi luas; hingga 19 Agustus, sekitar 2.500 karya telah diterima dari berbagai daerah Indonesia tahun ini melalui penyelenggara.

Yetti menyebut kolaborasi komunitas, akademisi, penerbit, sastrawan, dan pemerintah menjadi kunci, sebab FSY diarahkan sebagai kerja bersama yang berkelanjutan dan terbuka bagi semua. Melalui LAKU, FSY 2026 ingin menegaskan sastra sebagai bagian kehidupan kota, sekaligus menguatkan jejaring penulis, pembaca, komunitas, akademisi, dan penerbit bersama masyarakat luas.(ady)