Jalur Cepat Ring Road Bukan untuk Motor, Pelanggar Terancam Denda

JABAROKENEWS.COM, ‎JOGJA – Pengendara perlu memahami aturan jalur cepat dan lambat di Ring Road Yogyakarta agar tidak salah mengambil lajur saat berkendara sehari-hari secara tertib.

‎Aturan tersebut memiliki dasar hukum dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang berlaku luas di Indonesia.

‎Selain undang-undang, pembagian lajur diperkuat rambu lalu lintas dan separator yang terpasang sepanjang sejumlah titik Ring Road Yogyakarta secara jelas dan tegas.

‎Pasal 108 ayat (3) mengatur kendaraan berjalan lebih lambat serta sepeda motor “wajib berada di lajur sebelah kiri” sesuai ketentuan yang berlaku.

‎Karena itu, sepeda motor yang nekat menggunakan jalur cepat dapat dianggap melanggar ketentuan tata cara berlalu lintas yang berlaku di jalan tersebut.

‎Jalur cepat dirancang untuk kendaraan roda empat atau lebih yang melaju relatif tinggi dengan hambatan interaksi lebih rendah bersama sepeda motor lainnya.

‎Namun, pengendara mobil juga tidak otomatis melanggar ketika berada di jalur lambat dalam kondisi tertentu sesuai aturan yang berlaku setempat dan situasional.

‎Mobil dapat menggunakan jalur lambat ketika pengemudi hendak berbelok, keluar Ring Road, memasuki gang, atau menuju permukiman di tepi jalan kawasan tersebut.

‎Ketentuan tersebut juga berlaku ketika kendaraan roda empat melaju lebih rendah sehingga membutuhkan posisi lajur sebelah kiri demi keselamatan berkendara secara aman.

‎Selain itu, kendaraan dapat berada di jalur lambat karena mengalami kendala teknis atau mendapat instruksi langsung dari petugas kepolisian setempat secara resmi.

‎Pengemudi tetap wajib memperhatikan rambu karena larangan spesifik dapat membuat kendaraan tertentu tidak diperbolehkan memasuki jalur tersebut pada lokasi dan kondisi tertentu.

‎Jika rambu melarang mobil masuk, pelanggaran dapat dikenai ketentuan Pasal 287 ayat (1) sesuai aturan lalu lintas yang berlaku pada lokasi tersebut.

‎Sanksinya berupa pidana kurungan paling lama dua bulan atau denda “paling banyak Rp500 ribu”, sesuai ketentuan bagi pelanggar rambu lalu lintas tersebut.

‎Untuk sepeda motor, pelanggaran rambu atau perintah lalu lintas juga dapat berujung sanksi berdasarkan pasal yang sama sesuai ketentuan hukum berlaku setempat.

‎Pembagian jalur bukan sekadar mengatur kelancaran, tetapi juga dirancang mengurangi risiko kecelakaan dan perbedaan kecepatan kendaraan secara signifikan di jalan raya setempat.

‎Pengendara diimbau tidak memaksakan lajur, membaca rambu, menjaga kecepatan, serta mengikuti arahan petugas demi keselamatan bersama sepanjang perjalanan di kawasan tersebut selalu.(ady)