JABAROKENEWS.COM, Yogyakarta – Reindustrialisasi dinilai perlu didorong agar Indonesia tidak terus menjadi pasar bagi produk negara lain. Pendapatan per kapita Indonesia disebut masih sekitar US$5.200 per tahun, jauh dari yang dibutuhkan untuk menjadi negara maju.
Hal tersebut disampaikan Ketua Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Daerah Istimewa Yogyakarta, Dr. Ir. Tri Budi Utama, M.T., IPU., ASEAN Eng., dalam Sumpah Profesi Insinyur Periode I 2026/2027 yang digelar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Sabtu (17/10) di Amphitheater E6 Gedung KH Ibrahim UMY.
Tri menyebut Indonesia masih berada di kelompok negara berpendapatan menengah (middle income). Menurutnya, jika tidak berhati-hati, Indonesia bisa terjebak di posisi tersebut dan sulit keluar dari middle income trap.
“Kalau kita tidak berproduksi, akan terus hanya menjadi pasar. Pengolahan barang mentah menjadi barang jadi memberi nilai tambah berlipat-lipatlah yang akan mendongkrak pendapatan nasional,” tegas Tri.
Dirinya mencontohkan nikel. Menurut Tri, nikel yang kini diekspor semestinya diolah menjadi baterai, sehingga Indonesia menjual baterai, bukan lagi nikel mentah. Ia juga menyinggung bijih besi yang dijual, sementara pembangunan di dalam negeri membutuhkan baja dalam jumlah besar dan masih bergantung pada impor.
Pesan tersebut disampaikan oleh Tri kepada 56 lulusan Program Profesi Insinyur UMY yang mengambil sumpah profesi pada hari itu. Tri menyampaikan pesan reindustrialisasi tersebut sebagai bagian dari pesan atas nama PII DIY.
Rasio Insinyur Indonesia Belum Imbang
Dalam sambutannya, Tri juga menyoroti rasio insinyur Indonesia terhadap jumlah penduduk. Ia menyebut rasio insinyur Indonesia baru sekitar 3.400-an per 1 juta penduduk. Angka tersebut masih jauh dengan negara seperti Korea Selatan yang sudah di atas 30.000. Tri sendiri mengaku prihatin dengan kondisi tersebut.
“Kemajuan bangsa itu akan sangat ditentukan oleh rasio insinyur terhadap masyarakat,” ujarnya.
Menurut Tri, insinyur adalah peletak dasar peradaban. Ia mencontohkan gedung, jembatan, dan bangunan tahan gempa yang digunakan masyarakat setiap hari. Warga tidak ragu melintasinya karena percaya pada kerja para insinyur.
Tri juga mengingatkan bahwa persaingan tidak lagi terbatas di dalam negeri. Siap atau tidak, pasar insinyur akan terbuka lebih luas. Ia menyebut Indonesia tidak mungkin menutup diri dari pengaruh luar. (lsi)
Sumber : Humas Umy















