Liburan ke Jogja Jadi Favorit, Wisatawan Malang Pilih Malioboro sebagai Destinasi Utama

JABAROKENEWS.COM, YOGYAKARTA — Yogyakarta kembali menjadi pilihan wisata bagi wisatawan luar daerah. Salah satunya Diya dan Ida, wisatawan asal Malang, Jawa Timur, yang memilih menghabiskan waktu liburannya di Kota Gudeg, khususnya kawasan Malioboro.

Keduanya datang ke Yogyakarta pada Minggu (16/8/2026) untuk berlibur selama dua hari. Bagi Diya dan Ida, daya tarik utama Yogyakarta bukan hanya suasana kotanya, tetapi juga budaya yang masih terasa kuat dalam kehidupan sehari-hari.

“Katanya Jogja itu identik sama budayanya. Jadi kita penasaran, ingin tahu dan merasakan langsung bagaimana Jogja yang katanya memang kental banget sama budayanya,” ujar Diya saat ditemui wartawan di kawasan Malioboro, Minggu (16/8/2026).

Setelah mengunjungi sejumlah destinasi, keduanya mengaku apa yang mereka dengar tentang Yogyakarta ternyata sesuai dengan pengalaman yang mereka rasakan.

Menurut mereka, nuansa budaya Yogyakarta masih mudah ditemukan. Mulai dari aktivitas masyarakat hingga keberadaan transportasi tradisional seperti delman yang menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

“Bener, ternyata memang sesuai sama klaimnya. Di sini masih kental banget sama budayanya. Banyak kegiatan yang benar-benar kental dengan budaya,” kata Diya.

Memasuki kawasan Malioboro, Diya dan Ida mengaku menikmati suasana yang semakin hidup, terutama ketika malam hari. Kawasan yang menjadi salah satu ikon wisata Yogyakarta tersebut dinilai memiliki atmosfer yang seru karena dipenuhi wisatawan.

“Suasana Malioboro sebenarnya seru banget, karena makin malam makin ramai,” ungkapnya.

Meski demikian, mereka menilai suasana Malioboro tidak terlalu berbeda jauh dengan kawasan perkotaan di Malang. Perbedaan yang paling terasa justru pada atmosfer budaya Yogyakarta yang menurut mereka lebih kuat.

Sebelum menghabiskan waktu di Malioboro, Diya dan Ida telah mengunjungi sejumlah lokasi, di antaranya Pasar Ngasem dan Pasar Beringharjo. Mereka juga menyempatkan diri mencicipi gudeg sebagai salah satu kuliner khas Yogyakarta.

Untuk persoalan harga, keduanya menilai masih relatif wajar dan tidak berbeda jauh dengan harga yang mereka temui di Malang.

“Kalau harganya sebenarnya nggak beda jauh, masih mirip-mirip sama di Malang. Kalau untuk tempat wisata, harganya masih wajar,” ujar Ida.

Di balik keseruan berlibur, Diya dan Ida memiliki sejumlah catatan untuk pengembangan kawasan Malioboro ke depan.

Salah satu yang mereka soroti adalah lalu lintas. Menurut mereka, kepadatan kendaraan membuat wisatawan cukup kesulitan ketika hendak menyeberang jalan.

“Kita nyebrang juga susah, harus berebutan sama kendaraan. Itu saja sih,” kata Diya.

Keduanya juga tidak mempermasalahkan apabila akses kendaraan bermotor di kawasan Malioboro nantinya semakin dibatasi. Namun, menurut mereka, kebijakan tersebut harus diikuti dengan pengaturan jalur alternatif yang baik agar tidak menimbulkan kemacetan baru di kawasan lain.

Selain transportasi, persoalan kebersihan juga menjadi perhatian. Diya dan Ida mengaku masih menemukan sampah di sejumlah sudut kawasan Malioboro serta kesulitan menemukan tempat sampah ketika berjalan dari kawasan pasar.

“Lebih ke transportasi sama kebersihannya. Masih ada sampah-sampah di pinggir. Kita juga agak kesusahan mencari tempat sampah,” ujar Diya.

Meski memberikan sejumlah catatan, pengalaman pertama mereka di Yogyakarta tetap meninggalkan kesan positif. Dengan waktu liburan dua hari, Diya dan Ida berharap dapat menikmati lebih banyak destinasi sebelum kembali ke Malang.

Bagi keduanya, Malioboro tetap menjadi salah satu tempat yang menarik untuk dikunjungi ketika berlibur ke Yogyakarta, terutama bagi wisatawan yang ingin merasakan perpaduan antara keramaian kota, kuliner, serta budaya yang menjadi identitas kuat Kota Jogja. (Aga)