Nilai-Nilai Budaya Jawa Jadi Kekuatan Keluarga Hadapi Era Modern

JABAROKENEWS.COM, ‎JOGJA – Pemkot Yogyakarta menguatkan ketahanan keluarga berbasis budaya Jawa melalui workshop yang menekankan etika, tata krama, dan budi pekerti.

Workshop digelar DP3AP2KB bersama Dharma Wanita Persatuan Kota Yogyakarta di Gedung PKK, Senin (14/9/2026), sebagai rangkaian HUT DWP.

Mengangkat tema merawat jati diri melalui etika dan tata krama, kegiatan ini menyasar penguatan keluarga menghadapi tantangan era modern keluarga keluarga keluarga keluarga.

Ketua DWP Kota Yogyakarta Nurhayati Budi Santosa Asrori mengatakan keluarga harus menjadi tempat pertama menanamkan karakter, etika, dan budaya.

“Kegiatan workshop ini harapannya mendorong anggota Dharma Wanita untuk menjadi teladan dalam pembentukan karakter bagi generasi muda,” kata Nurhayati.

Menurut Nurhayati, etika, tata krama, dan budi pekerti berbasis budaya Jawa penting menjadi pondasi keluarga menghadapi perubahan zaman yang cepat.

“Meningkatkan kesadaran anggota Dharma Wanita terkait pentingnya etika, tata krama, dan budi pekerti, dalam hal ini budaya Jawa sebagai pondasi keluarga,” ujarnya.

Kepala DP3AP2KB Kota Yogyakarta Retnaningtyas menegaskan keluarga merupakan pondasi utama sekaligus sekolah pertama bagi anak dalam belajar kehidupan.

“Di keluarga anak belajar unggah-ungguh, tata krama, agama, dan sosial. Jangan sampai semua pembelajaran justru dipasrahkan sepenuhnya kepada sekolah,” tegas Retnaningtyas.

Retnaningtyas mengingatkan berbagai persoalan anak masih terjadi, mulai kekerasan dalam rumah tangga, perundungan, hingga kehamilan pada usia anak.

“Kita mulai belajar kembali bagaimana menguatkan ketahanan keluarga khususnya dengan adat budaya Jawa. Pondasi utama itu dari keluarga,” terangnya.

Ia menyebut budaya unggah-ungguh, tata krama, dan adab perlu digali kembali lalu diajarkan keluarga agar anak memiliki pondasi kuat.

“Kalau itu digali, dibuka kembali, kemudian kita ajarkan kepada anak-anak melalui keluarga, itu akan sangat berpengaruh terhadap pondasi si anak,” katanya.

Orang tua juga diminta menjadi teladan penggunaan gawai, termasuk membatasi waktu bermain handphone ketika meminta anak melakukan hal serupa.

“Kalau mengingatkan anak membatasi handphone, orang tua juga harus memberi contoh. Orang tua perlu mengontrol dan mengecek handphone anak,” ujarnya.

Retnaningtyas berharap Dharma Wanita menggiatkan program peningkatan akhlak, adab, adat, dan budaya agar anak memahami sopan santun serta tepa slira.

Dosen Pendidikan Seni Anak Usia Dini UNY Dr Joko Pamungkas menilai budaya harus dikenalkan keluarga, bukan hanya melalui kesenian.

“Budaya tidak sebatas wayang dan gamelan, tetapi mencakup nilai, bahasa, karya, serta filosofi yang membentuk etika dalam kehidupan keluarga,” pungkas Joko.(waw)