Prosesi Spiritual Lintas Negara Meriahkan Perayaan Waisak 2026 di Yogyakarta

JABAROKENEWS.COM, YOGYAKARTA — Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) akan menjadi salah satu titik penting perjalanan spiritual lintas negara bertajuk Indonesia Walk for Peace (IWFP) 2026, sebuah prosesi jalan damai para biksu menuju puncak perayaan Hari Raya Waisak di Candi Borobudur.

Sebanyak 55 biksu dari tiga negara, yakni Thailand, Malaysia, dan Laos, dijadwalkan memasuki wilayah Yogyakarta pada (25/5/26 – 27/5/26). Perjalanan spiritual ini dimulai dari Bali, melintasi Jawa Timur, Jawa Tengah, hingga berakhir di Borobudur, Kabupaten Magelang.

Pembimbing Masyarakat Buddha Kantor Wilayah Kementerian Agama DIY, Pandu Dinata, mengatakan IWFP merupakan transformasi dari tradisi spiritual yang sebelumnya dikenal sebagai Thudong, yakni perjalanan asketisme para biksu yang telah berlangsung selama empat tahun terakhir.

“Awalnya sejak empat tahun lalu namanya Thudong, yaitu perjalanan spiritual para biksu atau sangha yang hidup secara alami, tanpa alas kaki, tanpa persiapan khusus, tidur di mana saja, makan sesuai apa yang ditemui sepanjang perjalanan,” ujar Pandu.

Menurutnya, pada 2026 kegiatan tersebut resmi bertransformasi menjadi Indonesia Walk for Peace dengan skala lebih luas dan melibatkan peserta lintas negara.

“Sekarang menjadi Indonesia Walk for Peace 2026. Diikuti 55 biksu dari tiga negara dan berakhir di Borobudur saat puncak Waisak,” katanya.

Pandu menjelaskan, salah satu kekhasan pelaksanaan Waisak di Indonesia adalah adanya detik-detik Waisak, sebuah momen meditasi bersama menjelang waktu sakral peringatan kelahiran, pencerahan, dan wafatnya Buddha Gautama.

“Indonesia punya tradisi detik-detik Waisak yang berbeda dengan negara lain. Beberapa menit sebelum puncak Waisak, umat dan para biksu melakukan meditasi bersama. Perjalanan para biksu ini akan berakhir di sana,” jelasnya.

Ia menyebut tradisi perjalanan spiritual seperti Thudong umumnya dilakukan di negara-negara mayoritas Buddhis dengan kawasan hutan atau alam terbuka. Karena itu, pelaksanaannya di area perkotaan membutuhkan pengaturan lebih matang agar tidak mengganggu aktivitas publik.

“Biasanya dilakukan di hutan atau tempat yang lebih kondusif. Kalau di kota tentu harus diatur supaya tetap nyaman dan tertib,” katanya.

DIY dipilih menjadi titik persinggahan penting setelah komunitas Buddha lokal sebelumnya menyatakan kesiapan menjadi tuan rumah apabila rombongan melintas dari arah timur Pulau Jawa.

Ketua panitia wilayah Yogyakarta menyebut komitmen tersebut bermula sejak pertemuan dengan rombongan biksu pada 2023 di kawasan Prambanan.

“Kami pernah berjanji, bila suatu saat perjalanan melewati Yogyakarta dari arah timur, maka kami siap menjadi tuan rumah. Karena itu para biksu nantinya akan beristirahat di Perkumpulan Budi Abadi,” ujarnya.

“Kami merasa Jogja ini city of tolerance yang kuat, sehingga kegiatan di sini kami upayakan diperpanjang menjadi tiga hari agar keterlibatan masyarakat lebih besar,” ujar panitia.

Sementara itu, Panitia Sie Acara DIY Indonesia Walk for Peace 2026, Ernest Lianggar Kurniawan, mengatakan pihak panitia telah menyiapkan rangkaian penyambutan selama tiga hari di Yogyakarta dengan melibatkan unsur masyarakat lintas agama, komunitas, hingga pelajar.

Para bikhu diperkirakan memasuki wilayah DIY melalui Gerbang Candi Prambanan pada (25/5/26) sekitar pukul 13.00 WIB. Masyarakat dan umat Buddha akan dilibatkan dalam prosesi tabur bunga sebagai simbol penyambutan.

“Kebiasaan perjalanan Thudong saat memasuki wilayah biasanya disambut dengan tabur bunga. Karena itu kami mengajak umat dan masyarakat untuk ikut terlibat dalam penyambutan,” ujarnya

Setelah itu rombongan akan berjalan menuju pusat Kota Yogyakarta melewati Tugu Yogyakarta, Malioboro, hingga Titik Nol Kilometer, sebelum diterima secara resmi oleh Gubernur DIY di Kompleks Kepatihan.

Penyambutan di kawasan Malioboro dijadwalkan berlangsung sekitar 17.00 WIB, dengan dukungan berbagai unsur masyarakat, termasuk Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), komunitas budaya, hingga pelajar sekolah di sekitar kawasan tersebut.

Panitia menyebut rekayasa lalu lintas akan dilakukan mulai 16.30 WIB di sejumlah titik Malioboro selama prosesi berlangsung.

“Pak Wali Kota meminta masyarakat ikut terlibat agar Yogyakarta benar-benar menunjukkan wajah toleransi,” kata panitia.

Pada (26/5/26), masyarakat juga akan dilibatkan dalam kegiatan Pindapata, yakni tradisi pemberian dana makanan pagi kepada para biksu yang akan berlangsung di sepanjang kawasan Malioboro hingga Titik Nol Kilometer mulai pukul 06.00–07.00 WIB.

Masyarakat diimbau membawa makanan kering sebagai bentuk dana makan kepada para biksu.

Selain itu akan digelar puja bakti, penyerahan dana paramita dari donatur, hingga prosesi pencucian kaki para biksu menggunakan air bunga di Perkumpulan Budi Abadi.

Selanjutnya pada (27/5/26), rombongan akan dilepas secara resmi menuju Magelang oleh Wakil Wali Kota Yogyakarta sebelum melanjutkan perjalanan menuju Borobudur.

Pandu memastikan persiapan penyelenggaraan di Yogyakarta telah mencapai sekitar 80 persen. Koordinasi disebut telah dilakukan hingga tingkat kemantren, kelurahan, RT/RW, sekolah, hingga unsur masyarakat.

“Secara umum persiapan sudah 80 persen. Tinggal penguatan koordinasi teknis, termasuk penerimaan simbolis oleh Ngarsa Dalem dan pelepasan oleh Wakil Gubernur maupun Wakil Wali Kota,” ujarnya.

Indonesia Walk for Peace 2026 diharapkan menjadi lebih dari sekadar perjalanan spiritual umat Buddha, tetapi juga momentum memperkuat pesan perdamaian, toleransi, dan harmoni keberagaman di Indonesia, khususnya di Yogyakarta sebagai kota yang dikenal menjunjung nilai kebhinekaan. (Aga)