Ruang Masyarakat Ketemu 2026 Hadir, Warisan Budaya Didorong Lebih Dekat dengan Generasi Muda

Selasa, 6 Oktober 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JABAROKENEWS.COM, Yogyakarta – Ruang Masyarakat Ketemu (Rumaket) 2026 resmi dibuka di Taman Pintar Yogyakarta, Minggu (4/10/2026). Memasuki tahun keenam penyelenggaraannya, kegiatan yang digagas Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta ini kembali menghadirkan ruang kreatif untuk mendekatkan warisan budaya tak benda dengan kehidupan masyarakat masa kini.

Mengusung tema “Hageganti”, Rumaket 2026 mengajak masyarakat melihat kembali warisan budaya tak benda melalui bentuk, pendekatan, dan cara penyampaian yang lebih relevan dengan perkembangan zaman.

Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Yetti Martanti, mengatakan Rumaket tidak sekadar menjadi ruang pertunjukan budaya. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat proses pewarisan budaya agar tetap hidup dan dapat dipahami oleh generasi muda.

“Yang menarik kita menghadirkan pertunjukan kolaborasi Wayang Playground. Dalang maupun pemainnya adalah anak-anak. Jadi bagaimana kemudian pewarisan budaya yang disampaikan itu bisa dipahami oleh anak-anak dalam konteks hari ini,” ujar Yetti.

Salah satu sajian yang mencuri perhatian dalam pembukaan Rumaket 2026 adalah pertunjukan kolaborasi Wayang Playground: Menyusun Puzzle Menuju Alengka.

Berbeda dengan pertunjukan wayang konvensional, pertunjukan tersebut melibatkan anak-anak sebagai dalang sekaligus pemain. Konsep itu menjadi salah satu cara kreatif Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta dalam memperkenalkan wayang kepada generasi muda melalui medium yang lebih dekat dengan dunia mereka.

Pendekatan tersebut juga menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak selalu harus dilakukan dengan cara-cara lama. Justru, kreativitas dan adaptasi menjadi bagian penting agar budaya tetap memiliki ruang di tengah perubahan zaman.

Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, turut mengapresiasi pendekatan yang dilakukan melalui Wayang Playground. Menurutnya, transformasi dalam penyajian wayang dapat menjadi pintu masuk bagi anak-anak muda untuk mengenal sekaligus mencintai budaya tradisional.

“Dari wayang tadi sudah ditransformasi bagaimana anak-anak muda bisa menyukai wayang. Ini sangat luar biasa karena mereka sudah rutin berlatih dan hari ini ditampilkan. Mereka sangat cukup berbakat,” katanya.

Sementara itu, keterlibatan generasi muda dalam Rumaket 2026 terlihat dari sosok Simon Abimanyu, 14 tahun. Siswa SMP Stella Duce 2 Yogyakarta tersebut menjadi salah satu peserta Wayang Playground dan telah mengenal dunia pedalangan sejak usia tiga tahun.

Bagi Simon, wayang bukan sekadar kesenian tradisional. Wayang menjadi ruang untuk mengekspresikan diri sekaligus mempelajari berbagai nilai kehidupan.

“Menurut saya wayang itu unik dan menarik. Selain bisa mengekspresikan diri melalui wayang kulit, kita juga bisa menggali nilai-nilai yang ada di dalamnya,” ujar Simon.

Menariknya, kecintaan Simon terhadap wayang juga ia kembangkan melalui media pembelajaran digital. Ia membuat media berbasis gim menggunakan aplikasi Canva untuk mengenalkan wayang kepada teman-teman sebayanya dengan cara yang lebih interaktif.

Media tersebut mengangkat lakon Dewa Ruci yang dinilai memiliki nilai-nilai yang relevan bagi pelajar. Selain menyajikan materi secara interaktif, Simon juga menambahkan kuis untuk mengukur pemahaman pengguna setelah mempelajari materi wayang.

Upaya tersebut menjadi gambaran bagaimana pewarisan budaya dapat berjalan melalui berbagai medium, termasuk teknologi digital yang dekat dengan kehidupan generasi muda.
Melalui Rumaket 2026, Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta ingin memastikan warisan budaya tak benda tidak berhenti sebagai peninggalan masa lalu. Budaya justru perlu terus diolah, dikenalkan, dan dihidupkan kembali melalui kreativitas masyarakat agar tetap memiliki makna bagi generasi saat ini.

Tema Hageganti pun menjadi relevan dengan semangat tersebut: budaya terus diwariskan, tetapi cara masyarakat mengenal, memahami, dan menikmatinya dapat terus berubah mengikuti perkembangan zaman. (Aga)

Berita Terkait

Semarak HUT ke-81, TNI dan Rakyat Bersatu dalam Pagelaran Wayang Kulit
Gebyar Batik Sleman 2026 Hadir, Produk IKM Dapat Diskon hingga 50 Persen
Fragments in Bloom Hadir di GRAMM HOTEL by Ambarrukmo Yogyakarta
Perkara Syarat Pendidikan Gibran di MK Bukan Sekadar Soal Dokumen Pendidikan
Gugatan Pendidikan Gibran di MK, Pakar Hukum UMY Jelaskan Nasib Jabatan Wapres
Masuk Jalur KA Aktif di Stasiun Maguwo, ODGJ Diamankan Petugas
Kekeringan Melanda Gunungkidul, Warga Desa Warak dan Ngrenengan Terima Bantuan Air
Kejutan HUT ke-81 TNI, Elemen Masyarakat Yogyakarta Sambangi Makorem 072/Pamungkas

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 08:22 WIB

Semarak HUT ke-81, TNI dan Rakyat Bersatu dalam Pagelaran Wayang Kulit

Selasa, 6 Oktober 2026 - 08:14 WIB

Gebyar Batik Sleman 2026 Hadir, Produk IKM Dapat Diskon hingga 50 Persen

Selasa, 6 Oktober 2026 - 08:09 WIB

Ruang Masyarakat Ketemu 2026 Hadir, Warisan Budaya Didorong Lebih Dekat dengan Generasi Muda

Senin, 5 Oktober 2026 - 16:53 WIB

Perkara Syarat Pendidikan Gibran di MK Bukan Sekadar Soal Dokumen Pendidikan

Senin, 5 Oktober 2026 - 16:51 WIB

Gugatan Pendidikan Gibran di MK, Pakar Hukum UMY Jelaskan Nasib Jabatan Wapres

Berita Terbaru