UMY Dorong Kolaborasi Akademisi dan Industri Perkuat Rantai Pasok Indonesia

JABAROKENEWS.COM, Tantangan distribusi barang dan pengelolaan rantai pasok masih menjadi persoalan yang dihadapi Indonesia, terutama dalam menjamin ketersediaan layanan publik yang merata di berbagai wilayah. Kompleksitas geografis sebagai negara kepulauan, ditambah tingginya kebutuhan sektor kesehatan, pendidikan, dan layanan sosial menuntut adanya sistem logistik yang lebih terintegrasi dan efisien.

Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Hilirisasi Univesitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Med. dr. Supriyatiningsih, Sp. OG., M. Kes, menekankan bahwa penguatan sistem logistik tidak hanya berkaitan dengan aktivitas perdagangan, tetapi juga berpengaruh langsung terhadap keberlangsungan layanan publik, khususnya sektor kesehatan. Menurutnya, kebutuhan akan sistem distribusi yang andal semakin mendesak mengingat besarnya jaringan amal usaha yang dimiliki Muhammadiyah di berbagai daerah.

“Muhammadiyah memiliki sekitar 187 rumah sakit yang tersebar di seluruh Indonesia. Selain itu, kami juga memiliki hampir 200 perguruan tinggi dan ribuan sekolah dari berbagai jenjang pendidikan. Dengan jaringan yang sangat besar tersebut, kebutuhan terhadap sistem logistik yang efektif dan terhubung menjadi sangat penting untuk memastikan seluruh layanan dapat berjalan dengan baik,” ungkapnya dalam acara _One-Day Workshop on Multi-Modal Freight Flows in Indonesia,_ Kamis (4/6) di Gedung Ar Fachruddin A Lantai 5, Kampus Terpadu UMY.

Sektor kesehatan menjadi salah satu contoh nyata bagaimana tantangan rantai pasok dapat berdampak langsung terhadap pelayanan kepada masyarakat. Ketergantungan terhadap pasokan obat-obatan dari luar negeri kerap menimbulkan kendala distribusi yang membutuhkan waktu panjang sebelum barang dapat diterima oleh pengguna akhir.

Ia menilai persoalan tersebut tidak hanya dirasakan oleh rumah sakit Muhammadiyah saja, tetapi juga menjadi tantangan yang lebih luas bagi sistem kesehatan nasional. Karena itu, penguatan kolaborasi dan pengembangan kajian mengenai logistik menjadi langkah penting untuk mendukung ketersediaan layanan kesehatan yang berkelanjutan.

“Ketika kita berbicara tentang kebutuhan obat-obatan, persoalannya tidak hanya menyangkut rumah sakit Muhammadiyah. Kebutuhan tersebut juga dirasakan oleh rumah sakit pemerintah maupun berbagai penyedia layanan kesehatan lainnya. Karena itu, isu logistik dan rantai pasok bukan persoalan satu institusi, melainkan tantangan bersama yang membutuhkan solusi dan kerja sama dari banyak pihak,” jelas dr. Upi.

Berangkat dari kebutuhan tersebut, UMY memandang penguatan sistem logistik memerlukan keterlibatan berbagai pemangku kepentingan. Dunia akademik, industri, dan lembaga riset dinilai perlu terlibat dalam upaya memperkuat pemahaman serta mencari solusi atas berbagai tantangan logistik dan rantai pasok yang dihadapi Indonesia.

“Kami ingin mempertemukan komunitas akademik yang lebih luas, tidak hanya dari lingkungan Muhammadiyah, tetapi juga dari berbagai institusi di Indonesia maupun dunia. Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti pada workshop semata, melainkan berkembang menjadi komunikasi dan kolaborasi yang berkelanjutan,” harapnya.

Kegiatan ini diselenggarakan UMY bekerja sama dengan _The Logistics Institute – Asia Pacific (_ TLI-AP) dan National University of Singapore (NUS). Workshop tersebut menghadirkan akademisi, peneliti, dan praktisi untuk mendiskusikan tantangan serta peluang pengembangan sistem logistik dan rantai pasok di Indonesia.

Sumber : Humas Umy