Baitul Arqam UMY Jadi Momentum Dosen Teguhkan Nilai Muhammadiyah
JABAROKENEWS.COM, YOGYAKARTA – Baitul Arqam Dosen Tetap Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Tahun 2026 menjadi momentum bagi dosen UMY untuk kembali meneguhkan pemahaman terhadap nilai, filosofi, dan identitas Muhammadiyah dalam menjalankan peran di lingkungan perguruan tinggi. Sekretaris BPH (Badan Pembina Harian) UMY, H. Arba Riksawan Qomaru, S.E., menekankan bahwa keberadaan seseorang di institusi Muhammadiyah membawa tanggung jawab untuk memahami sekaligus merepresentasikan nilai-nilai yang menjadi dasar gerakan Muhammadiyah.
Menurutnya, dosen tidak hanya menjalankan fungsi akademik tetapi juga menjadi bagian dari dakwah Muhammadiyah melalui peran dan aktivitasnya di lingkungan kampus. Karena itu, pemahaman terhadap nilai Muhammadiyah perlu terus diperkuat agar setiap warga UMY dapat menjalankan tugasnya selaras dengan identitas dan tujuan institusi.
“Ketika kita berada dalam sebuah lembaga atau institusi yang ada label Muhammadiyah, mau tidak mau kita menjadi aparat dakwah. Sehingga siapapun yang berada di Universitas Muhammadiyah ini harus mau dan rela disebut sebagai muballigh dan muballighah,” ujar Arba, Rabu (19/8) di UMY Student Dormitory.
Bagi Arba, Baitul Arqam menjadi ruang untuk kembali melihat dasar-dasar Muhammadiyah yang menjadi fondasi dalam menjalankan aktivitas di perguruan tinggi. Ia mengibaratkan kegiatan tersebut sebagai kesempatan bagi warga Muhammadiyah untuk “pulang ke rumah” dan kembali menengok nilai-nilai yang mungkin terabaikan karena kesibukan sehari-hari.
Ia menjelaskan Muhammadiyah memiliki sejumlah landasan yang menjadi pijakan dalam menjaga arah gerak organisasi. Di antaranya Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah, Khittah Perjuangan Muhammadiyah, Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah, hingga Risalah Islam Berkemajuan. Berbagai landasan tersebut memiliki benang merah yang menegaskan pentingnya tauhid sebagai fondasi utama kehidupan warga Muhammadiyah.
“Kalau kita lihat pilar-pilar ideologi Muhammadiyah itu, garis merahnya sama. Intinya adalah bagaimana kita sebagai warga Muhammadiyah yang utama adalah menegakkan tauhidullah. Kemudian pilar-pilar itu juga untuk menjaga agar persatuan Muhammadiyah tetap dijalankan sesuai dengan apa yang dulu diciptakan oleh para pendiri,” tuturnya.
Pemahaman terhadap nilai tersebut, perlu terus diperbarui agar warga Muhammadiyah tidak hanya mengenal organisasi secara administratif tetapi juga memahami karakter yang perlu tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Di mana keikhlasan, kejujuran, dan sikap tawadhu sebagai bagian dari karakter warga Muhammadiyah yang perlu dijaga.
Selain penguatan nilai organisasi, Baitul Arqam pun menjadi ruang bagi dosen untuk melakukan refleksi terhadap kehidupan keislaman masing-masing. Arba mendorong peserta menggunakan momentum tersebut untuk mengevaluasi praktik ibadah, termasuk kemampuan membaca Al-Qur’an, sebagai bagian dari upaya mewujudkan identitas UMY yang unggul sekaligus Islami.
“Jangan sampai kita punya moto unggul dan Islami, tetapi kita sendiri tidak bertanya keunggulan kita di mana dan Islamiyah kita di mana. Oleh karena itu, BPH betul-betul ingin menjaga agar nilai Islam dan Muhammadiyah itu diterapkan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta,” kata Arba.
Ke depan, ia berharap pembinaan melalui Baitul Arqam dapat terus dikembangkan secara lebih intensif sehingga menjadi ruang pembelajaran, refleksi, sekaligus penguatan komitmen bagi warga UMY dalam menjalankan peran akademik dan dakwah Muhammadiyah. (LSI)
Sumber : humas umy

