JABAROKENEWS.COM, BENGKULU – BPDP bersama Kementerian Pertanian dan LPP Agro Nusantara memperkuat pemahaman ISPO bagi pekebun swadaya Kabupaten Bengkulu Selatan melalui pelatihan intensif untuk keberlanjutan nasional.
Pelatihan berlangsung enam hari, 15 hingga 20 September 2026, di Hotel Mercure Bengkulu, diikuti 99 pekebun swadaya dari Bengkulu Selatan. dari wilayah tersebut
Program tersebut merupakan bagian Program Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit yang didorong BPDP bersama Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian untuk penguatan kapasitas pekebun.
LPP Agro Nusantara dipercaya memfasilitasi pelaksanaan pelatihan, dengan materi yang diarahkan memperkuat keterampilan, tata kelola, serta penerapan praktik perkebunan berkelanjutan bagi para pekebun.
Kegiatan resmi dibuka Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Bengkulu, Hj. Sri Herlin Despita, S.Pt., M.P., pada kesempatan tersebut secara langsung.
Pembukaan pelatihan diawali Tari Poi Sesaji, menghadirkan nuansa budaya lokal sebelum peserta mengikuti rangkaian materi mengenai Indonesian Sustainable Palm Oil secara resmi berkelanjutan.
Selama enam hari, para pekebun mendapatkan pemahaman mengenai ISPO sebagai bagian penting penguatan praktik perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan di tingkat nasional Indonesia.
Penguatan kapasitas menjadi perhatian karena pekebun swadaya memiliki peran besar dalam rantai industri sawit nasional, terutama melalui pengelolaan kebun secara konsisten dan nyata.
Direktur LPP Agro Nusantara Pranoto Hadi Raharjo menyebut produktivitas masih menjadi isu strategis dalam memperkuat peran pekebun swadaya di tingkat nasional secara nasional.
Menurut Pranoto, kepemilikan lahan pekebun swadaya mencapai sekitar 40 persen dari total lahan sawit nasional yang tersebar di 26 provinsi dalam industri sawit.
Namun, kontribusi produksi crude palm oil atau CPO dari pekebun swadaya disebut baru berkisar 30 hingga 35 persen secara nasional berdasarkan kondisi nasional.
“Produktivitas masih menjadi isu strategis dalam memperkuat peran pekebun sawit swadaya dalam peta bisnis kelapa sawit nasional,” ujar Pranoto secara tegas nasional Indonesia.
Karena itu, peningkatan keterampilan menjadi kebutuhan penting agar pekebun mampu mengelola kebun secara lebih baik, produktif, dan berkelanjutan ke depan untuk masa mendatang.
Pranoto menegaskan pemerataan pemahaman mengenai praktik budidaya yang baik membutuhkan keterlibatan seluruh pelaku industri sawit di Indonesia secara bersama dan berkelanjutan secara bersama.
“Peningkatan keterampilan dan pemerataan pemahaman mengenai praktik budidaya yang baik menjadi tanggung jawab bersama seluruh pelaku industri sawit,” katanya secara berkelanjutan di Indonesia.
Pelatihan ISPO di Bengkulu Selatan diharapkan memperkuat kesiapan pekebun memahami standar keberlanjutan serta menerapkannya dalam pengelolaan kebun masing-masing secara lebih optimal di daerah.
Selain pembelajaran di ruang pelatihan, peserta juga dijadwalkan mengikuti kegiatan lapangan untuk melihat penerapan praktik perkebunan secara langsung di lapangan nantinya secara langsung.
Fieldtrip dijadwalkan pada 19 September 2026 menuju PT Mutiara Sawit Seluma atau MSS sebagai bagian dari rangkaian pembelajaran peserta secara langsung dalam praktik.
Kegiatan lapangan tersebut menjadi kesempatan peserta menghubungkan materi pelatihan dengan kondisi praktik budidaya, pengelolaan, serta penerapan prinsip keberlanjutan secara nyata di lapangan setempat.
Melalui pelatihan ini, BPDP, Kementerian Pertanian, dan LPP Agro Nusantara terus mendorong peningkatan kapasitas pekebun menuju industri sawit berkelanjutan di tingkat nasional nasional.(waw)















