Temuan tersebut, menurut Wildan, merupakan hasil evaluasi lapangan yang menunjukkan lemahnya fondasi pendidikan pada jenjang awal. Kondisi ini dinilai menjadi peringatan serius bagi ekosistem pendidikan daerah, terlebih di tengah dorongan percepatan digitalisasi sekolah yang terus digalakkan pemerintah kota.
“Bicara calistung ini sangat mendasar. Namun faktanya, masih banyak siswa kelas 3 yang belum mampu membaca, menulis, dan menghitung dengan baik. Ini harus menjadi perhatian bersama,” ujar Wildan.
Ia menegaskan, fase krusial pendidikan dasar berada pada kelas 1 hingga kelas 3. Pada tahap ini, penguatan literasi dan numerasi seharusnya menjadi prioritas utama. Ketika fondasi tersebut rapuh, siswa akan menghadapi kesulitan berlipat dalam memahami materi yang lebih kompleks di jenjang berikutnya.
Dalam pandangan DPRD Kota Bekasi, persoalan ini tidak bisa diselesaikan secara parsial. Diperlukan evaluasi menyeluruh terhadap metode pembelajaran di sekolah dasar, termasuk pendekatan pengajaran yang selama ini cenderung pasif dan kurang adaptif terhadap kebutuhan siswa.
Sejumlah langkah strategis pun didorong. Pertama, penguatan kurikulum awal dengan menitikberatkan pada calistung secara berulang dan terstruktur di kelas 1 hingga 3. Kedua, inovasi metode pengajaran agar lebih interaktif dan sesuai dengan perkembangan psikologis anak. Ketiga, peningkatan kompetensi guru melalui pelatihan berkelanjutan agar mampu mendeteksi dan mengatasi ketertinggalan belajar siswa sejak dini.
“Penguatan di kelas awal harus berbasis calistung, literasi, dan numerasi. Dengan begitu, saat masuk kelas 4, siswa sudah siap memahami materi yang lebih kompleks,” kata Wildan.
Di sisi lain, DPRD Kota Bekasi juga mengingatkan bahwa program digitalisasi pendidikan berpotensi menjadi tidak efektif jika kemampuan dasar siswa belum tuntas. Kehadiran perangkat teknologi di ruang kelas tidak akan memberikan dampak signifikan apabila siswa masih kesulitan memahami teks atau operasi hitung sederhana.
Dengan demikian, momentum Hardiknas 2026 menjadi pengingat bahwa transformasi pendidikan tidak cukup hanya mengandalkan teknologi. Tanpa fondasi dasar yang kuat, upaya modernisasi justru berisiko memperlebar kesenjangan kualitas pembelajaran di tingkat dasar. (Adv/Setwan)