Peringatan Dua Dekade Gempa Jogja Tegaskan Pentingnya Budaya Tangguh Bencana

‎JABAROKENEWS.COM, Jogja – Suasana haru menyelimuti pelataran kawasan Candi Prambanan, Sabtu 23 Mei 2026.

Puluhan lansia penyintas Gempa Jogja 2006 duduk berjejer mengenang detik-detik bencana yang pernah meluluhlantakkan rumah, merenggut keluarga, sekaligus meninggalkan trauma mendalam dalam hidup mereka.

Namun di balik wajah penuh kenangan itu, tersimpan semangat baru untuk bangkit dan melawan rasa takut.

Salah satu penyintas, Sumirah, lansia asal Prambanan, mengaku masih sulit melupakan dahsyatnya gempa dua dekade silam.

Ia mengenang bagaimana dirinya harus berlari keluar rumah sambil menggendong cucunya di tengah reruntuhan bangunan dan kepanikan warga.

“Kalau ingat gempa dulu masih takut. Rumah roboh, tetangga banyak yang jadi korban. Tapi sekarang saya ingin belajar supaya kalau ada bencana lagi tidak panik,” ujarnya lirih sambil menahan haru.

Bagi Sumirah dan para lansia lain, kegiatan Apel Kesiapsiagaan dan Gelar Peralatan Kebencanaan bukan sekadar seremoni tahunan.

Kegiatan itu menjadi ruang penyembuhan trauma sekaligus penguat mental agar mereka lebih siap menghadapi ancaman bencana di masa depan.

“Kalau siap, setidaknya kita tidak bingung lagi saat bencana datang,” kata Sumirah sambil menggenggam tas siaga darurat yang baru diterimanya.

Kegiatan yang diinisiasi Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan tersebut menjadi bagian peringatan 20 tahun Gempa Jogja 2006 dengan mengusung tema “Mengingat untuk Siap, Bersatu untuk Selamat”.

Deputi Bidang Koordinasi Penanggulangan Bencana dan Konflik Sosial Kemenko PMK, Lilik Kurniawan menegaskan bahwa peringatan gempa harus menjadi momentum memperkuat kesadaran mitigasi bencana masyarakat.

“Ini momentum memperkuat memori kolektif bahwa kesiapan menghadapi bencana adalah kebutuhan bersama,” tegasnya.

Pemerintah juga terus memperkuat budaya siaga melalui gerakan KitaTangguh.

Asisten Deputi Pengurangan Risiko Bencana, Andre Notohamijoyo menjelaskan gerakan tersebut bertumpu pada tiga pilar utama yakni budaya tangguh, kolaborasi tangguh, dan dasbor tangguh berbasis data.

“Kita butuh sistem berbasis data agar penanganan bencana lebih presisi dan responsif,” jelas Andre di hadapan peserta apel kebencanaan.

Dalam kegiatan itu, Rumah Zakat turut menghadirkan 15 relawan kebencanaan dan 50 peserta Lansia Tangguh Bencana binaan mereka.

Kehadiran para lansia menjadi simbol bahwa kelompok rentan pun harus dilibatkan dalam sistem kesiapsiagaan nasional.

Selain menghadirkan mobil food truck layanan Pos Segar, Rumah Zakat juga membagikan tas siaga bencana berisi perlengkapan darurat dasar.

Di tengah trauma yang belum sepenuhnya hilang, para lansia penyintas Gempa Jogja kini memilih berdiri lebih kuat: melawan takut dengan kesiapsiagaan. (waw)