Pendaki Wajib Tahu, Ini Kesalahan Umum Saat Menjaga Suhu Tubuh di Gunung

JABAROKENEWS.COM, Persiapan pendakian tidak hanya berkaitan dengan kesiapan fisik dan mental, tetapi juga perlengkapan yang digunakan selama berada di alam terbuka. Namun, masih banyak pendaki, terutama pemula, yang belum memahami bahwa pemilihan pakaian dan cara menjaga suhu tubuh dapat berpengaruh besar terhadap keselamatan selama pendakian, khususnya saat menghadapi cuaca dingin ekstrem.

Dosen Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesiologi dan Terapi Intensif Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dr. Yusda Kris Sari Wijaya, Sp.An-TI., menjelaskan bahwa prinsip utama dalam mencegah hipotermia adalah menghambat hilangnya panas tubuh. Kehilangan panas dapat terjadi melalui proses konduksi, konveksi, dan radiasi yang dapat mempercepat penurunan suhu tubuh apabila tidak diantisipasi dengan baik.

“Kalau kita bicara prinsip penanganan, yang paling penting adalah menghambat kehilangan panas. Banyak orang tidak sadar bahwa pakaian basah justru mempercepat tubuh menjadi dingin. Karena itu, langkah awal yang harus dilakukan adalah mengeringkan tubuh, mengganti pakaian basah, lalu mengisolasi panas tubuh menggunakan thermal blanket atau perlengkapan serupa,” ujar dr. Yusda dalam wawancara daring, Selasa (23/6).

Menurutnya, salah satu kesalahan yang paling sering dilakukan pendaki adalah membiarkan tubuh tetap dalam kondisi lembap setelah kehujanan atau berkeringat. Kondisi tersebut mempercepat hilangnya panas karena air menghantarkan suhu dingin lebih cepat ke permukaan kulit.

Selain itu, pemilihan bahan pakaian juga menjadi faktor penting yang kerap diabaikan. Bahan katun dinilai kurang ideal untuk aktivitas pendakian karena mudah menyerap keringat dan mempertahankan kelembapan, sehingga membuat tubuh lebih cepat kehilangan panas.

“Pakaian berbahan katun menyerap keringat dan sulit cepat kering. Ketika basah, tubuh akan lebih mudah kehilangan panas. Karena itu, lebih disarankan menggunakan bahan yang mampu mengisolasi suhu dan cepat kering, seperti dry fit atau bahan sintetis lainnya yang tidak menahan kelembapan di tubuh,” jelasnya.

Untuk membantu menjaga suhu tubuh, pendaki juga dapat memanfaatkan sumber panas eksternal, seperti gel warmer atau botol berisi air hangat. Namun, penggunaannya harus disesuaikan dengan kondisi korban, terutama tingkat kesadarannya.

“Minuman hangat dapat diberikan jika korban masih sadar penuh. Namun, jika kesadarannya mulai menurun, jangan memaksakan memberi makan atau minum karena berisiko masuk ke saluran napas dan menimbulkan komplikasi lain,” tegas dr. Yusda.

Ia juga mengingatkan bahwa masih banyak pendaki yang menganggap pendakian sebagai aktivitas ringan sehingga kurang mempersiapkan perlengkapan secara optimal. Padahal, kondisi cuaca dan medan di gunung dapat berubah dengan cepat serta membutuhkan kesiapan yang memadai.

“Masih ada yang mendaki hanya dengan perlengkapan seadanya atau menggunakan pakaian yang sebenarnya diperuntukkan bagi aktivitas olahraga ringan. Padahal, kondisi di gunung sangat dinamis dan sulit diprediksi. Karena itu, perlengkapan harus disesuaikan dengan medan dan kondisi cuaca, bukan sekadar mengikuti tren atau gaya,” katanya.

Dr. Yusda menegaskan bahwa pemahaman mengenai manajemen suhu tubuh merupakan bagian penting dari keselamatan pendakian. Menurutnya, perlengkapan yang tepat, kemampuan mengenali tanda-tanda hipotermia, serta respons awal yang benar dapat mengurangi risiko kondisi darurat di gunung.

“Menikmati alam memang menyenangkan, tetapi keselamatan harus tetap menjadi prioritas utama. Pengetahuan dasar tentang hipotermia dan cara menjaga suhu tubuh bisa menjadi faktor yang menentukan keselamatan pendaki,” pungkasnya.

Sumber :Humas umy