Bahaya Vape Etomidate, Pakar Farmasi UMY: Berisiko Picu Apnea

Selasa, 22 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto dosen Farmasi UMY, apt. Puguh Novi Arsito, M.Sc.,

Foto dosen Farmasi UMY, apt. Puguh Novi Arsito, M.Sc.,

JABAROKENEWS.COM, YOGYAKARTA – Penyalahgunaan etomidate melalui rokok elektronik atau vape menjadi perhatian setelah aparat mengungkap peredaran kartrid yang mengandung obat anestesi tersebut di Indonesia. Penggunaan etomidate tanpa pengawasan medis berisiko menyebabkan gangguan kesadaran dan pernapasan, termasuk apnea atau berhentinya napas untuk sementara.

Sepanjang 2026, Badan Narkotika Nasional (BNN) mencatat penyitaan 8.276,15 mililiter etomidate dan 3.485 kartrid vape. Berdasarkan data yang dihimpun ANTARA, barang bukti tersebut berkaitan dengan 26 kasus di sejumlah wilayah Indonesia.

Kasus etomidate kembali menjadi sorotan setelah figur media sosial Julia Prastini atau Jule diamankan Satuan Reserse Narkoba Polresta Bandara Soekarno-Hatta pada Senin (14/9). Polisi menyatakan hasil pemeriksaan urine menunjukkan bahwa Jule positif mengonsumsi etomidate.

Jule tidak ditetapkan sebagai tersangka. Polisi menempatkannya sebagai pengguna atau korban penyalahgunaan untuk menjalani asesmen dan rehabilitasi melalui pendekatan keadilan restoratif. Sementara itu, tiga orang lain ditetapkan sebagai tersangka dalam jaringan peredaran kartrid tersebut.

Persoalan ini perlu mendapat perhatian karena etomidate merupakan obat anestesi yang penggunaannya membutuhkan dosis terukur dan pemantauan ketat. Penggunaan melalui vape membuat jumlah zat yang masuk ke tubuh sulit dipastikan sehingga efeknya menjadi tidak terprediksi.

Etomidate Digunakan untuk Induksi Anestesi

Pakar Farmasi Klinik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), apt. Puguh Novi Arsito, M.Sc., menjelaskan bahwa etomidate merupakan obat anestesi umum intravena. Dalam praktik medis, obat tersebut digunakan untuk menginduksi anestesi sebelum pasien menjalani operasi atau prosedur tertentu.

Etomidate dikenal memiliki onset atau awal kerja yang cepat dan durasi efek yang relatif singkat. Namun, karakteristik tersebut tidak berarti obat ini aman digunakan secara bebas di luar fasilitas pelayanan kesehatan.

“Etomidate sebenarnya merupakan obat anestesi umum intravena. Biasanya obat ini digunakan untuk induksi anestesi sebelum operasi. Efeknya relatif aman dibandingkan beberapa anestesi lain, tetapi aman dalam konteks pengawasan medis. Pemberiannya harus disertai pemantauan napas, jantung, dan kondisi pasien lainnya,” jelas Puguh kepada Humas UMY pada Selasa (22/9).

Menurutnya, keamanan obat anestesi tidak hanya ditentukan oleh jenis zat yang digunakan. Dosis, jalur pemberian, kondisi pasien, obat lain yang dikonsumsi, serta kesiapan tenaga dan peralatan medis juga menentukan tingkat keamanannya.

Dalam penggunaan medis, etomidate diberikan melalui pembuluh darah dengan dosis yang dihitung berdasarkan kondisi pasien. Tenaga kesehatan juga memantau fungsi pernapasan, tekanan darah, denyut jantung, dan tingkat kesadaran selama pemberian obat.

Kondisi tersebut sangat berbeda dengan penggunaan etomidate melalui kartrid vape ilegal. Pengguna tidak mengetahui konsentrasi etomidate, bahan pelarut, maupun zat lain yang terdapat di dalam cairan tersebut.

Berisiko Menyebabkan Gangguan Pernapasan

Etomidate bekerja pada sistem saraf pusat, terutama melalui reseptor asam _gamma-aminobutirat_ tipe A atau GABA-A di otak. Mekanisme tersebut menekan aktivitas saraf dan membuat seseorang kehilangan kesadaran dalam waktu relatif cepat.

Meskipun dalam penggunaan medis etomidate dikenal memiliki pengaruh terhadap sistem kardiovaskular yang relatif lebih ringan dibandingkan beberapa obat anestesi lain, obat ini tetap dapat menimbulkan efek samping pada sistem pernapasan.

Efek tersebut meliputi hipoventilasi atau menurunnya ventilasi paru, penyempitan jalan napas, hingga apnea. Apnea merupakan kondisi ketika seseorang berhenti bernapas untuk sementara dan tetap dapat menjadi keadaan berbahaya apabila tidak segera ditangani.

Risiko penggunaan melalui vape lebih sulit diperkirakan karena tidak tersedia kepastian mengenai konsentrasi zat dan jumlah etomidate yang masuk ke tubuh setiap kali dihirup. Ukuran aerosol, bahan pelarut, frekuensi penggunaan, serta campuran zat lain juga dapat memengaruhi dampaknya.

“Ketika efek sedasi atau kehilangan kesadaran dirasakan, dosisnya lama-kelamaan dapat dinaikkan hingga mencapai tingkat toksik. Pada kondisi tersebut, salah satu fungsi yang dapat terdampak ialah pernapasan. Meskipun efek obatnya relatif singkat, berhentinya napas selama beberapa menit sudah sangat berbahaya,” tutur Puguh.

Efek Singkat Dapat Mendorong Penggunaan Berulang

Menurut Puguh, durasi efek etomidate yang relatif singkat dapat mendorong seseorang menggunakannya secara berulang. Ketika efek sedasi mulai menghilang, pengguna berpotensi kembali menghirup zat tersebut untuk memperoleh sensasi serupa.

Penggunaan berulang meningkatkan paparan dan membuat risiko keracunan semakin sulit diperkirakan. Risiko juga dapat meningkat apabila etomidate digunakan bersama alkohol, obat penenang, atau zat lain yang sama-sama menekan sistem saraf pusat.

Selain gangguan kesadaran dan pernapasan, sejumlah laporan medis mengenai penyalahgunaan etomidate melalui rokok elektronik juga mengaitkannya dengan gangguan hormon adrenal serta penurunan kadar kalium dalam darah. Kondisi tersebut dapat menimbulkan kelemahan otot dan gangguan kesehatan lain yang memerlukan penanganan medis.

Karena itu, hilangnya kesadaran setelah menghirup etomidate tidak dapat dianggap sebagai efek rekreasional yang aman. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sistem saraf pusat telah terpengaruh oleh obat anestesi yang seharusnya digunakan dalam lingkungan medis terkendali.

Etomidate Masuk Narkotika Golongan II

Dari sisi regulasi, etomidate telah dimasukkan dalam daftar Narkotika Golongan II melalui Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 15 Tahun 2025 tentang Perubahan Penggolongan Narkotika.

Peraturan tersebut ditetapkan pada 21 November 2025 dan mulai berlaku pada 28 November 2025. Penggolongan tersebut dilakukan menyusul potensi penyalahgunaan dan bahaya etomidate terhadap kesehatan masyarakat.

Puguh mengatakan perubahan status tersebut membuat peredaran etomidate berada dalam pengawasan yang semakin ketat. Pemanfaatannya secara legal harus mengikuti ketentuan pelayanan kesehatan, sedangkan peredaran melalui jalur ilegal perlu ditindak secara serius.

“Melalui jalur legal, obat ini tidak mungkin diperoleh secara sembarangan, baik melalui apotek maupun industri bahan kimia obat. Hal yang perlu diperkuat sekarang ialah peran pemerintah, BPOM, kepolisian, dan BNN dalam mengawasi serta menindak peredaran melalui jalur ilegal,” ujarnya.

Ia mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap hilangnya kesadaran sebagai cara untuk melarikan diri dari persoalan. Penggunaan etomidate tanpa pengawasan medis dapat berkembang menjadi pemakaian berulang, peningkatan dosis, dan keracunan yang membahayakan keselamatan.

Masyarakat juga perlu berhati-hati terhadap kartrid vape dengan isi dan sumber yang tidak jelas. Apabila seseorang mengalami penurunan kesadaran, napas melambat, kesulitan bernapas, atau tidak memberikan respons setelah menggunakan zat tersebut, pertolongan medis darurat perlu segera diberikan. (GLA)

Sumber : humas umy

Berita Terkait

UMY Raih Tiga Penghargaan di KKI 2026, Kembangkan Teknologi Kapal dan Robot Bawah Air
Kesenjangan Pendampingan Disabilitas Psikososial, Mahasiswa UMY Bangun Layanan Jiwa di Siraman
Disleksia pada Anak Kerap Disalahpahami, Dosen UMY: Jangan Cap Anak Malas
Dari Kewajiban Menjadi Kesenangan, Mahasiswa Asing UMY Raih 53 Publikasi
UMY dan National United University Taiwan Perkuat Kolaborasi Internasional melalui Penandatanganan MoU
Suahasil Nazara Gantikan Purbaya, Guru Besar UMY: Pasar Menanti Arah Kebijakan Fiskal
Konflik Houthi di Laut Merah, Pakar UMY Ungkap Dampaknya bagi Harga Minyak dan Ekonomi Indonesia
PISA 2025 Indonesia, Pakar UMY Soroti Kesenjangan Kebijakan dan Praktik di Kelas

Berita Terkait

Selasa, 22 September 2026 - 13:28 WIB

Bahaya Vape Etomidate, Pakar Farmasi UMY: Berisiko Picu Apnea

Senin, 21 September 2026 - 14:30 WIB

UMY Raih Tiga Penghargaan di KKI 2026, Kembangkan Teknologi Kapal dan Robot Bawah Air

Senin, 21 September 2026 - 14:06 WIB

Kesenjangan Pendampingan Disabilitas Psikososial, Mahasiswa UMY Bangun Layanan Jiwa di Siraman

Senin, 21 September 2026 - 11:24 WIB

Disleksia pada Anak Kerap Disalahpahami, Dosen UMY: Jangan Cap Anak Malas

Kamis, 17 September 2026 - 16:47 WIB

Dari Kewajiban Menjadi Kesenangan, Mahasiswa Asing UMY Raih 53 Publikasi

Berita Terbaru