Batik Weton 2026, Ruang Edukasi dan Apresiasi Filosofi Jawa di Yogyakarta
JABAROKENEWS.COM, YOGYAKARTA — Weton tidak sekadar dimaknai sebagai hitungan hari lahir dalam tradisi Jawa, tetapi juga mengandung filosofi, karakter, dan nilai kehidupan yang mendalam. Pemahaman tersebut diangkat dalam sebuah pameran dan rangkaian kegiatan seni budaya bertajuk Batik Weton yang akan digelar di Loman Park Hotel Yogyakarta pada 14–21 Februari 2026.
Mengusung ungkapan Jawa “Weton iki ora waton”, kegiatan ini mengajak masyarakat untuk melihat weton sebagai sebuah karya budaya yang sarat makna. Melalui medium batik, filosofi hari lahir diterjemahkan ke dalam motif dan simbol visual yang merepresentasikan karakter serta perjalanan hidup manusia.
Rangkaian acara utama berupa Pameran Karya Seni Batik akan berlangsung di Lobby Loman Park Hotel Yogyakarta dan terbuka untuk umum tanpa dipungut biaya. Pameran ini menampilkan karya-karya batik yang terinspirasi dari perhitungan weton, sekaligus menjadi ruang edukasi budaya bagi masyarakat lintas generasi.
Tak hanya pameran, panitia juga menghadirkan Workshop Batik Weton bagi masyarakat yang ingin merasakan pengalaman lebih mendalam. Dalam workshop ini, peserta diajak membuat batik cap sesuai dengan weton kelahiran masing-masing, sekaligus membawa pulang karya batik hasil ciptaan sendiri.
Workshop Batik Weton akan dilaksanakan pada Sabtu, 14 Februari 2026, pukul 13.00 WIB, bertempat di Garden Loman Park Hotel Yogyakarta, dengan biaya partisipasi sebesar Rp100.000 dan kuota peserta terbatas.
Sebagai penutup rangkaian acara, akan digelar Jagongan Gayeng, sebuah diskusi santai namun sarat makna yang membahas seni, budaya, dan filosofi weton dalam konteks kehidupan modern. Diskusi ini dijadwalkan berlangsung pada pukul 16.00 WIB dan menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Cakudin selaku Ketua Lesbumi, Nurohmad, S.Sn dari Omah Kreatif Dongaji, serta dimoderatori oleh Iwan RS, sutradara dan penulis.
Penyelenggara berharap kegiatan ini dapat menjadi ruang perjumpaan antara seni, budaya, dan refleksi diri, sekaligus mengajak masyarakat untuk merayakan Hari Kasih Sayang dengan cara yang lebih bermakna, yakni mencintai dan merawat warisan budaya sendiri.
Melalui pameran dan aktivitas budaya ini, Yogyakarta kembali menegaskan perannya sebagai pusat pengembangan seni dan tradisi yang terus hidup dan relevan di tengah dinamika zaman. (Aga)

