Dosen UMY Ingatkan Risiko “Sarjana Zonk” di Era AI, Dorong Kreativitas Mahasiswa

Jumat, 30 Oktober 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy


Foto dosen Teknologi Informasi, Fakultas Teknik UMY, Dr. Ir. Dwijoko Purbohadi, M.T

Foto dosen Teknologi Informasi, Fakultas Teknik UMY, Dr. Ir. Dwijoko Purbohadi, M.T

JABAROKENEWS.COM, Yogyakarta – Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menuntut perguruan tinggi memperkuat kreativitas, kemampuan berpikir kritis, dan keterampilan pemecahan masalah mahasiswa. Penguasaan teori tetap penting, tetapi perlu disertai kemampuan menerapkan pengetahuan untuk menjawab persoalan nyata.

Dosen Teknologi Informasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) sekaligus pakar pembelajaran elektronik, Dr. Ir. Dwijoko Purbohadi, M.T., menilai perubahan tersebut perlu segera direspons. Tanpa penyesuaian pembelajaran, perguruan tinggi berisiko menghasilkan lulusan bergelar akademik yang belum memiliki kompetensi sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja.

“Tantangan perguruan tinggi saat ini bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi, melainkan memastikan proses pendidikan tetap menghasilkan lulusan yang mampu berpikir kreatif, beradaptasi, dan menciptakan solusi di tengah perubahan dunia kerja,” ujar Dwijoko dalam wawancara daring, Jumat (30/10/2026).

Ia menggunakan istilah “sarjana zonk” untuk menggambarkan risiko kesenjangan antara gelar akademik dan kompetensi lulusan. Menurutnya, risiko itu dapat meningkat apabila kampus mempertahankan pembelajaran yang hanya berorientasi pada hafalan, menolak pemanfaatan AI secara menyeluruh, atau mengabaikan kesiapan lulusan.

Pengetahuan sebagai Fondasi, Kreativitas sebagai Penggerak

Dwijoko menjelaskan, kemajuan AI membuat informasi semakin mudah diakses. Kondisi tersebut mengubah peran perguruan tinggi dalam membantu mahasiswa memperoleh, memahami, dan menggunakan pengetahuan.

Kemudahan akses informasi tidak menghilangkan pentingnya penguasaan ilmu. Pengetahuan tetap menjadi fondasi untuk memahami persoalan, memeriksa kebenaran informasi, dan menilai keluaran AI. Namun, mahasiswa juga perlu mampu mengolahnya menjadi gagasan, inovasi, dan solusi.

“Perubahan tersebut juga menuntut dosen untuk meninjau kembali metode pengajaran dan penilaian. Pembelajaran yang hanya mengukur kemampuan menghafal atau menghasilkan jawaban akhir berpotensi kehilangan relevansi ketika AI dapat membantu menyelesaikan tugas-tugas tersebut,” tegas Dwijoko.

Menurutnya, pembelajaran perlu mendorong mahasiswa menjelaskan proses memperoleh jawaban, alasan memilih suatu pendekatan, serta cara menguji dan menerapkan hasilnya.

Dengan demikian, penilaian tidak hanya berfokus pada tugas yang dikumpulkan, tetapi juga mencakup proses berpikir, pengambilan keputusan, dan kemampuan menyelesaikan persoalan secara mandiri maupun kolaboratif.

Pemanfaatan AI Harus Disertai Tanggung Jawab

Dwijoko menilai penolakan terhadap AI secara menyeluruh dapat menghambat penyesuaian pembelajaran dengan perkembangan masyarakat dan industri. Perguruan tinggi perlu mencari cara agar teknologi tersebut mendukung tujuan pendidikan.

Pemanfaatannya tetap harus disertai aturan yang jelas, termasuk mengenai etika akademik, transparansi penggunaan AI, verifikasi informasi, dan tanggung jawab mahasiswa atas pekerjaannya.

“Mahasiswa harus memahami bahwa AI merupakan alat bantu untuk memperluas kemampuan berpikir dan berkarya, bukan pengganti proses belajar. Penggunaan AI yang hanya bertujuan menghasilkan tugas secara instan justru dapat menghambat pembentukan kompetensi yang seharusnya diperoleh selama perkuliahan,” ucapnya.

Untuk itu, dosen perlu menyesuaikan desain tugas dan evaluasi. Penilaian dapat mencakup kemampuan mahasiswa membangun argumentasi, mengidentifikasi kesalahan keluaran AI, dan menerapkan pengetahuan dalam konteks nyata.

Pendekatan tersebut diharapkan membuat penggunaan AI memperdalam pembelajaran sekaligus mengembangkan kreativitas mahasiswa.

Memahami AI Berbasis Agen dan AGI

Dwijoko turut menyoroti perkembangan agentic AI atau AI berbasis agen. Sistem ini dapat dirancang untuk merencanakan langkah, menggunakan perangkat lunak, dan menjalankan rangkaian tugas untuk mencapai tujuan tertentu dengan tingkat otonomi yang dibatasi.

Sistem berbasis agen dapat memanfaatkan model bahasa besar atau large language model (LLM). Karena itu, keduanya bukan kategori yang sepenuhnya terpisah maupun tahapan perkembangan yang harus saling menggantikan.

Dalam kegiatan akademik, AI berbasis agen berpotensi membantu pencarian literatur, pengolahan data, pemrograman, dan penyusunan draf penelitian. Hasilnya tetap memerlukan pemeriksaan manusia, terutama terkait ketepatan informasi, metodologi, orisinalitas, dan integritas akademik.

Dwijoko juga membahas artificial general intelligence (AGI), yakni konsep AI dengan kemampuan kognitif umum yang luas dan dapat diterapkan pada beragam tugas.

“Meski waktu pencapaian dan bentuk kemampuan AGI masih menjadi perdebatan, arah perkembangan AI saat ini sudah cukup menjadi alasan bagi perguruan tinggi untuk menyiapkan mahasiswa menghadapi perubahan pola kerja,” tegasnya.

Menurutnya, otomatisasi tugas tertentu dapat mengubah kebutuhan kompetensi di berbagai bidang. Kemampuan memahami konteks, menilai hasil, mengambil keputusan, dan menangani persoalan yang tidak terstruktur menjadi semakin penting.

Kompetensi Lulusan Jadi Ukuran Penting

Dwijoko mengingatkan bahwa perubahan teknologi perlu diimbangi dengan pembaruan kurikulum dan metode pembelajaran. Perguruan tinggi harus memiliki mekanisme evaluasi agar proses pendidikan tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat dan industri.

Ia juga menekankan bahwa pencapaian peringkat institusi perlu berjalan beriringan dengan penguatan kompetensi mahasiswa. Kampus perlu memberi ruang bagi dosen untuk mengembangkan pembelajaran inovatif serta menyediakan pengalaman yang menghubungkan teori dengan praktik.

Pengalaman tersebut dapat diwujudkan melalui penyelesaian persoalan nyata, pengembangan portofolio, dan kegiatan kolaboratif yang melatih kemampuan beradaptasi.

“Transformasi tersebut tidak cukup dilakukan dengan menambah mata kuliah AI ke dalam kurikulum. Integrasi AI perlu disesuaikan dengan karakteristik setiap bidang ilmu, supaya mahasiswa bisa menggunakan untuk memperkuat kompetensi profesional masing-masing,” tutupnya.

Menurut Dwijoko, keberhasilan adaptasi perguruan tinggi terhadap AI perlu terlihat pada kemampuan mahasiswa untuk belajar secara mandiri, berpikir kritis, dan menciptakan solusi. Pemanfaatan teknologi harus mendukung terbentuknya lulusan yang kreatif, berintegritas, dan mampu berkontribusi kepada masyarakat. (lsi)

Sumber : Humas Umy

Berita Terkait

Lakukan Audiensi dengan Promotor Andrea Bocelli, Pemuda Muhammadiyah DIY Beberkan Hasil Klarifikasi
Belum Tembus 10 Besar Pencetak Partner Firma Hukum, FH PTMA Didorong Perkuat Daya Saing Lulusan
Nongkrong Asyik Sambil Resapi Musik: Tarumartani 1918 Cafe & Resto Gelar Rocktober
Ni Made Panti Soroti Aksi Anarkis di Malioboro, Puluhan ASN DIY Gelar Kerja Bakti Massal
UWM Pacu Akademisi Manfaatkan AI Guna Tingkatkan Daya Saing Proposal Hibah
Hujan Reda Menyambut Kibaran Merah Putih, Pemuda Depok Padukan Kebersamaan dan Semangat Perjuangan
Pemda DIY Imbau Masyarakat Rawat Kawasan Malioboro Pasca-Aksi Demonstrasi
Resmikan Gedung Baru KB UII, Bupati Sleman: Pendidikan Karakter Harus Dimulai Sejak Usia Dini

Berita Terkait

Jumat, 30 Oktober 2026 - 14:24 WIB

Lakukan Audiensi dengan Promotor Andrea Bocelli, Pemuda Muhammadiyah DIY Beberkan Hasil Klarifikasi

Jumat, 30 Oktober 2026 - 13:31 WIB

Belum Tembus 10 Besar Pencetak Partner Firma Hukum, FH PTMA Didorong Perkuat Daya Saing Lulusan

Jumat, 30 Oktober 2026 - 11:21 WIB

Dosen UMY Ingatkan Risiko “Sarjana Zonk” di Era AI, Dorong Kreativitas Mahasiswa

Kamis, 29 Oktober 2026 - 23:15 WIB

Nongkrong Asyik Sambil Resapi Musik: Tarumartani 1918 Cafe & Resto Gelar Rocktober

Kamis, 29 Oktober 2026 - 18:07 WIB

Ni Made Panti Soroti Aksi Anarkis di Malioboro, Puluhan ASN DIY Gelar Kerja Bakti Massal

Berita Terbaru