Dosen UWM: Algoritma Media Sosial Kini Ikut Membentuk Konstruksi Realitas Masyarakat
JABAROKENEWS.COM, SLEMAN – Dosen Ilmu Komunikasi UWM, Dr. Shulbi Muthi Sabila, menyoroti algoritma media sosial yang diam-diam membentuk cara masyarakat memahami realitas digital sehari-hari masyarakat.
Shulbi menyampaikan pandangan itu saat ditemui di Kampus Terpadu UWM, Kamis, ketika menjelaskan perubahan pola masyarakat mengonsumsi informasi digital secara intensif setiap hari.
Menurut Shulbi, setiap pengguna menerima tampilan informasi berbeda meski memakai platform sama, karena algoritma membaca jejak digital setiap akun pengguna secara otomatis dan personal.
“Yang muncul di layar kita bukanlah keseluruhan dunia, melainkan dunia yang telah dipilihkan untuk kita,” ujarnya saat ditemui wartawan kampus kepada publik secara luas.
Jejak tersebut mencakup riwayat pencarian, interaksi, minat, hingga kebiasaan pengguna, kemudian diproses algoritma untuk menentukan konten yang paling sering muncul setiap hari secara berkala.
Shulbi mengaitkan fenomena itu dengan teori Social Construction of Reality Peter L. Berger dan Thomas Luckmann tentang pembentukan realitas masyarakat pada era digital digital.
“Kini konstruksi realitas tidak hanya dilakukan media massa, tetapi juga platform digital melalui algoritma yang bekerja terus-menerus,” katanya saat menjelaskan fenomena tersebut secara berkelanjutan.
Menurutnya, algoritma menyeleksi, mengulang, dan mendistribusikan informasi sehingga pengalaman setiap pengguna terhadap sebuah peristiwa dapat berbeda secara signifikan di ruang digital bagi masyarakat langsung.
Shulbi juga merujuk teori New Media Lev Manovich yang menjelaskan karakter digital melalui otomatisasi, variabilitas, dan personalisasi dalam penyajian informasi kepada pengguna sehari-hari masyarakat.
“Informasi tidak lagi disajikan seragam kepada semua orang, melainkan disesuaikan dengan preferensi masing-masing individu,” katanya dalam penjelasannya tersebut saat ini secara personal bagi pengguna.
Meski terasa relevan, personalisasi berpotensi mempersempit pandangan karena pengguna lebih sering menerima informasi yang sesuai minat, keyakinan, dan kebiasaan mereka sendiri dalam keseharian digital.
Fenomena viral juga memperlihatkan Agenda Setting tetap relevan, sebab algoritma kini memperkuat isu tertentu secara personal pada setiap akun pengguna di media sosial yang.
“Sebuah isu bisa mendominasi perhatian publik ketika algoritma terus mendorongnya ke pengguna,” ujar Shulbi mengenai agenda digital yang semakin kuat di arus informasi digital.
Selain itu, framing membuat peristiwa sama dapat dimaknai berbeda, bergantung pada aspek yang ditonjolkan dalam penyajian informasi kepada masyarakat secara terus-menerus di berbagai platform.
Konten rumah estetik, tubuh ideal, karier berkembang, hingga gaya hidup tertentu turut membentuk standar masyarakat tentang kehidupan yang dianggap normal dan ideal media sosial.
“Banyak konten telah melalui seleksi, penyuntingan, bahkan rekayasa visual, sehingga tidak selalu menggambarkan kenyataan secara utuh,” tegasnya kepada wartawan di tengah masyarakat luas kini.
Shulbi berharap masyarakat semakin kritis, memahami kerja algoritma, dan menyadari bahwa literasi digital penting agar realitas layar tidak dianggap kebenaran tunggal selamanya secara kritis.(ady)

