Human Trafficking Jadi Sorotan, Kesadaran dan Pencegahan Harus Diperkuat
JABAROKENEWS.COM, Isu perdagangan manusia ( human trafficking ) dan penyelundupan migran dinilai menjadi salah satu tantangan kemanusiaan paling serius di kawasan Asia Tenggara. Persoalan tersebut menjadi sorotan dalam The 12th International Students Conference on Humanity Issues (ISCOHI) yang diselenggarakan oleh Program Magister Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Kamis (21/5), di Gedung Pascasarjana UMY.
Mengusung tema “Global Governance in Times of Crisis: Diplomacy, International Law, and International Cooperation & Aid”, konferensi internasional ini menghadirkan Prof. Dr. Mashitah Binti Hamidi dari Universiti Malaya sebagai keynote speaker. Kegiatan ini juga diikuti oleh 62 peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, Malaysia, dan Thailand.
Perdagangan Manusia Jadi Ancaman Serius Kawasan Asia Tenggara
Dalam pemaparannya, Prof. Mashitah menjelaskan bahwa persoalan migrasi tidak lagi dapat dipandang hanya sebagai isu domestik suatu negara, melainkan telah menjadi persoalan lintas batas yang membutuhkan kerja sama internasional. Menurutnya, Malaysia sebagai negara penerima pekerja migran memiliki ketergantungan yang besar terhadap tenaga kerja asing, khususnya pada sektor perkebunan, konstruksi, dan manufaktur.
“Di beberapa sektor tertentu, komposisi pekerja migran bahkan mencapai 80 persen. Pekerja asal Indonesia menjadi salah satu yang paling diapresiasi karena kemampuan adaptasi dan etos kerjanya,” ungkapnya.
Namun di balik tingginya kebutuhan tenaga kerja tersebut, Mashitah menilai terdapat celah besar yang memicu praktik perdagangan manusia dan eksploitasi tenaga kerja. Ia menyebut banyak pekerja migran yang awalnya datang secara sukarela justru terjebak dalam praktik kerja paksa setelah tiba di negara tujuan.
“Banyak korban tidak memahami hak-hak mereka. Paspor ditahan, upah dipotong, bahkan ada yang bekerja bertahun-tahun tanpa menerima gaji secara layak,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa kondisi tersebut merupakan bentuk modern slavery atau perbudakan modern yang masih terjadi hingga saat ini. Menurutnya, manusia diperlakukan sebagai komoditas dalam rantai industri migrasi ilegal.
Perempuan Migran Rentan Jadi Korban Eksploitasi
Selain itu, Mashitah juga menyoroti tingginya kasus perdagangan seksual ( sex trafficking ) yang melibatkan perempuan migran di kawasan Asia Tenggara. Ia menjelaskan bahwa praktik tersebut sering diawali dengan proses manipulasi, pendekatan emosional, hingga eksploitasi penuh terhadap korban.
“Sebagai akademisi, tugas kita bukan hanya mengajarkan teori di kelas, tetapi juga membawa bukti empiris dari lapangan bahwa persoalan ini sudah sangat mengkhawatirkan,” tegasnya.
Mashitah menilai penanganan perdagangan manusia membutuhkan kerja sama yang kuat antara negara pengirim dan negara penerima pekerja migran. Ia menyebut Indonesia dan Malaysia perlu membangun koordinasi yang lebih intensif dalam perlindungan pekerja migran.
“ It takes two to tango . Kita tidak bisa berjalan sendiri-sendiri dalam menyelesaikan persoalan ini,” ujarnya.
Selain membahas perdagangan manusia, konferensi ISCOHI 2026 juga mengangkat berbagai isu global lain seperti diplomasi digital, hukum internasional, konflik kemanusiaan, tata kelola kecerdasan buatan (AI), hingga kerja sama pembangunan berkelanjutan. Konferensi ISCOHI ke-12 ini mempertegas komitmen UMY dalam mendorong partisipasi aktif mahasiswa dan akademisi untuk merespons berbagai persoalan global melalui pendekatan kolaboratif, kritis, dan berbasis kemanusiaan.
Sumber : Humas Umy

