Menelusuri Jejak Ki Ageng Wonosobo, Pelopor Wilayah dan Penyebaran Islam

Rabu, 23 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mbah Pono Aca (72), juru kunci yang telah merawat kompleks Makam Ki Ageng Wonosobo selama 14 tahun

Mbah Pono Aca (72), juru kunci yang telah merawat kompleks Makam Ki Ageng Wonosobo selama 14 tahun

JABAROENEWS.COM, ‎Wonosobo – Makam Ki Ageng Wonosobo di Dusun Wanusaba, Plobangan, Selomerto, menyimpan jejak sejarah penting tentang tokoh pelopor wilayah dan penyebaran Islam setempat hingga kini.

‎Tokoh yang dikenal pula sebagai Ki Ageng Wanasaba itu disebut memiliki peran penting dalam membuka kawasan yang dahulu masih berupa hutan lebat hingga berkembang.

‎Mbah Pono Aca, 72 tahun, telah merawat kompleks makam tersebut selama 14 tahun dengan membersihkan kawasan dan mendampingi para peziarah setiap hari.

‎Menurut Mbah Pono, Ki Ageng Wonosobo berasal dari Grobogan dan merupakan putra Eyang Raden Bondan Kejawen yang memiliki garis keturunan Brawijaya hingga kini.

‎“Eyang Raden Bondan Kejawen sendiri merupakan keturunan Brawijaya V,” kata Mbah Pono saat menjelaskan silsilah keluarga tokoh tersebut kepada para pengunjung makam setempat.

‎Raden Bondan Kejawen disebut memiliki tiga putra, yakni Ki Ageng Wonosobo, Ki Ageng Getas Pandawa, serta seorang putri bernama Nyai Ageng Derang.

‎Mbah Pono menuturkan, perjalanan Raden Bondan Kejawen bermula ketika dirinya sempat dibuang dan kemudian diasuh Ki Buyut Masahar hingga beberapa tahun lamanya dahulu.

‎Delapan tahun kemudian, Raden Bondan Kejawen dipanggil keraton sebelum kemudian dititipkan kepada Ki Joko Tarub untuk melanjutkan perjalanan hidupnya bersama keluarga.

‎Ki Joko Tarub kemudian mengangkatnya sebagai anak sekaligus menantu setelah Raden Bondan Kejawen menikah dengan Raden Ayu Roro Nawangsih dalam keluarga tersebut.

‎Seiring waktu, masyarakat terus menghormati Ki Ageng Wonosobo melalui tradisi ziarah yang diwariskan turun-temurun hingga kini di kompleks makam tersebut oleh warga setempat.

‎Kepala Desa Plobangan Ruswanto mengatakan, pemugaran fisik dan pembangunan kawasan situs secara resmi mulai dilakukan sejak tahun 2013 oleh masyarakat setempat secara bertahap.

‎“Situs ini terbuka bagi siapa saja untuk berziarah, baik trah Brawijaya maupun masyarakat umum,” ujar Ruswanto mengenai keterbukaan kawasan makam tersebut.

‎Ziarah berlangsung setiap hari, sementara keramaian biasanya meningkat ketika bulan Ruwah dan Suro atau Muharram, menurut penjelasan pemerintah desa setempat kepada masyarakat luas.

‎Selain ziarah, kawasan makam menjadi lokasi wisata religi dan ritual tahunan, termasuk Topo Bisu yang digelar rutin setiap 23 Juli bagi warga sekitar.

‎Jejak sejarah semakin menarik karena kompleks makam menyimpan batu-batu candi yang diduga berasal dari masa klasik berdasarkan pengamatan arkeolog di lokasi.

‎Romo Wahyu Indrasana dari Dewan Etik Pusat IAAI menyebut temuan tersebut mengindikasikan kemungkinan keberadaan bangunan candi di lokasi itu dahulu kala.

‎“Batu-batu candi cukup banyak ditemukan di kompleks makam ini,” jelas Romo Wahyu, sembari menekankan perlunya penelitian arkeologis lebih lanjut untuk memastikan sejarah situs.

‎Ia memperkirakan batu tersebut berasal dari bangunan candi abad kedelapan hingga kesepuluh Masehi, meski corak Hindu atau Buddha belum dapat dipastikan secara ilmiah.

‎Di sekitar makam terdapat Sendang Sampang, mata air alami yang kerap disinggahi pengunjung sebelum melanjutkan perjalanan menuju kompleks makam utama untuk berziarah bersama.

‎Ruswanto menjelaskan, Sendang Sampang bermakna sampurnaning panguripan dan dahulu menjadi sumber air utama warga sebelum pelayanan PDAM hadir di kawasan tersebut secara bertahap.(waw)

Berita Terkait

Pasien Ambulans yang Viral Terhalang Mobil BYD Meninggal Dunia di RSUD Moewardi
Sambut HUT TNI, Kodim Wonosobo Gelar Bakti Sosial Sunatan Massal Bagi 14 Anak
Didukung Kemenbud dan LPDP, Auranala Siap Pentaskan Musik Jawa di Busan Performing Arts Festival 2026
‎WNA India Lapor Kapolres, Polisi Cek Perempuan Kudus hingga Kondusif
Lewat “Ada Aku”, Tiya Rima Sampaikan Pesan tentang Dukungan dan Tempat Pulang
Warga Pokoh Kidul Diedukasi Mahasiswa UGM soal Bahaya Penipuan Digital
Setelah 18 Tahun Absen, Slank Kembali Manggung di Purwokerto dalam Tour “Hey Slank”
Polri Kembangkan Ekosistem Pembelajaran Berbasis Teknologi dan Kebutuhan Tugas

Berita Terkait

Kamis, 24 September 2026 - 08:39 WIB

Pasien Ambulans yang Viral Terhalang Mobil BYD Meninggal Dunia di RSUD Moewardi

Rabu, 23 September 2026 - 08:35 WIB

Menelusuri Jejak Ki Ageng Wonosobo, Pelopor Wilayah dan Penyebaran Islam

Senin, 21 September 2026 - 09:22 WIB

Sambut HUT TNI, Kodim Wonosobo Gelar Bakti Sosial Sunatan Massal Bagi 14 Anak

Minggu, 20 September 2026 - 01:20 WIB

Didukung Kemenbud dan LPDP, Auranala Siap Pentaskan Musik Jawa di Busan Performing Arts Festival 2026

Jumat, 18 September 2026 - 10:50 WIB

‎WNA India Lapor Kapolres, Polisi Cek Perempuan Kudus hingga Kondusif

Berita Terbaru

Suasana hangat Bupati Bandung dan Wakil Ketua Komisi II DPR RI.

Bandung

Kebijakan LSD Bergulir, KDS Tekankan Kepastian Tata Ruang

Kamis, 24 Sep 2026 - 10:31 WIB

Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Bandung yang dihadiri anggota dewan dan jajaran pemerintah daerah di ruang sidang paripurna.

Bandung

KDS Dorong Raperda DPRD Tak Berhenti di Aspek Yuridis

Kamis, 24 Sep 2026 - 10:24 WIB