Mutu Pendidikan Jadi Penentu Utama Kualitas dan Daya Saing Perguruan Tinggi

JABAROKENEWS,COM, Yogyakarta – Status negeri atau swasta tidak semestinya menjadi satu-satunya ukuran dalam menilai kualitas sebuah perguruan tinggi. Mutu pendidikan, capaian akademik, serta kemampuan memenuhi standar nasional dan global menjadi faktor penting dalam menentukan daya saing dan kepercayaan masyarakat terhadap sebuah universitas.

Hal tersebut disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., saat memberikan sambutan secara daring dalam Masa Ta’aruf (Mataf) Mahasiswa Baru Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Tahun Akademik 2026/2027 di Sportorium UMY, Senin (7/9/2026). Kegiatan tersebut diikuti 5.021 mahasiswa baru secara luring.

Haedar mengingatkan mahasiswa baru agar tidak memandang perguruan tinggi swasta (PTS) sebagai pilihan kelas kedua. Menurutnya, capaian sebuah perguruan tinggi harus dilihat berdasarkan kualitas dan standar yang berhasil diraih, bukan semata-mata berdasarkan status kelembagaannya.

“Jangan pernah merasa bahwa kuliah di perguruan tinggi swasta berarti berada di kasta kedua. Sekarang eranya kualitas dan standar nasional maupun global. UMY berada dalam peringkat yang baik, bahkan terbaik. Karena itu, kalian harus membangun rasa percaya diri dan kebanggaan terhadap almamater tercinta ini,” ujar Haedar.

Bangun Kepercayaan Diri sebagai Mahasiswa UMY

Menurut Haedar, perkembangan UMY menunjukkan bahwa perguruan tinggi swasta memiliki kesempatan untuk membangun kualitas dan memperoleh pengakuan pada tingkat nasional maupun internasional.

Pesan tersebut memiliki konteks yang kuat dengan capaian UMY dalam sejumlah pemeringkatan internasional. Pada _QS World University Rankings_ 2027, UMY menempati posisi ke-14 secara nasional dan menjadi satu-satunya Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) yang masuk dalam pemeringkatan tersebut.

Dalam _Times Higher Education_ (THE) _World University Rankings_ 2026, UMY juga berada pada kelompok peringkat 1501+ dunia dan peringkat ke-9 di Indonesia. Indikator _International Outlook_ dan _Research Quality_ menjadi dua aspek yang menonjol dalam capaian tersebut.

Capaian tersebut, menurut Haedar, semestinya menjadi salah satu modal bagi mahasiswa untuk membangun rasa percaya diri sekaligus kebanggaan terhadap almamater.

Ia juga mengingatkan bahwa mahasiswa UMY menjadi bagian dari ekosistem pendidikan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah yang luas. Dalam sambutannya, Haedar menyebut terdapat 163 perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah dengan sekitar 700 ribu mahasiswa.

Menurutnya, lingkungan tersebut memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk tumbuh dalam tradisi pendidikan Muhammadiyah sebagai gerakan Islam modern dan berkemajuan.

Jangan Hanya Mengejar Prestasi Akademik

Haedar selanjutnya mendorong mahasiswa baru UMY agar masa perkuliahan tidak hanya digunakan untuk mengejar capaian akademik.

Perguruan tinggi, menurutnya, juga menjadi ruang untuk menempa kemampuan, membangun karakter, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta mengembangkan berbagai keahlian sesuai dengan minat masing-masing.

“Rawat, jaga, pelihara, dan tumbuhkan terus semangat untuk menjadi mahasiswa yang berprestasi. Tempalah diri dengan akhlak yang mulia dan kecerdasan, kuasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta kembangkan berbagai keahlian sesuai dengan minat yang ingin kalian wujudkan,” tegas Haedar.

Pendidikan di UMY, lanjutnya, tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan mahasiswa yang menguasai ilmu pengetahuan dan keterampilan. Kampus juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk belajar menjalani kehidupan dengan menjadikan nilai-nilai Islam sebagai landasan.

Karena itu, pengetahuan dan keahlian yang diperoleh selama menempuh pendidikan harus diarahkan untuk menghadirkan perdamaian, kemajuan, keluhuran budi, dan keadaban dalam kehidupan masyarakat.

Ilmu Harus Memberikan Manfaat

Haedar berharap proses pendidikan di UMY mampu membentuk lulusan yang tidak hanya berhasil untuk dirinya sendiri, tetapi juga memberikan manfaat bagi keluarga, masyarakat, bangsa, negara, hingga kemanusiaan.

Menurutnya, mahasiswa perlu memiliki cita-cita yang jelas dan menjadikan ilmu yang dipelajari sebagai bekal untuk memberikan kontribusi nyata setelah menyelesaikan pendidikan.

“Jadilah mahasiswa dan insan yang punya makna dalam hidup, punya cita-cita lurus, dan menjadi manusia yang diimpikan Allah. Setelah keluar dari kampus UMY, kalian akan menjadi insan yang memberi manfaat bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa, negara, bahkan kemanusiaan,” tutupnya. (gla)

Sumber: Humas Umy