Pasien BPJS Tunggu 8 Jam di IGD RSCM, Dosen UMY Soroti Patient Flow Rumah Sakit
JABAROKENEWS.COM, Yogyakarta – Kasus pasien BPJS Kesehatan yang dilaporkan sempat menunggu sekitar delapan jam di Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta, untuk mendapatkan ruang High Care Unit (HCU) kembali menyoroti persoalan alur pelayanan pasien di rumah sakit. Kementerian Kesehatan menjelaskan lamanya waktu tunggu tersebut terjadi karena pasien membutuhkan perawatan di HCU yang saat itu kapasitasnya terbatas, bukan karena pasien tidak memperoleh penanganan selama berada di IGD.
Dalam perspektif manajemen rumah sakit, kondisi ketika pasien telah diputuskan membutuhkan perawatan lanjutan tetapi belum dapat dipindahkan ke unit yang dituju dapat menunjukkan adanya hambatan dalam patient flow atau alur perpindahan pasien.
Dosen Magister Administrasi Rumah Sakit (MARS) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Elsye Maria Rosa, M.Kep., menjelaskan bahwa persoalan tersebut perlu dilihat dari perspektif manajemen rumah sakit secara menyeluruh. IGD merupakan salah satu pintu masuk utama pelayanan rumah sakit sehingga kelancaran perpindahan pasien menuju unit pelayanan berikutnya menjadi bagian penting dalam menjaga alur pelayanan.
“IGD merupakan entry point rumah sakit. Pasien yang datang melalui IGD akan dilakukan triase dan asesmen untuk menentukan apakah membutuhkan rawat inap, HCU, ICU, atau dapat dipulangkan. Masalah muncul ketika sudah ada keputusan klinis bahwa pasien membutuhkan HCU, tetapi sistem belum mampu memindahkan pasien ke level pelayanan berikutnya karena tempat tidur belum tersedia. Dalam manajemen pelayanan kesehatan, kondisi pasien yang tertahan seperti ini dikenal sebagai boarding,” jelas Elsye, Sabtu (22/8).
Menurutnya, pasien yang tertahan lama di IGD tidak hanya berdampak pada pasien tersebut. Ketika ruang dan sumber daya IGD terus digunakan oleh pasien yang seharusnya sudah berpindah ke unit lain, kapasitas IGD untuk menerima dan menangani pasien berikutnya juga dapat berkurang.
Kondisi tersebut berpotensi menciptakan efek domino. Pasien baru yang datang ke IGD dapat menghadapi antrean lebih panjang karena tempat tidur dan sumber daya yang seharusnya tersedia masih digunakan untuk pasien yang menunggu perpindahan ke unit perawatan lanjutan.
“Kalau pasien sudah membutuhkan HCU tetapi masih tertahan di IGD, persoalannya bukan hanya persoalan IGD. Itu merupakan persoalan patient flow rumah sakit. Ketika ada satu titik yang kapasitasnya lebih rendah dibandingkan kebutuhan, terjadi bottleneck dan antrean menjadi panjang. HCU yang penuh dapat membuat pasien tertahan di IGD, kemudian bed IGD ikut penuh dan pasien yang baru datang juga terdampak. Jadi, masalahnya menjadi sistemik,” ujarnya.
Fenomena tersebut dikenal dalam manajemen pelayanan rumah sakit sebagai boarding, yakni kondisi ketika pasien masih berada di IGD setelah diputuskan memerlukan perawatan lanjutan karena belum dapat dipindahkan ke unit yang sesuai. Penelitian mengenai patient flow di IGD menunjukkan bahwa keterbatasan kamar, proses pencarian dan penempatan kamar, serta menunggu pasien lain pulang dapat menjadi sumber bottleneck yang memperpanjang waktu boarding.
Patient Flow Perlu Dikelola Lintas Unit
Untuk mencegah kondisi tersebut, Elsye menilai rumah sakit membutuhkan hospital-wide patient flow management yang tidak hanya berfokus pada IGD. Pengelolaan harus mencakup keseluruhan alur pasien, mulai dari IGD, rawat inap, HCU, ICU, hingga proses transfer dan kepulangan pasien.
Rumah sakit juga perlu memiliki sistem eskalasi ketika kapasitas HCU atau ICU penuh. Dengan demikian, informasi mengenai keterbatasan tempat tidur dapat segera diikuti dengan langkah penanganan yang jelas, bukan sekadar menempatkan pasien dalam daftar tunggu.
Pengelolaan tersebut penting karena persoalan waktu tunggu di IGD dapat berasal dari berbagai tahapan pelayanan. Studi mengenai patient flow menunjukkan bahwa waktu tunggu dapat terbentuk secara kumulatif akibat proses triase, pemeriksaan diagnostik, respons dokter, ketidaksinkronan informasi ketersediaan tempat tidur, hingga proses discharge yang belum terintegrasi.
Menurut Elsye, prioritas penggunaan tempat tidur harus didasarkan pada kebutuhan klinis pasien, bukan status pembiayaan. Setiap kejadian pasien yang harus menunggu lama juga perlu dijadikan bahan evaluasi melalui quality improvement dan Root Cause Analysis (RCA) untuk menemukan titik kegagalan dalam alur pelayanan.
“Rumah sakit perlu melihat di titik mana sistem gagal mengalirkan pasien. Bisa dilakukan RCA untuk mencari akar masalahnya, kemudian dilakukan corrective action, monitoring, dan evaluasi ulang. Dengan cara itu, kejadian yang sama dapat dicegah agar tidak terus berulang,” tegas Elsye. (lsi)
Sumber : Humas Umy

