Susilo Darsono Paparkan Peluang dan Tantangan ESG di CDU Australia
JABAROKENEWS.COM, Akademisi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) terus memperluas kontribusi ilmiah di tingkat internasional. Susilo Darsono, Ph.D., dosen Program Studi Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UMY, memberikan kuliah umum kepada mahasiswa program doktor (S3) bidang keuangan di Charles Darwin University (CDU), Australia, pada 20 April 2026.
Dalam kuliah bertajuk “Green Investing in Stock Markets: Myth or Financial Opportunity?”, Dr. Susilo mengulas perkembangan investasi berkelanjutan (environmental, social, and governance/ESG) di pasar keuangan global. Ia menyampaikan bahwa nilai aset berbasis ESG kini telah melampaui US$30 triliun secara global, mencerminkan meningkatnya perhatian investor terhadap aspek keberlanjutan.
Menurutnya, green investing merupakan bagian dari spektrum investasi yang luas, mulai dari responsible investing, integrasi ESG, hingga impact investing yang berfokus pada dampak sosial dan lingkungan yang nyata.
Dalam sesi tersebut, mahasiswa doktoral diajak mendalami berbagai instrumen utama dalam ekosistem investasi berkelanjutan, seperti green bonds (obligasi hijau), ESG equity funds, dan sustainability-linked bonds. Susilo juga menekankan pentingnya pemahaman kritis terhadap performa keuangan instrumen tersebut.
Ia menjelaskan bahwa berdasarkan temuan empiris, investasi ESG memiliki tingkat ketahanan (resilience) yang relatif tinggi saat krisis. Namun, instrumen ini tidak selalu menghasilkan keuntungan (alpha) yang konsisten dibandingkan investasi konvensional, terutama dalam kondisi volatilitas harga energi atau kenaikan suku bunga.
Selain itu, Susilo menyoroti isu ketidakkonsistenan penilaian ESG antar-lembaga pemeringkat. Perbedaan metodologi kerap menghasilkan data yang bervariasi, sehingga menuntut kehati-hatian dalam analisis.
“Mahasiswa doktoral harus lebih kritis dalam memilih sumber data. Gunakan berbagai pendekatan dan dataset untuk memastikan validitas temuan penelitian,” pesannya.
Diskusi juga mencakup konteks regional Australia, di mana nilai investasi berkelanjutan telah mencapai sekitar A$1,6 triliun. Isu greenwashing serta hak masyarakat adat (indigenous rights) di wilayah Northern Territory menjadi peluang riset yang relevan bagi para peneliti.
Kegiatan ini terlaksana melalui kolaborasi dengan Prof. Rakesh Gupta dari Charles Darwin University. Inisiatif ini tidak hanya memperkuat kerja sama akademik antara UMY dan CDU, tetapi juga menunjukkan peran aktif akademisi Indonesia dalam diskursus global mengenai keuangan berkelanjutan.(LSI)
Sumber : Humas Umy

