Pakar UMY Ungkap Faktor Pemicu Blackout Sumatra yang Lumpuhkan Pasokan Listrik
JABAROKENEWS.COM, Pemadaman listrik massal (blackout) yang melumpuhkan delapan provinsi di Pulau Sumatra pada Jumat (22/05/2026) hingga Minggu (24/05/2026) lalu menyisakan evaluasi besar bagi dunia kelistrikan nasional. Peristiwa ini sekaligus mengungkap sebuah paradoks: sistem kelistrikan justru kolaps dalam waktu singkat di tengah kondisi kapasitas pembangkit yang sebenarnya surplus.
Pakar Sistem Tenaga Listrik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Ir. Rahmat Adiprasetya Al Hasibi, M.Eng., IPM., ASEAN Eng., menegaskan bahwa bencana kelistrikan berskala pulau ini bukan semata-mata akibat putusnya satu kabel transmisi. Menurutnya, insiden tersebut merupakan cerminan dari kelemahan sistemik pada desain jaringan kelistrikan yang sudah berlangsung lama.
“Gangguan yang berpusat pada saluran transmisi 275 kV di wilayah Jambi tersebut hanyalah pemicu awal (trigger). Yang mengubahnya menjadi bencana besar adalah ketidakmampuan sistem untuk mengisolasi gangguan sejak titik pertama, sehingga terjadi efek domino secara berantai,” ujar Rahmat saat memberikan keterangan pada Jumat (29/05/2026).
Efek Domino Akibat Terpecahnya Sistem
Rahmat menjelaskan bahwa ketika gangguan pada jalur transmisi utama terjadi, sistem interkoneksi Sumatra yang sebelumnya terhubung dalam satu jaringan besar mendadak terpisah menjadi pulau-pulau kecil (subsistem). Kondisi ini menciptakan ketidakseimbangan frekuensi dan tegangan yang fatal di setiap wilayah yang terisolasi.
Sebagian subsistem mengalami kelebihan pasokan karena kehilangan beban secara mendadak, sementara subsistem lainnya justru mengalami defisit karena terputus dari sumber pembangkit utama.
“Dua kondisi tersebut sama-sama berbahaya bagi stabilitas listrik. Ketika pasokan kurang, frekuensi sistem turun dan pembangkit akan keluar dari jaringan secara otomatis untuk melindungi peralatan. Sebaliknya, saat pasokan berlebih, frekuensi meningkat dan memicu mekanisme proteksi yang sama. Ini yang membuat efeknya menjalar sangat cepat ke seluruh sistem,” jelasnya.
Menyoal Kualitas Redundansi dan Cadangan Listrik
Meskipun sistem Sumatra sebenarnya telah dilengkapi jalur redundansi (jalur cadangan), bahkan memiliki dua hingga empat rangkaian transmisi pada beberapa ruas, Rahmat mempertanyakan kualitas penempatannya.
“Pertanyaannya, apakah redundansi itu benar-benar terpisah secara geografis? Kalau rangkaian cadangan itu berada di koridor fisik yang sama, satu gangguan tunggal (seperti pohon tumbang atau sambaran petir) tetap berpotensi melumpuhkan seluruh rangkaian sekaligus,” sorotnya.
Selain masalah jalur, Rahmat juga membongkar masalah kesiapan cadangan listrik ( spinning reserve ). Ia menyebutkan bahwa cadangan listrik tidak hanya soal jumlah kapasitas di atas kertas, melainkan kecepatan responsnya saat darurat.
Banyak cadangan listrik di Sumatra merupakan cadangan tidak berputar ( non-spinning reserve ) yang membutuhkan waktu lama untuk diaktifkan. Akibatnya, saat krisis terjadi pada jam beban puncak (sekitar pukul 19.00 WIB), subsistem yang terpecah tidak memiliki ketahanan mandiri untuk bertahan dalam hitungan detik. Rahmat menilai sistem proteksi saat ini masih terlalu fokus melindungi peralatan individual, bukan menghentikan penyebaran gangguan secara sistemik.
Mendesak Perubahan Paradigma PLN
Berkaca dari insiden ini, dosen Teknik Elektro UMY tersebut mendesak PT PLN (Persero) untuk segera mengubah paradigma perencanaan sistem kelistrikan nasional. Selama ini, perencanaan cenderung hanya berfokus pada kecukupan pasokan listrik secara agregat di tingkat regional, namun mengabaikan ketahanan tiap-tiap subsistem.
Rahmat merekomendasikan agar PLN segera melakukan simulasi ulang skenario gangguan besar, khususnya pada kondisi beban puncak, untuk mengidentifikasi titik-titik lemah jaringan transmisi yang belum terpetakan.
“Ke depan, perencanaan sistem tidak cukup hanya memastikan total kapasitas pembangkit mencukupi atau surplus. Ketahanan setiap subsistem juga harus diperhitungkan agar mampu beroperasi secara mandiri ketika terjadi gangguan pada jaringan utama. Jika pendekatan ini tidak diubah, risiko kejadian serupa akan tetap ada di masa mendatang,” tegas Rahmat. (lsi)
Sumber : Humas Umy

