JABAROKENEWS.COM, Yogyakarta – Kemampuan kelompok Houthi melancarkan serangan hingga menembus pertahanan udara Arab Saudi dinilai membuka babak baru perang asimetris dalam konflik Yaman. Jika Amerika Serikat (AS) terlibat secara langsung, eskalasi tersebut berpotensi berkembang menjadi perang proksi yang melibatkan kepentingan AS dan Iran.
Meski demikian, Washington dinilai akan mempertimbangkan secara matang keuntungan dan risiko keterlibatan baru di tengah perang dengan Iran yang belum berakhir.
Pandangan tersebut disampaikan dosen Program Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Idham Badruzaman, Ph.D., dalam wawancara pada Kamis (15/10/2026).
Idham menilai serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh dan kompleks Saudi Aramco di Dhahran menjadi eskalasi penting dalam konflik tersebut. Serangan itu menunjukkan kemampuan Houthi menjangkau objek vital jauh di wilayah Arab Saudi.
Menurutnya, peperangan asimetris antara koalisi pimpinan Arab Saudi dan Houthi seperti memasuki babak baru ketika kelompok tersebut mampu melancarkan serangan yang mengejutkan dan menimbulkan dampak luas.
Serangan itu merupakan bagian dari konflik berkepanjangan antara Houthi dan koalisi pimpinan Arab Saudi, yang mendukung pemerintah Yaman dalam menghadapi kelompok tersebut sejak 2015.
“Serangan terhadap Arab Saudi meningkat seiring dengan kembali menguatnya operasi militer Riyadh di Yaman. Konflik kembali memanas sejak Juli 2026 setelah beberapa tahun relatif tenang,” jelas Idham.
Serangan Houthi Berdampak Strategis bagi Arab Saudi
Menurut Idham, serangan terhadap bandara dan fasilitas energi memberikan dampak strategis bagi Houthi. Selain menimbulkan kerugian ekonomi, serangan tersebut memperlihatkan kerentanan sistem pertahanan Arab Saudi di mata masyarakat internasional.
Gangguan terhadap fasilitas penerbangan dapat memengaruhi mobilitas manusia dan kegiatan ekonomi. Sementara itu, serangan terhadap Saudi Aramco berpotensi menimbulkan kekhawatiran terhadap keamanan infrastruktur energi dan pasokan minyak dunia.
Serangkaian serangan tersebut juga menunjukkan karakter perang asimetris. Kelompok nonnegara seperti Houthi dapat memanfaatkan rudal dan pesawat nirawak untuk menghadapi negara dengan kemampuan militer dan anggaran pertahanan yang jauh lebih besar.
Keterlibatan AS Berisiko Memperluas Konflik
Idham turut menanggapi pernyataan Presiden AS Donald Trump yang membuka kemungkinan untuk mempertimbangkan respons militer terhadap Houthi.
Menurutnya, keterlibatan langsung AS berpotensi memperluas konflik karena Houthi memiliki hubungan politik dan militer yang erat dengan Iran.
“Jika Amerika Serikat turut terlibat dalam peperangan ini, konflik tersebut berpotensi berkembang menjadi perang proksi antara Iran dan Amerika Serikat melalui Houthi dan Arab Saudi,” ujarnya.
Namun, Idham menilai pemerintah AS perlu menghitung ulang manfaat dan risiko yang akan ditanggung. Perang AS dengan Iran, yang dimulai setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari 2026, belum sepenuhnya berakhir.
Berdasarkan estimasi Komando Pusat AS (CENTCOM), biaya operasi militer AS dalam perang dengan Iran telah mencapai sedikitnya 43,6 miliar dolar AS hingga awal September 2026. Angka tersebut mencakup biaya penggunaan dan penggantian persenjataan, tetapi belum memperhitungkan seluruh kerusakan fasilitas AS di kawasan. (apnews.com, washingtonpost.com)
Menurut Idham, besarnya biaya tersebut menjadi salah satu pertimbangan bagi Washington sebelum membuka front konflik baru.
Washington Masih Menimbang Respons
Sejauh ini, AS belum menyatakan akan melancarkan serangan langsung baru terhadap Houthi dalam eskalasi terkini, meskipun Arab Saudi dilaporkan menginginkan dukungan yang lebih besar.
Trump menuding Houthi kembali melancarkan serangan atas dorongan Iran dan berupaya menaikkan harga minyak menjelang pemilu sela AS pada November 2026. Ia juga mengisyaratkan bahwa Washington dapat mempertimbangkan langkah lanjutan setelah pemilu tersebut. (aljazeeranews-3fuh52rgrl.edgeone.app, in.marketscreener.com)
Idham menilai AS masih berupaya mengakhiri perang dengan Iran dengan hasil yang menguntungkan. Namun, tujuan tersebut belum sepenuhnya tercapai.
Karena itu, menurutnya, Washington kemungkinan berhati-hati agar tidak menambah beban militer dan ekonomi melalui konflik baru, terlebih karena Houthi memiliki hubungan kuat dengan Iran.
Keterlibatan langsung AS tidak hanya berpotensi memperluas medan pertempuran, tetapi juga dapat meningkatkan ketegangan regional dan memperumit upaya penyelesaian konflik Yaman. (lsi)
Sumber : Humas Umy















