Jangan Anggap Sepele Nyeri Dada, Risiko Fatal Mengintai Jika Terlambat Ditangani

Kamis, 19 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JABAROKENEWS.COM, Yogyakarta – Tenaga medis mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan diagnosis mandiri saat mengalami nyeri dada, menyusul masih banyaknya kasus salah tafsir antara gangguan asam lambung dan serangan jantung.

Keluhan nyeri dada yang disertai sensasi panas, tekanan, hingga sesak napas kerap memicu kepanikan. Namun, sebagian masyarakat justru menganggapnya sebagai “masuk angin” atau gangguan lambung biasa, lalu mengonsumsi obat tradisional maupun obat bebas tanpa pemeriksaan medis.

Platform layanan kesehatan digital Halodoc dalam sejumlah artikelnya menjelaskan bahwa gejala gastroesophageal reflux disease (GERD) memang dapat menyerupai serangan jantung karena lokasi kerongkongan dan jantung yang berdekatan.

Artikel yang ditinjau dr. Fadhli Rizal Makarim menyebutkan, nyeri dada akibat GERD umumnya terasa panas atau terbakar dan sering muncul setelah makan, terutama makanan pedas atau berlemak. Keluhan biasanya membaik setelah mengonsumsi obat penurun asam lambung.

Sebaliknya, nyeri dada akibat gangguan jantung seperti angina pektoris atau serangan jantung cenderung terasa seperti ditekan atau diremas, dapat muncul saat aktivitas fisik atau stres, serta disertai gejala lain seperti sesak napas, keringat dingin, mual, dan nyeri menjalar ke lengan kiri atau rahang.

Halodoc juga menegaskan bahwa angina pektoris merupakan kondisi serius akibat berkurangnya aliran darah ke otot jantung dan membutuhkan penanganan medis segera.

Tenaga kesehatan menilai kebiasaan menunda pemeriksaan menjadi salah satu faktor risiko fatal. Dalam kasus serangan jantung, keterlambatan penanganan dapat meningkatkan risiko komplikasi hingga kematian.

Masyarakat diminta segera mencari pertolongan medis apabila mengalami nyeri dada mendadak, berlangsung lebih dari beberapa menit, atau disertai gejala sistemik seperti sesak napas dan keringat dingin.

Pakar kesehatan menekankan, memastikan kondisi melalui pemeriksaan medis jauh lebih aman dibanding mengambil risiko dengan menebak-nebak penyebab nyeri dada. (Aga)

Berita Terkait

DLH Yogyakarta Gelar Uji Emisi Gratis, Kendaraan Dinas dan Pribadi Jadi Sasaran
GPM Yogyakarta Dorong Akses Beasiswa Kuliah, Posko Udara Dibuka untuk Warga
Dishub DIY Raih Prestasi Nasional, Chrestina Erni Widiyastuti Jadi Pembina Terbaik II
Sleman Borong Dua Penghargaan Desa Wisata DIY 2026 Lewat Garongan dan Pulesari
Sleman Creative Weeks 2026 Dorong Ekspresi Kreatif dan Pelestarian Budaya
Semarak HUT ke-81 TNI, Bazar Korem 072/Pamungkas Diserbu Seribu Warga
Perkuat Daya Saing Pasar Tradisional, Sleman Siapkan Ruang dan Peralatan Live Selling
Densus 88 Antiteror Polri Bantu Warga Kedungpoh Gunungkidul Penuhi Kebutuhan Air Bersih

Berita Terkait

Rabu, 23 September 2026 - 08:26 WIB

DLH Yogyakarta Gelar Uji Emisi Gratis, Kendaraan Dinas dan Pribadi Jadi Sasaran

Selasa, 22 September 2026 - 19:37 WIB

GPM Yogyakarta Dorong Akses Beasiswa Kuliah, Posko Udara Dibuka untuk Warga

Selasa, 22 September 2026 - 18:50 WIB

Dishub DIY Raih Prestasi Nasional, Chrestina Erni Widiyastuti Jadi Pembina Terbaik II

Selasa, 22 September 2026 - 18:43 WIB

Sleman Borong Dua Penghargaan Desa Wisata DIY 2026 Lewat Garongan dan Pulesari

Selasa, 22 September 2026 - 18:37 WIB

Sleman Creative Weeks 2026 Dorong Ekspresi Kreatif dan Pelestarian Budaya

Berita Terbaru