Aksi Nasional Mahasiswa, Pemulihan Ekonomi dan Supremasi Sipil Jadi Tuntutan Utama
Aksi tersebut merupakan kelanjutan dari demonstrasi mahasiswa yang sebelumnya berlangsung di Jakarta, Yogyakarta, dan beberapa kota lain pada Jumat (12/6/2026) serta Sabtu (13/6/2026).
Di Jakarta, mahasiswa dari Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Bung Karno (BEM UBK) menggelar aksi di Jalan Medan Merdeka Selatan sekitar pukul 14.45 WIB. Mereka menyuarakan sejumlah tuntutan, di antaranya penghentian sementara dan evaluasi menyeluruh program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta Koperasi Desa Merah Putih.
Selain itu, mahasiswa meminta pemerintah meninjau kembali Undang-Undang Kepolisian RI, menghentikan praktik militerisme di ruang sipil, menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan ketahanan ekonomi nasional, memperbaiki akses pendidikan, serta mengevaluasi kebijakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).
Dalam orasinya, mahasiswa menilai suara kritis masyarakat diperlukan untuk mengawasi jalannya pemerintahan.
“Prabowo dikelilingi oleh orang-orang yang ‘mantap pak’, ‘bagus pak’. Makanya kita di sini mahasiswa harus berfungsi sebagai agen perubahan,” ujar salah satu orator aksi.
Sebelum tiba di lokasi demonstrasi, massa BEM UBK sempat dicegat aparat kepolisian di simpang Tugu Tani, Jakarta Pusat. Polisi awalnya tidak mengizinkan massa melanjutkan perjalanan menuju kawasan Medan Merdeka Selatan.
Namun, sekitar pukul 14.35 WIB, polisi akhirnya membuka akses sehingga mahasiswa dapat meneruskan perjalanan.
Kapolres Metro Jakarta Pusat Komisaris Besar Reynold EP Hutagalung mengatakan, pembatasan pergerakan massa dilakukan karena terdapat agenda tamu negara serta untuk menjaga kelancaran lalu lintas.
“Ada tamu negara dan juga buat menciptakan rasa kondusif bagi pengguna jalan. Menyampaikan pendapat kan bisa di mana saja,” katanya.
Kepolisian mengerahkan ribuan personel untuk mengamankan rangkaian aksi. Sebanyak 5.955 personel gabungan dari Polda Metro Jaya, Polres Metro Jakarta Pusat, dan jajaran polsek disiagakan.
Di lokasi lain, kelompok mahasiswa Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka yang hendak menuju Bundaran Hotel Indonesia juga sempat dicegat polisi di kawasan Semanggi. Akibat pemblokiran jalan, arus lalu lintas dari arah selatan Semanggi sempat mengalami kepadatan.
Sebuah ambulans yang melintas bahkan sempat terjebak sebelum polisi membuka akses sementara.
Mahasiswa Uhamka kemudian bergerak menuju Gedung DPR/MPR RI dan bergabung dengan kelompok mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi.
Kritik Program Pemerintah
Di Yogyakarta, mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) menggelar aksi dengan membawa enam tuntutan utama, termasuk penghentian program MBG dan Koperasi Desa Merah Putih, penurunan harga BBM dan bahan pokok, penghentian militerisme di ranah sipil, serta perbaikan tata kelola keuangan negara.
Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Hukum UII Radhi Akbar Nabil mengatakan, kebijakan pemerintah harus dikaji ulang agar tidak menambah beban masyarakat.
“Kami menuntut penghentian program MBG dan Koperasi Desa Merah Putih,” katanya.
Menurut dia, penggunaan anggaran negara untuk program tersebut perlu dievaluasi karena dinilai belum menjawab persoalan ekonomi masyarakat lapisan bawah.
“Segala kebijakan yang mempersulit masyarakat tolong ditinjau kembali. Jangan merugikan masyarakat,” ujarnya.
Mahasiswa juga meminta pemerintah memberikan penjelasan mengenai reformasi kepolisian, memperbaiki komunikasi publik, dan menghentikan tindakan represif di ruang sipil.
Aksi Menyebar ke Berbagai Kota
Di Medan, Sumatera Utara, ratusan mahasiswa Universitas Sumatera Utara bersama sejumlah elemen masyarakat menggelar aksi bertajuk “Menuju Indonesia Gagal” di depan Gedung DPRD Sumatera Utara.
Mereka membawa isu terkait energi dan BBM, ekonomi nasional, regulasi keamanan, evaluasi MBG, anggaran pendidikan, serta persoalan lingkungan dan agraria.
Di Bandung, Jawa Barat, mahasiswa dari sejumlah kampus menggelar aksi di Gedung DPRD Jawa Barat dan kantor Bank Indonesia wilayah Jawa Barat. Aksi itu diikuti antara lain oleh BEM Universitas Widyatama, BEM Universitas Pasundan, serta Aliansi BEM Nusantara.
Sementara itu, di Semarang, Jawa Tengah, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) cabang Semarang melakukan aksi di sejumlah titik pusat kota.
Di Makassar, Sulawesi Selatan, mahasiswa HMI cabang Makassar menggelar demonstrasi di bawah Flyover Pettarani. Massa membakar ban bekas dan menutup sebagian badan jalan sambil menyampaikan tuntutan.
Mereka meminta pemerintah mengevaluasi program MBG, serta menghentikan program sekolah rakyat dan koperasi desa yang dinilai berpotensi membebani anggaran negara.
Rangkaian aksi tersebut menunjukkan meningkatnya perhatian kelompok mahasiswa terhadap arah kebijakan pemerintah, terutama terkait ekonomi, pendidikan, keamanan, dan hubungan sipil-militer. Mereka menegaskan akan kembali turun ke jalan apabila tuntutan tidak mendapat respons. (ihd)

