Dubes RI untuk Vatikan: Diplomasi Antarnegara Tak Cukup Selesaikan Konflik Berbasis Agama
JABAROKENEWS.COM, Yogyakarta – Pendekatan diplomasi konvensional antarnegara dinilai belum cukup untuk menyelesaikan konflik yang berakar pada identitas keagamaan. Lebih jauh, diplomasi antarnegara yang bersifat sekuler kerap gagal menjawab akar konflik yang bersumber dari keyakinan.
Pandangan ini disampaikan Duta Besar RI untuk Tahta Suci Vatikan, Michael Trias Kuncahyono, saat menjadi keynote speaker dalam The 10th International Conference on Sustainable Innovation (ICoSI) 2026, yang diselenggarakan oleh Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) pada Rabu (5/8). Menurutnya, pendekatan semacam itu perlu dilengkapi dengan dialog berbasis agama.
“Aktivitas diplomatik hari ini dipengaruhi konteks budaya dan agama, selain faktor politik domestik dan internasional. Karena itu, pendekatan berbasis keyakinan menjadi hal yang esensial dalam diplomasi internasional saat ini,” ujar Michael.
Ia menjelaskan bahwa diplomasi berbasis agama menempatkan pemuka dan lembaga keagamaan sebagai aktor pelengkap negara. Peran tersebut terutama terlihat saat memfasilitasi dialog dan negosiasi antarpihak yang berkonflik.
“Diplomasi sekuler antarnegara kerap gagal menyelesaikan konflik yang berakar pada keyakinan. Di satu sisi, diplomasi berbasis agama melibatkan pemuka dan lembaga agama untuk memfasilitasi dialog dan negosiasi di antara pihak yang berkonflik,” ungkapnya lagi.
Pandangan Michael sendiri tumbuh dari pengalamannya di lapangan sebagai jurnalis di zona konflik Timur Tengah, termasuk Irak pada 2003. Pengalaman meliput langsung membuatnya menilai literasi agama sama pentingnya dengan penguasaan isu keamanan dan politik bagi seorang diplomat.
Michael turut membagikan pengalamannya saat berdiskusi dengan Paus Fransiskus mengenai keberagaman di Indonesia. Ia menyebut Paus terus merujuk pada semboyan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika dalam berbagai pertemuan dengan tamu negara lain, jauh setelah kunjungannya ke Indonesia rampung.
“Saya sampaikan kepada Bapa Suci bahwa Indonesia punya lebih dari 17 ribu pulau dengan banyak agama dan ragam etnis, namun tetap bisa bersatu,” imbuh Michael.
Baginya, keberagaman Indonesia yang tetap bersatu menjadi contoh konkret bagaimana nilai kebangsaan dapat menjadi modal diplomatik di forum keagamaan dunia. Michael menegaskan bahwa tujuan pendekatan berbasis agama bukan untuk mempromosikan satu agama tertentu. Melainkan untuk membangun dunia yang lebih toleran melalui saling percaya antarumat beragama. (lsi)
Sumber : HUmas Umy

